HIDUPKATOLIK.COM— Suasana ruang pertemuan itu terasa berbeda ketika Nunsius Apostolik, Mgr. Piero Pioppo yang selama delapan tahun mewakili Bapa Suci di Indonesia berdiri di depan para uskup, imam, biarawan/ti, serta perwakilan dari setiap Keuskupan di Indonesia dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, pada Senin, 3/11/2025. Wajahnya teduh dengan suara yang membawa bobot pengalaman, persahabatan, dan cinta yang terjalin dalam delapan tahun perjalanan pastoralnya di Indonesia sebagai Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia.
“Para saudara terkasih…,” ia membuka dengan nada yang hangat. Sapaan itu ia tujukan kepada seluruh perwakilan Gereja lokal, para kardinal, uskup, otoritas sipil, biarawan-biarawati, dan umat yang hadir. Hanya tinggal beberapa hari sebelum ia mengakhiri pelayanannya sebagai Nunsius Apostolik di Indonesia, sebuah negara yang ia sebut “luhur”.
Dengan hati yang tampak bergetar, ia menyampaikan berkat paternal dari Bapa Suci Paus Leo XIV. “Karena itu saya tidak akan berbicara lama,” katanya merendah, sebelum justru mengalirkan rangkaian ungkapan terima kasih yang tulus. Ia berulang kali mengucapkan “terima kasih”, bukan satu, bukan dua, tapi berkali-kali, seolah tak cukup banyak kata untuk membalas sambutan hangat, kerja sama rendah hati, dan doa-doa yang selama ini menguatkannya.
Ia berterima kasih atas momen-momen kecil dan besar yang menegaskan misi Apostoliknya di Indonesia. Ia mengenang bagaimana dukungan umat dan para gembala menjadi penopang saat ia harus menjalankan tugas berat sebagai wakil Bapa Suci. Dan malam itu, ia berbagi bahwa dirinya sebentar lagi memulai babak baru untuk menjadi Nunsius Apostolik untuk Kerajaan Spanyol dan Kepangeranan Andora.
Tentu saja, ia menyadari betapa besar tantangan di tanah misi barunya. “Paus mengutus saya ke Gereja yang agung dan terhormat,” ujarnya. Gereja yang dalam sejarahnya telah melahirkan banyak orang kudus, misionaris, dan tokoh-tokoh rohani yang mengabarkan Injil ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Namun ia juga jujur karena kini Gereja di Eropa tengah tampak melemah dan menua. Kehadirannya diambil sebagai bagian dari upaya pembaruan yang mendalam.
Dengan jujur dan lembut, ia mengakui bahwa pengalaman delapan tahun di Indonesia akan menjadi bekalnya nanti. “Pengalaman saya di Indonesia ini pasti akan membantu saya,” ujarnya penuh keyakinan. Ia menyebut bangsa ini sebagai sumber semangat muda, antusiasme, serta hal-hal indah yang menurutnya masih dimiliki umat Indonesia “secara berlimpah” berkat rahmat Allah. Itulah warisan rohani yang akan ia bawa ke Spanyol dan Andora.
Di bagian akhir sambutannya, ia mengajak umat untuk tetap bersatu dalam doa dan karya. Bukan hanya selama beberapa hari perpisahan, tapi selamanya. “Sebab kita yakin,” katanya, “dalam persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus dan dengan perlindungan keibuan Santa Perawan Maria, Gereja-gereja lokal kita akan selalu berjalan sebagai garam dan harapan.”
Momen ini bukanlah sekadar perpisahan seorang diplomat Vatikan, melainkan perpisahan seorang sahabat yang tetap membawa Indonesia dalam hatinya.
Felicia Permata Hanggu






