spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ancaman Digital di Depan Mata Anak

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – “Saat ini anak-anak susah sekali lepas dari hape. Hal ini harus diwaspadai karena dapat meracuni pikiran anak-anak. Ini merupakan bagian dari mendidik anak, yang menjadi salah satu tujuan Perkawinan Katolik. Mendidik anak berarti juga memikirkan masa depan anak-anak, termasuk mengakrabkan keluarga, bukan memisahkan anggota keluarga. Itu berarti perlu dicermati bagaimana menggunakan telepon seluler, termasuk media sosial.”

Pastor Paroki Santo Thomas, Pastor Ignatius Heru Wihardono menyampaikan pernyataan di atas saat membuka sarasehan bertema Anak Kita Sedang Diincar di Aula Aula Paroki Santo Thomas, Kelapa Dua, Depok, Sabtu, 7/3/2026.

Tampil sebagai pembicara Dirjen Kekomdigi, Alexander Sabar, dan Pegiat Parenting, Bernadetta Wresni Asih, dengan moderator Prof. Adrianus Meliala dari Universitas Indonesia.

Baca Juga:  Seandainya Pater Vertenten Hidup Kembali

“Era digital sekarang ini bak dua sisi mata uang,” jelas Alexander Sabar dalam paparannya. “Di satu sisi, internet meningkatkan efisiensi dan mempercepat transformasi ke sistem berbasis digital. Namun, di sisi lain, kemajuan ini juga memunculkan ancaman baru berupa berbagai bentuk kejahatan siber.”

Transformasi digital memperluas akses generasi muda terhadap ruang siber, namun juga meningkatkan kerentanan terhadap paparan berbgaai bentuk konten berbahaya, khususnya konten radikal dan pornografi. Penyebaran konten radikal dan pornografi di ruang digital tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensi menimbulkan distorsi nilai, pembentukan perilakuk menyimpang, serta risiko terhadap stabilitas sosial dan keamanan.

Membuka paparannya, Bernadetta Wresni Asih mengajukan pertanyaan, “Sudahkah kita, orangtua, menjadi ‘rumah’ yang aman untuk anak-anak?”

Baca Juga:  Para Penyintas Cancer Mendapat Doa Khusus pada Misa Novena II di Taman Doa Maria Immaculata Cangkringan

Pada kenyataannya, anak-anak yang lahir di era digital mendapatkan paparan teknologi yang meningkat pesat, namun orangtua belum siap sepenuhnya, bahkan tertinggal jauh, sehingga anak rentan terhadap pengaruh berbahaya.

Sementara, dalam Kitab Suci disebutkan bahwa anak adalah bentuk dalam Karya Keselamatan dan Penebusan. Anak sebagai bagian yang akan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan.

Perubahan yang besar dan cepat akibat kemajuan teknologi, realitanya mengubah cara kita hidup, bekerja, belajar, dan berinteraksi. Maka tak heran, bila anak-anak masa kini sudah memiliki dunia dalam genggaman mereka, dengan informasi tanpa batas, termasuk media sosial, yang pada akhirnya membentuk cara berpikir baru, bahkan ‘mengalahkan’ nasihat orangtua.

Baca Juga:  "Gerakan Rumah Bela Rasa Caritas": Pulihkan Martabat Penyintas Banjir Sumatra

Lalu, bagaimana menyikapinya? Bernadetta Wresni Asih i menyarankan, Gereja membuka ruang seluas-luasnya dalam menghadirkan anak-anak.  Gereja menjadi ‘rumah’ yang aman bagi anak-anak. Bila anak-anak dihargai, dengan demikian tidak akan mudah terpengaruh oleh bahaya dunia digital

Laporan Liest Pranowo (Depok)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles