Melalui Sinode III, KAPal Berbenah Diri: Dirumuskan Arah Dasar

413
Suasana Pembukaan Sinode III Keuskupan Agung Palembang (KAPal) di Gedung Xaverius Centrum Studiorum Palembang, dihadiri lebih dari tiga ratusan orang.
3.7/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – “BARANGKALI kita tidak perlu memikirkan jumlah umat kita yang sangat sedikit, kurang dari 1%. Sumber daya manusia juga sangat terbatas. Namun bagaimana yang sedikit itu bisa diberdayakan, barangkali itu yang harus kita cari. Kita tidak perlu mengeluhkan jarak pelayanan stasi yang terlalu jauh dari paroki, tapi memikirkan bagaimana cara menumbuhkan panggilan, agar semakin banyak pelayan kita di tempat yang terpencil,” ungkap Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang (KAPal) dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi pembuka rangkaian puncak Sinode III KAPal pada Selasa, 27/9/2022, yang lalu.

Perayaan Ekaristi Pembukaan Sinode III KAPal.

Kata Sinode berasal dari Bahasa Yunani, yaitu syn (bersama-sama) dan hodos (berjalan) dengan demikian sinode berarti berjalan bersama. Pada tanggal 27-29 September 2022 rangkaian Sinode III KAPal digelar. Sinode Keuskupan adalah sebuah persidangan (pertemuan) yang tidak permanen dari para rohaniwan dan awam dari suatu Gereja di wilayah tertentu yang diundang oleh Uskup Diosesan sebagai suatu Dewan Penasihat tentang masalah-masalah pastoral dan legislatif.

Sinode ini menjadi kesempatan untuk meneguhkan komitmen dan menyatukan gerak langkah seluruh umat untuk menghadirkan nilai-nilai kerajaan Allah di dalam Gereja dan di dalam kebersamaan di tengah masyarakat. Peserta sinode memiliki suara yang bersifat konsultatif bagi Uskup Diosesan yang memiliki wewenang utama untuk memutuskan kebijakan pastoral dan kebijakan lainnya yang berlaku di keuskupannya.

Ekaristi  yang berlangsung di Gedung Xaverius Centrum Studiorum Palembang ini dihadiri lebih dari tiga ratusan orang, terdiri dari para imam, biarawan-biarawati dan perwakilan umat.

Hadir sebagai konselebran Mgr. Aloysius Sudarso SCJ (Uskup Emeritus KAPal), Mgr. Adrianus Sunarka OFM (Uskup Pangkalpinang), dan Romo Felix Astana Atmaja SCJ (Vikjen KAPal).

Mgr. Yohanes mengajak para peserta Sinode yang berasal dari seluruh paroki di wilayah KAPal, meliputi Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu untuk berani melihat ke masa depan. Ajakan ini sejalan dengan tema Sinode III KAPal yaitu Berjalan Bersama: Semakin Beriman dan Berbuah Limpah.

Seraya mengutip pesan Injil, Mgr. Yohanes yang saat ini juga menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Tanjungkarang menyampaikan bahwa, “Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, ke masa depan. Kita juga harus mengarahkan pandangan kita ke masa depan, bukan masa lalu. Barangkali masa depan kita akan sulit, setelah pandemi, kita akan maju tertatih-tatih. Seperti Yerusalem, akan ada derita, bahkan belum sampai Yerusalem, baru sampai Samaria, Dia sudah ditolak orang. Namun Dia tidak mundur. Dia tetap melihat ke depan”.

Mgr. Yohanes menyampaikan bahwa dalam perjalanan hidup siapa pun pasti akan berjumpa dengan berbagai macam tantangan. Kendati akan berjumpa dengan aneka tantangan hendaknya kita jangan fokus akan itu. Lebih bermanfaat jika kita mengembangkan hal-hal positif, daripada hanya sibuk melihat kekurangan yang ada.

“Sebagai kawanan kecil, jika kehadiran kita ditolak, jangan minder. Kita tetap semartabat sebagai anak bangsa. Jangan sedakep tapi berpartisipasi. Mari seperti Yesus, yang tidak pernah menyerah tapi berani dan penuh semangat. Mari ikuti teladan Yesus, jangan membalas perbuatan tidak baik yang kita dapatkan. Kita ini murid Yesus, harus mengikut teladan-Nya. Sewaktu Yesus ditolak di Samaria, Dia memilih lewat jalan lain,” tuturnya.

 Membarui Diri

Slogan dalam Bahasa Latin Ecclesia semper reformanda sangat tepat menggambarkan semangat Sinode III KAPal yang menjadi wujud nyata dari Gereja yang memiliki komitmen untuk terus menerus membarui diri.

Melalui Sinode III ini para peserta diajak untuk bersama-sama mendalami, mengritisi dan memberi usulan untuk menghasilkan Arah Dasar (Ardas) KAPal yang akan menjadi pedoman selama satu dekade, yaitu tahun 2022-2032.

Adanya Pedoman Arah Dasar KAPal yang baru diharapkan sungguh menjadi acuan untuk mewujudkan wajah baru KAPal dalam rangka menyambut Yubileum 100 tahun Prefektur Apostolik Bengkulu pada tahun 2023 mendatang.

Dalam Surat Gembala Sinode III, Mgr. Yohanes menegaskan kembali ajakan Paus Fransiskus bagi kita semua umat Katolik membangun persaudaraan.  Paus dalam semangat Sinode Universal yang sudah dimulai dan saat ini sedang bergulir ini mengundang kita semua untuk berjalan bersama dalam semangat persaudaraan sejati, tanpa memandang latar belakang, karena kita semua adalah saudara satu sama lain.

Ajakan yang berlatar belakang pada pandemi Covid-19 ini termuat secara istimewa dalam Ensiklik Fratelli Tutti yang ditulis Paus untuk mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial.

Lebih jauh, ajakan untuk berjalan bersama sebagai saudara juga menjadi tanggung jawab terus menerus tanpa henti yang harus dilaksanakan oleh semua orang. Paus melalui Ensiklik Laudato Si telah lebih dahulu menegaskan dan mengajak semua orang di seluruh dunia untuk bersama-sama melakukan perubahan demi menjaga dan memastikan kelestarian bumi. Hal ini penting, karena meskipun berbeda kita semua adalah saudara yang mendiami bumi sebagai rumah kita bersama yang harus kita wariskan dengan baik kepada generasi berikut.

Mgr. Yohanes mengajarkan bahwa sesungguhnya dalam situasi apapun kita tidak mempunyai alasan untuk tidak bersaudara, apalagi sampai berbuat jahat terhadap yang lain. Yesus mengajarkan hukum yang utama adalah kasih. Dalam kasih tidak ada kejahatan, melainkan hanya ada kebaikan. Kasih bersumber pada Allah sendiri sebab Dia adalah Kasih. Ketika kita juga mengasihi kita mengungkapkan diri sebagai anak-anak Allah sekaligus sebagai manusia yang manusiawi.

Diskusi kelompok

Mgr. Yohanes menyatakan bahwa sinode ini menjadi kesempatan untuk merumuskan, menyamakan persepsi mengenai visi, misi, dan spiritualitas perjalanan Gereja KAPal selama satu dekade mendatang. Lebih dari itu, sinode diharapkan dapat mengisi spiritualitas umat. Deus Caritas est (Allah adalah Kasih) merupakan moto kegembalaan yang dihidupi oleh Mgr. Yohanes dalam menggembalakan kawanan umat Katolik KAPal.

Sesuai dengan harapan Uskup, kasih adalah predikat yang harus menjadi predikat hidup umat Katolik. Jika Allah adalah kasih, dan kita mengaku diri sebagai umat beriman, maka hanya perbuatan baik yang boleh kita lakukan dalam situasi apapun. “Kepada umat Katolik saya berharap agar tidak berpangku tangan, pasif, menjadi penonton dalam kehidupan masyarakat dan kebangsaan. Kasih tidak diam. Kasih bergerak aktif, beraksi, berpartisipasi”, tegasnya.

Lebih lanjut Islamolog ini juga menegaskan kembali tentang panggilan umat Katolik untuk menjadi garam dan terang dunia. “Kita umat Katolik adalah garam dunia yang kehadirannya dapat membawa sukacita, kenyamanan, harmonis, dan ketentraman. Terang membuat orang berjalan tanpa ragu, karena yakin sampai tujuan”, ungkapnya.

Hal senada juga menjadi harapan pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang juga turut hadir dalam gelaran Sinode III KAPal ini. “Mudah-mudahan membawa berkat kedamaian bagi umat Katolik yang hadir di sini. Semua berjalan lancar dan dapat mengayomi umat serta membawa dampak posotif kepada pemerintah dan masyarakat Sumatera Selatan, terlebih dalam menjaga keberagaman di Sumatera Selatan,” tuturnya.

 Ardas

Sinode ini menjadi upaya bersama untuk mewujudkan Ardas yang akan menjadi pedoman selama satu dekade ke depan. Berdasarkan pada tahapan pra sinode yang telah berlangsung sebelumnya mulai dari tingkat paroki, komunitas religius, kelompok kategorial dan kelompok devosional dengan beragam dinamika yang ada, akhirnya  diperoleh rumusan yang menjadi gerak bersama dari Sinode Universal.

Diperkaya dengan amanat hasil Sinode II, potret dari hasil Sinode Universal di tingkat keuskupan dan draft Ardas KAPal hasil refleksi Mgr. Yohanes sebagai gembala utama KAPal diharapkan akhirnya dapat dihasilkan sebuah rumusan potret KAPal.

Upaya untuk menghasilkan rumusan potret itu dalam bentuk Ardas KAPal yang di dalamnya termuat visi, misi dan spiritualitas tersebut didukung oleh kehadiran Mgr. Adrianus Sunarka, OFM dan Romo Stephanus Gitowiratmo, Direktur Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan-Keuskupan Agung Semarang sebagai pengamat ahli yang menyampaikan catatan sugestif dari perspektif teologis dan pastoral terhadap potret rumusan Ardas KAPal yang menjadi materi utama Sinode III.

Dari hasil pendalaman dan refleksi bersama, disadari bahwa Gereja KAPal sedang bergeliat berbenah diri untuk semakin berkembang dalam iman, harapan dan kasih.

 

Mewakili Gubernur Sumatera Selatan, R.A. Anita Noeringhati, Ketua DPRD Prop. Sumsel memukul gong tanda pembukaan Sinode III KAPal.

Selain tantangan tentang pemahamann dan penghayatan pada katolisitas, ada aneka tantangan lain yang sedang menjadi tren saat ini dan mulai dibicarakan para teolog pastoral, yakni digital ecclesiology (komunitas virtual) dengan pertanyaan, apakah perkembangan teknologi digital berdampak pada paham dan penghayatan hidup menjemaat jaman sekarang?

Visi misi yang dirumuskan akan menghasilkan suatu perubahan. Perubahan itu terwujud dalam keadaan yang lebih baik, perilaku atau integritas yang lebih baik, wawasan yang semakin luas dan dalam, dan kompetensi yang lebih unggul.

Untuk mewujudkan visi misi tersebut tentu banyak hal menjadi faktor pendukung yang harus aling melengkapi. Di antaranya adalah strategi, program kerja, sumber daya manusia dalam pastoral yang terdiri dari para religius dan kaum awam, sistem layanan pastoral dan dukungan sumber daya keuangan yang dilandasi transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan.

Dalam semangat kegembalaan Mgr. Yohanes, semoga Sinode ini, menggerakkan seluruh umat KAPal untuk bersinergi, berjalan bersama, menghadirkan wajah baru yang semakin beriman dan berbuah limpah.

Pastor Titus Jatra Kelana dari Palembang

HIDUP, Edisi No. 41, Tahun ke-76, Minggu, 9 Oktober 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here