spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono: Yesus adalah Air Kehidupan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 8 Maret 2026 Minggu Prapaskah III, Kel.17:3-7; Mzm.95:1-2, 6-7, 8-9; Rm.5:1-2,5-8; Yoh.4:5-42 (panjang) atau Yoh.4:5-15, 19b-26, 39a, 40-42 (singkat)

PARA ahli astronomi, yang meneliti berbagai bintang di luar angkasa belum menemukan air cair di bintang atau planet manapun seperti air yang ada di bumi kita ini. Di beberapa bulan dari beberapa planet kemungkinan ada air, tetapi dalam bentuk beku atau berwujud es (berdasarkan penjelasan Meta AI). Maka hampir dipastikan hanya di bumi kita ada kehidupan. Air menjadi syarat adanya kehidupan. Tanpa air kehidupan menjadi mustahil.

Air yang menjadi syarat kehidupan seperti itu yang membuat Israel bersungut-sungut terhadap Musa di padang gurun. Mereka marah. Israel dan ternak mereka akan segera mati jika tidak diberi minum air. Kendatipun mereka telah bebas dari perbudakan Mesir, mereka rindu kembali ke Mesir karena di Mesir ada air. Di Mesir mereka bisa hidup. Lebih baik menjadi budak tetapi hidup daripada menjadi orang merdeka namun akan segera mati.

Musa pun pasti bingung ketika mereka bersungut-sungut kepadanya. Pastilah Musa berharap mereka mengadu kepada Tuhan bukan kepada dirinya, sebab Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir (Kel. 3: 7-10; Maz. 136: 10-16). Karena itu, Musa kemudian berseru-seru kepada Tuhan. Mungkin Musa berdoa kepada Tuhan. Tetapi karena ketakutan membayangkan bahwa bangsa itu akan melempari dia dengan batu (Kel. 17: 3-4), Musa mungkin juga marah kepada Tuhan.

Baca Juga:  Klerikalisme dan Gereja yang Tak Mau Mendengar

Tuhan yang memintanya menuntun mereka keluar dari Mesir (Kel. 6: 26-27), ternyata akan membuat mereka melempari batu kepadanya, membunuhnya, dan maka dia akan mati juga. Ketakutan yang wajar, pun kalau harus marah kepada Tuhan, itu juga wajar. Kematian selalu membuat orang takut. Di awal panggilannya dia sudah tidak mau. Dalam Kel 3-4 dia bahkan mengatakan berbagai alasan. Setelah Allah meyakinkan penyertaan-Nya (Kel. 3:10-17), dan dia mau, ternyata dia akan mati sengsara. Siapa yang tidak takut dan marah?

Namun Tuhan tidak membiarkan orang pilihan-Nya mengalami kematian di tangan bangsa pilihan-Nya sendiri. Permintaan Israel akan air dipenuhi oleh Tuhan dengan menyuruh Musa memukul bukit batu. Air secara mengagumkan keluar dari bukit batu tersebut. Allah tidak pernah kekurangan cara untuk melakukan perbuatan besar dan menyelamatkan bangsa pilihan-Nya.

Dalam Injil Perempuan Samaria mencari air lahiriah seperti Israel. Namun Yesus membimbingnya untuk mengerti mengenai air rohani, air kehidupan. Berbeda dengan air lahiriah, air rohani akan memuaskan dahaga batiniah atau dahaga rohani. Air itu akan membasuh manusia dari dosa-dosanya dan akan memutus kelekatan manusia dari keduniawian. Air rohani akan menyelamatkan manusia dari kematian rohani dan menjadikannya hidup secara baru di hadirat Allah.

Air rohani atau air kehidupan adalah Yesus sendiri. Yohanes Pemandi telah menerangkan bahwa dirinya hanya membaptis dengan air (Luk.3:16). Tetapi Yesus akan membaptis dengan air dan roh (Yoh.3: 5) atau bahkan dengan roh dan api (Mat.3:11). Permandian dengan air tidak menghapuskan dosa, hanya sebagai tanda pertobatan. Permandian dengan air dan roh atau permandian dengan roh dan api akan memurnikan manusia, menghapuskan segala dosa.

Baca Juga:  Surat Paus Benediktus XVI yang Belum Pernah Dipublikasikan Memberikan Wawasan tentang Pemikiran Mendiang Paus tentang Doa

Permandian dengan air biasa juga tidak menjadikan seseorang anggota dari yang membaptis. Yohanes bahkan menyuruh murid-muridnya meninggalkan dia dan mengikuti Anak Domba (baik dibaca lengkap Yoh.1: 29-51). Permandian dengan air dan roh menjadikan yang dibaptis bagian tak terpisahkan dari yang membaptis, untuk tinggal bersama-Nya. Paulus kemudian hari menerangkan bahwa ketakterpisahan yang dibaptis dengan yang membaptis itu seumpama tubuh dengan kepalanya. Tubuh tidak akan hidup tanpa kepala. Kristus adalah kepala tubuh dan yang dibaptis adalah anggota-anggota-Nya (bdk Kol.1:18; Ef.1: 22-23). Yang dibaptis dalam Kristus adalah Tubuh Mistik Kristus. Karena Kristus hidup walaupun pernah mati, anggota atau Tubuh Mistik Kristus juga akan hidup seperti Kristus.

Kristus datang ke dunia agar tak seorang pun hilang melainkan memperoleh hidup kekal (Yoh.6:39-40). Kebaikan Kristus ini telah dilakukan bagi kita. Semua yang percaya kepada Kristus telah dikasihi oleh Kristus dengan kasih yang total. Kristus mengasihi kita bahkan ketika kita masih berdosa (Rom.5: 8). Iman kepada Kristus menjadikan kita dibenarkan oleh Kristus yang menebus kita.

Keyakinan seperti ini haruslah mengubah hidup kita dari hidup berdosa kepada hidup saleh penuh syukur, dari hidup tidak baik menjadi hidup baik. Hidup baik berarti mencintai Allah dan mencintai sesama sepenuh hati dan sepenuh jiwa raga. Dalam arti ini, hidup orang kristiani seharusnya tidak mengenal atau melakukan lagi perbuatan jahat, sebab kejahatan tidak disukai oleh Allah dan tidak juga disukai oleh sesama. Hidup Kristiani hanya harus dipenuhi dengan cinta kasih, kebaikan hati, menghormati martabat manusia dan membahagiakannya.

Baca Juga:  Paus Leo XIV: Carilah Solusi Perdamaian Tanpa Senjata

Pada kasus perempuan Samaria, pertobatan itu berlanjut menjadi panggilan misi, yakni mewartakan Yesus sebagai Sang Mesias dan Penebus. Yesus pastilah sangat berkenan atau sangat senang ketika para pengikutnya tidak kembali melakukan dosa, melainkan menjadi pewarta kebaikan Allah. Para misioneris dari dulu sampai sekarang adalah orang-orang biasa, bahkan juga mantan pendosa, tetapi yang bersemangat hidup baru dalam Tuhan dan karena itu mewartakan-Nya. Tuhan tidak merasa malu diwartakan oleh mantan pendosa. Tuhan ingin mengikutsertakan para pengikut-Nya, yakni anggota Tubuh Mistik-Nya untuk ambil bagian dalam karya penebusan-Nya. Betapa mulianya kita dihargai begitu bermartabat oleh Kristus Tuhan. Betapa kita harus berterima kasih.

Bagi orang Kristiani, Masa Prapaskah, Masa Puasa adalah juga masa pertobatan. Kita bukan hanya mengurangi makan dan konsumsi kesenangan pribadi, melainkan juga kerelaan untuk membantu sesama yang menderita. Puasa pribadi dan bela rasa kepada sesama tidak terpisahkan. Kasih kristiani haruslah kongkret dan mewujud nyata. Dengan demikian, semoga kita semua pantas menyongsong Paskah Tuhan.

Hidup baik berarti mencintai Allah dan mencintai sesama sepenuh hati dan sepenuh jiwa raga.

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.10, 8 Maret 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles