HIDUPKATOLIK.COM – BAGI banyak orang di luar Merauke, nama Petrus Vertenten tentu tidak dikenal. Dia adalah satu-satunya misionaris Tarekat Hati Kudus (MSC) yang mendapat gelar Amai (Bapa) oleh Bangsa (bukan suku!) Marind-Anim yang merupakan bangsa terbesar di Papua Selatan dan hari ini sedang digusur oleh proyek raksasa bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) Pangan dan Energi. Proyek ini dimulai oleh Presiden Jokowi dan digencarkan oleh Presiden Prabowo dengan ambisi menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan energi dunia.
Ancaman Kepunahan
Mengapa Pater Vertenten begitu dikenal oleh Bangsa Marind? Peninggalan terbesar Vertenten bukanlah sebuah gedung gereja megah, bukan sekolah elit, bukan pula rumah sakit skala internasional, melainkan sebuah tindak penyelamatan Bangsa Marind dari ancaman kepunahan. Ancaman itu berupa penyakit menular seksual, granuloma inguinale atau donovanosis, yang secara ganas menyerang Bangsa Marind pada 1914. Wabah ini diselidiki secara teliti oleh John Richens, epidemiolog Inggris, dalam bukunya Tik Merauke (Penyakit dari Merauke). Penyakit itu ditularkan oleh para pedagang burung Cenderawasih yang datang dari luar Papua.
Tidak hanya itu, Pater Vertenten melakukan langkah serupa ketika penyakit Flu Spanyol (mirip dengan COVID zaman ini) menyerang Bangsa Marind pada 1918.
Dalam bukunya Headhunters from the Swamps: The Marind Anim of New Guinea as seen by the Missionaries of the Sacred Heart (2010), Antropolog Belanda, Raymond Corbey mencatat kekaguman Pater Vertenten pada Orang Kaya-Kaya (Marind) sejak hari pertama menginjakkan kaki di Tanah Marind pada 1910. “Mereka manusia yang tulus, makhluk yang cerdas, dengan bahasa yang ceria, sastra tak tertulis, dan penghargaaan atas apa yang baik dan indah, yang hidup sebagai petani yang menggarap kebunnya di tengah kelimpahan kekayaan alam yang menjamin kehidupan mereka.”
Artinya, sekitar 100 tahun yang lalu Bangsa Marind hidup ceria, menikmati alam yang indah, karena alam itulah yang menjamin kehidupan mereka. Ini semua bukan mitos atau romantisme masa lalu. Bangsa Marind juga bukan bangsa yang primitif, terbelakang, terpencil seperti penggolongan dan cap-cap yang disematkan kepada mereka 100 tahun kemudian.
Misionaris sezaman dengan Vertenten juga mencatat kesaksian serupa. Pater Henrikus Nollen, MSC yang bekerja di antara mereka pada kurun waktu 1905-1910, melaporkan, “Orang-orang itu sungguh baik hati, suka bicara, dan mencari tahu juga.”
Sementara itu Pater Jos van de Kolk MSC (1910-1915) melukiskan “Orang-orang yang kasar dan buas ini adalah orang-orang yang mudah bergaul secara tulus…Orang Marind sejati mudah bergaul, ceria, suka humor, dan menjalani hidupnya dengan tertawa…Mereka suka ngeprank, menertawakan, memisahkan sisi-sisi mereka saat selamat dari celaka, tertawa terbahak-bahak saat seseorang terlihat lucu…mereka suka memberi julukan”
Pastor Eduard Cappers MSC (1906-1909) mencatat: “Sungguh mengagumkan bagaimana mereka membuka mata lebar-lebar pada seluruh aspek alam. Mereka sungguh menikmatinya dan menyuarakan kekagumannya, atas kebun kelapa yang berlimpah, kawanan burung-burung, matahari yang terbenam”
Kesaksian-kesaksian yang tersimpan rapi di arsip perpustakaan biara MSC di Tilburg, Belanda, ini menjadi bukti-bukti yang sahih betapa Bangsa Marind di Papua Selatan sudah makmur dan tidak membutuhkan proyek-proyek pangan dan energi apalagi skala raksasa seperti PSN. Hutan mereka adalah sebuah kesatuan antara supermarket, rumah sakit, tempat ibadah, playground, ruang suami-istri, dan tempat wisata sehingga ketika hutan mereka dirusak apalagi dihapuskan dari peta dunia, hidup mereka pasti terancam. Itulah yang sedang mereka hadapi.
Menurut catatan Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, PSN telah dan sedang memusnahkan sistem kehidupan Bangsa Papua Selatan dengan membinasakan hutan seluas 1,7 juta hektar yang setara dengan 25,7 kali luas Kota Jakarta. Proses itu berada 4.700 km jauhnya dari Jakarta sehingga tidak pernah menjadi viral bagi publik nasional. Namun penting dicatat proses pemusnahan ini belum selesai dan masih akan berlanjut karena pemerintahan Prabowo menargetkan 2 juta hektar lahan yang dipersepsi sebagai tanah kosong.
Penyelamatan Bangsa Marind
Pada 12 Januari 2026, Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid tanpa berunding dengan Bangsa-bangsa Papua Selatan menerbitkan Surat Keputusan Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB) seluas 328.000 hektar (setara dengan 4 kali luas Jakarta), dengan dalil untuk memastikan ketersediaan lahan sekaligus kepastian hukum hak atas tanah bagi pengembang Kawasan Swasembada Pangan, Energi dan Air Nasional di Provinsi Papua Selatan. Luasan HGU dan HGB tersebut diberikan kepada PT Agrinas Pangan Nusantara yang nota bene sudah gagal dalam megaproyek serupa di Kalimantan.
Bangsa-bangsa Papua Selatan hari ini menghadapi ancaman kepunahan yang jauh lebih besar daripada ancaman penyakit Donovanosis atau Flu Spanyol. Seandainya Pater Vertenten bangkit kembali tentu dia akan melakukan advokasi di tingkat nasional dan melobi para politisi Jakarta tanpa kenal lelah. Dia juga akan menulis kajian dan opini di berbagai media massa nasional untuk menginformasikan ke publik situasi yang mencekam di Papua Selatan seperti tulisannya yang menggugat nurani di De Java-Post, 27 Juni 1919, “Nieuw-Guinea-Selatan Sekarat”.
Semasa hidupnya di Tanah Marind, Pater Vertenten dengan teguh dan jernih menjalankannya sebagai misi penyelamatan Gereja yang kini meredup di Papua Selatan. Dia sangat sadar bahwa penyelamatan Bangsa Marind tidak cukup hanya dengan mengobati penyakit donovanosis tetapi dengan mengubah kebijakan pemerintah Belanda dengan cara menyakinkan pejabat negara untuk membuat kebijakan yang menjawab masalah di lapangan, berorientasi pada kemanusiaan, dan dijalankan dengan tepat waktu.
Karenanya, tanpa ragu dia melobi Volksraad (Dewan Rakyat) di Batavia (kini Jakarta) dan Tweede Kamer Parlemen Belanda untuk membuat kebijakan penanganan penyakit donovanosis dengan program “Kampung Teladan” dan berhasil. Nada dasar Pater Vertenten selalu kekaguman dan kecintaan pada Bangsa Marind yang berujung pada aksi raksasa penyelamatan mereka secara struktural dan praksis lapangan.
Menurut Harry van Royen, Pater Vertenten menulis 201 laporan etnografis Orang Marind sebelum berpindah tugas ke Kongo, Afrika. Dia merupakan misionaris MSC yang menghasilkan catatan lapangan terbanyak yang menjadi bahan kajian sejarawan, antropolog, dan para peneliti tentang Marind hari ini.
Tentu Pater Vertenten tidak akan bangkit kembali untuk dapat membela bangsa-bangsa di Papua Selatan yang hari ini diancam oleh PSN. Dia tidak akan bisa lagi bersuara atas nama Gereja untuk melindungi Bangsa-bangsa di Papua Selatan yang tak kenal lelah melawan aliansi oligarki, militer, dan korporasi yang merampas hidup mereka tanpa malu-malu. Pater Vertenten juga tidak bisa lagi membela Umat Tuhan yang ditangkap di halaman Gereja Katedral Merauke hanya karena meminta perlindungan dari Gereja.
Hari ini nama Pater Vertenten diabadikan dalam Perkumpulan Petrus Vertenten MSC Papua (PPVC) di Kota Merauke di bawah naungan tarekat MSC di Papua Selatan. Harry Woersok, Direktur Vertenten, menafsirkan visi Vertenten, “Saya membaca strategi Vertenten dengan Sekolah Kampung dan Kampung Teladannya itu adalah langkah strategis bagi Gereja untuk membangun kesadaran orang-orang kampung. Menurut saya, kami di Vertenten sadar akan jalan pikiran Vertenten dan para konfrater MSC zaman itu. Dengan Sekolah Kampung yang kami laksanakan dan bekerja sama dengan pemerintah kampung, itu merupakan bagian menghadirkan Gereja lebih dekat dengan orang kampung karena jika kita tidak ada di kampung-kampung, maka nanti yang masuk itu elemen kekuasaan yang dikooptasi korporasi. Perkumpulan Vertenten mengorganisir masyarakat kampung dan dalam jangka panjang, memang kami tidak terlalu sibuk dengan macam-macam teori yang bikin pusing orang kampung saja.”
Bangsa-bangsa Papua Selatan hari ini menghadapi ancaman kepunahan yang jauh lebih besar daripada ancaman penyakit Donovanosis atau Flu Spanyol.
Budi Hernawan, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 09, Minggu, 1 Maret 2026










