HIDUPKATOLIK.COM – Siapa yang tak pernah mendengar nama Paus Fransiskus? Akan tetapi, mungkin tak banyak yang tahu bahwa pemimpin umat Katolik sedunia itu lahir dari rahim kelas pekerja imigran Italia di Buenos Aires, Argentina. Segregasi sosial yang membelenggu Amerika Latin menjadikan anak kelimabelas dari lima bersaudara ini hidup dalam satu kata. Perjuangan.
Ayahnya, Mario José Bergoglio, adalah seorang akuntan yang merantau dari Italia. Ibunya, Regina María Sívori, ibu rumah tangga biasa. Namun, begitulah hidup. Ketika kemiskinan struktural telah mengakar, hal-hal substansial dalam aspek apa pun barang tentu mengalami ketelantaran.
Jorge Mario Bergoglio kecil tumbuh di lingkungan Flores, sebuah kawasan kelas menengah yang tak mewah. Ia lulus sebagai teknisi kimia dari sekolah teknik menengah Escuela Técnica Industrial N° 27 Hipólito Yrigoyen. Untuk membiayai studinya, ia bekerja sebagai penjaga pintu klub malam, petugas kebersihan, asisten laboratorium.
Kita boleh saja menganggap masa lalunya biasa saja atau pun tak berwibawa. Akan tetapi, Argentina memang kala itu hidup dalam romantisme ekonomi dan politik yang carut-marut. Jurang antara yang kaya dan miskin, yang berkuasa dan yang tersisih, sangat dalam terasa.
Pada usia 21 tahun, ia menderita pneumonia parah yang menyebabkan sebagian paru-paru kanannya harus diangkat. Di sinilah, Bergoglio menemukan “panggilan” hidupnya berlatarkan situasi keterbatasan fisik yang kontradiktif dengan semangat jiwanya. Menariknya, justru dari titik paling rapuh itu ia merasakan kehendak untuk mengabdi. Ia bergabung dengan Serikat Yesus pada 11 Maret 1958, ditahbiskan menjadi imam pada 13 Desember 1969.
Tak pelak, pendidikan dan spiritualitas Yesuit itulah yang menggiringnya pada gaya kepemimpinan kontemplatif namun membumi. Syahdan, ia pun menjadi Uskup Agung Buenos Aires pada 1998, diangkat menjadi Kardinal pada 2001, hingga terpilih sebagai Paus pada 13 Maret 2013 menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri.
Ia mencatatkan sejarah sebagai Paus pertama dari benua Amerika, Paus pertama dari luar Eropa dalam lebih dari seribu tahun, serta imam Yesuit pertama yang memimpin Gereja Katolik. Moto kepausannya, Miserando atque eligendo, yang berarti rendah hati dan terpilih karena kasih setia Tuhan.
Tentu, ada begitu banyak cerita berkenaan dengan Paus Fransiskus. Pengalaman-pengalaman, lika-liku perjuangan hidupnya memberikan kenangan bermakna bagi umat Katolik khususnya, dan masyarakat dunia umumnya. Ini tentang bertahan dan mengabdi. Juga tentang bangun dari himpitan ketidakadilan dan berjuang untuk tegar berdiri.

Kisah Paus Fransiskus memang tak pernah tuntas. Ada miliaran orang yang tetap setia mendengar dan mengamalkan ajarannya. Kebijakan-kebijakan reformasi yang selalu lahir dari konteks sosial tertentu merupakan ajaran serentak peletup semangat untuk senantiasa berbelas kasih dari keterpurukan. Selalu saja terdapat pesan yang hendak disampaikan sang peziarah, begitu ia kerap disapa dalam kalangan awam.
Sekali lagi, perjuangan kemanusiaan adalah kata kunci utama untuk mengeksplanasi keseluruhan perjalanan hidup sang Paus. Seperti yang sudah dikatakan, ia sudah merasakan panggilan itu sejak muda. Diskriminasi kelas dan keterbatasan fisik yang berujung pada distorsi sosial lainnya juga membuatnya berjuang untuk bisa menemukan diri.
Namun sekali lagi, belas kasih menginspirasinya. Paus Fransiskus melihat pelayanan sebagai agama paling nyata baginya, terlepas dari anutan sebagai pemimpin Gereja Katolik.
Tatkala filosof Ludwig Feuerbach mengatakan bahwa agama adalah produk manusia yang teralienasi, sebuah produk yang mana manusia kemudian kehilangan kontrol atasnya, dapat dikatakan bahwa pelayanan bagi Paus Fransiskus bukanlah pelarian dari rasa tertekan dan tertindas. Pelayanan bagi prius sekolah teknik kimia ini adalah perjuangan itu sendiri. Hal nyata yang bisa bermakna bagi banyak orang. Kebijakan-kebijakan awalnya semasa menjadi uskup di Buenos Aires merupakan refleksi atas bengisnya kemiskinan perkotaan.
Ia dikenal sebagai “pastor jalanan” yang langsung menyentuh masyarakat bawah. Tradisi makan bersama sejak 2017 dengan menetapkan Hari Orang Miskin Sedunia, rutin makan siang bersama ribuan tunawisma serta penyandang disabilitas di Vatikan. Atau, kunjungan ke penjara pada Kamis Putih untuk membasuh kaki para narapidana, termasuk narapidana perempuan, sebagai simbol pelayanan yang merendahkan hati. Ada pun kunjungan pertamanya sebagai Paus ke Pulau Lampedusa, gerbang pengungsi Afrika ke Eropa, yang berisikan hiburan dan penguatan kepada para migran akibat kehilangan harga diri, keluarga, dan tanah air.
Tak jarang, seruan-seruan Paus Fransiskus pun mengusung ajakan revolusioner, semisal kritik terhadap kebijakan anti-imigran yang ia sebut sebagai tugas peradaban, dan berbagai seruan dalam ensiklik Laudato Si’ yang menghubungkan krisis lingkungan dengan krisis kemanusiaan.
Selain itu, Paus Fransiskus lewat karya-karyanya turut menyerukan semangat perdamaian bagi dunia. Dengan ritual membasuh kaki, menundukkan badan, dan merangkul yang terbuang, ia menghipnotis semua penontonnya larut dalam setiap makna tindakannya. Rasa cinta pada kemanusiaan universal itu menghentaknya terlibat dalam dialog lintas iman.
Aksi dramatis nan menyentuh pun disajikan. Bersama Imam Besar Al-Azhar, ia menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia pada 2019, lalu di Irak ia menjadi Paus pertama yang mengunjungi negeri itu untuk memperbaiki hubungan antara umat Kristiani dan Muslim. Sungguh luar biasa momen tersebut. Dokumen Persaudaraan Manusia itu sendiri pun menjadi semacam himne kemanusiaan internasional yang melampaui sekat suku, agama, dan ras. Ia juga berperan aktif mendorong perdamaian di Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah, Ukraina, dan secara vokal mengutuk perang di Gaza sebagai terorisme serta mendesak bantuan kemanusiaan segera bagi warga sipil.
Hal lain yang ingin disuarakan Sang Peziarah ialah soal cinta terhadap integritas bumi. Pada prinsipnya, semua ciptaan itu sama, setara, dan sederajat. Oleh sebab itu, manusia bukanlah tuan yang bisa mengeksploitasi alam begitu saja. Ensiklik Laudato Si’ menjadi salah satu daya kobar yang paling khas dengan jargonnya tentang pertobatan ekologis, mengajak dunia menjaga bumi sebagai rumah bersama karena kerusakan alam berdampak paling buruk pada kaum miskin.

Artinya, Paus Fransiskus sangat mendukung gerakan ekologi manusia, tidak hanya di Vatikan tetapi juga di seluruh dunia, untuk bisa lepas dari setrapan konsumerisme dan eksploitasi lingkungan. Paus Fransiskus sadar bahwa dirinya berasal dari keluarga imigran yang seringkali diperlakukan secara tidak adil. Makanya, ia ingin mengangkat harkat dan martabat kaumnya.
Inspirasi dari Santo Fransiskus dari Assisi, seorang tokoh yang mengajarkan kesederhanaan dan cinta pada alam, sangat memengaruhi diri Paus Fransiskus. Sehingga tidaklah mengherankan kalau kebijakan-kebijakannya seringkali dijadikan sebagai sabda-sabda kemanusiaan universal.
Pada September 2024, di usia 88 tahun, Paus Fransiskus melakukan perjalanan apostolik terpanjangnya sejauh 32.814 kilometer yang mencakup Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Di Jakarta, ia menekankan pentingnya kerukunan melalui kunjungan simbolis ke Terowongan Silaturahmi di Masjid Istiqlal. Sebagai bentuk nyata ajaran beliau di Indonesia, Keuskupan Agung Jakarta meluncurkan Gerakan Belarasa untuk mengajak masyarakat lintas agama peduli pada yang terpinggirkan melalui program pendidikan, bantuan sosial, dan aksi solidaritas lainnya.
Demikianlah beberapa poin seputar Paus Fransiskus dan perjuangan kemanusiaannya. Paus Fransiskus boleh jadi merupakan seorang peziarah. Namun, hidupnya tak abadi. Ia wafat pada 21 April 2025. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam bagi umat Katolik dan para pencinta perdamaian umumnya. Akan tetapi, ajarannya selalu terngiang kekal dalam keseharian hidup penggemarnya.
Kisah-kisah perjuangan dan keberpihakannya kepada kaum pinggiran semestinya menjadi motivasi untuk siapa saja. Keberanian menyuarakan kaum tak bersuara lewat tindakan nyata adalah ekspresi positif yang pantas diapresiasi. Memang harus diakui juga bahwa hidupnya tak mulus-mulus amat. Keterbatasan fisik karena paru-paru yang tersisa, kecaman dari kalangan konservatif, hingga tantangan reformasi internal Gereja adalah semacam warna lain dari lika-liku hidupnya.
Namun, filosofi perjuangan pada tataran yang lebih ekstensif adalah harga yang tak dapat dibayar. Sehingga miris saja apabila orang yang seringkali mendaku pengagum Paus Fransiskus hanya tahu bagaimana berkoar sana-sini dengan simbol religiositas tanpa punya kepedulian sosial terhadap realitas hidup.
Sekali lagi, kisah tentang Paus Fransiskus takkan tuntas. Sebab sesungguhnya, ia hanya mengulang apa yang telah Yesus mulai dua ribu tahun lalu di tanah Galilea: membasuh kaki yang kotor, merangkul yang terbuang, dan mengatakan bahwa kerajaan Allah milik orang miskin.
Paus Fransiskus bukanlah terang itu sendiri, melainkan cermin yang memantulkan wajah Yesus yang rendah hati dan tak pernah berhenti mengasihi. Dan cermin itu, meski telah pecah bersama jasadnya yang dikembalikan ke debu, tetap memancarkan sinar bagi siapa saja yang mau melihat.
Maka, mengenang satu tahun kepergiannya bukanlah sekadar menangisi kehilangan. Melainkan bertanya pada diri masing-masing: sudahkah kita membasuh kaki saudara kita yang terluka? Sudahkah kita membuka pintu bagi pengungsi yang ketakutan? Sudahkah kita, seperti Yesus di kayu salib, masih mampu mengampuni ketika dunia membalas kebaikan dengan kebencian?

Kisah Paus Fransiskus takkan tuntas karena ia menyerahkan tongkat estafet kepada kita semua. Tentu, dengan cara kita masing-masing. Sebab Yesus tak pernah berhenti menjelma dalam daging, dan kini Ia meminjam tangan, kaki, dan hati kita untuk melanjutkan pekerjaan belas kasih.
Barangkali, di akhir zaman nanti, Sang Peziarah yang telah pergi itu akan tersenyum mendengar Sabda yang sama: Miserando atque eligendo — dikasihani dan dipilih, bukan karena jasa, melainkan karena cinta yang tak pernah habis. Selain bangga mengenang mottonya, tentu saja kita dipanggil untuk menghidupi teladan Yesus yang menjadi pusat dan akhir dari setiap perjuangan sejati.
Fr. Yohanes Daga, lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.






