spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Perjalanan Paus ke Afrika: Iman Menembus Batas Aman

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Perjalanan apostolik Paus Leo XIV ke Afrika selama sebelas hari sejak pertengahan April menempatkan perhatian publik internasional pada rangkaian kunjungan tersebut. Agenda ini berlangsung dalam konteks dinamika global yang diwarnai ketegangan sosial, politik, dan keagamaan di berbagai kawasan.

Kunjungan ini memperlihatkan pola kehadiran pemimpin Gereja Katolik di ruang-ruang yang memiliki keragaman agama serta riwayat konflik, sekaligus memuat pertemuan dengan pemimpin negara, tokoh agama, dan komunitas lokal. Dalam kerangka itu, perjalanan ini tidak berhenti pada bentuk kunjungan kenegaraan, melainkan bergerak sebagai bagian dari praktik diplomasi Vatikan yang menempatkan dialog antaragama, relasi antarnegara, dan keterlibatan langsung dalam realitas sosial sebagai bidang perjumpaan yang terus dijalankan.

Paus berpamitan kepada Presiden Kamerun

Melalui kunjungan ini, Paus Leo XIV menempatkan iman dalam kerangka kehadiran yang tidak dibatasi oleh ruang yang aman dari ketegangan. Dalam banyak konteks, agama kerap berfungsi sebagai penanda identitas yang menjaga jarak, bukan sebagai medium yang membuka kemungkinan perjumpaan.

Di Aljazair, rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bentuk konkret dari pendekatan itu. Sebuah negara dengan sejarah panjang kolonialisme, dinamika politik internal, dan pengawasan ketat terhadap ruang publik, tiba-tiba menjadi panggung bagi seorang pemimpin Katolik yang datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menganyam pengertian. Ia bertemu Abdelmadjid Tebboune, menjejakkan kaki di Maqam Echahid, dan melangkah masuk ke Masjid Agung Aljazair tanpa membawa superioritas yang biasa dilekatkan pada institusi besar seperti Vatikan.

Namun, tentu saja, dunia tidak pernah sesederhana narasi damai yang disusun rapi dalam pidato resmi. Ledakan bom di Blida, hanya selemparan jarak dari pusat pemerintahan, memperlihatkan bahwa situasi keamanan tetap menjadi variabel yang menyertai setiap pergerakan di ruang publik. Namun, Paus Leo XIV tetap melanjutkan kunjungan ke Annaba dan menjejak Hippo Regius, sebuah situs yang memiliki makna historis dalam tradisi Kekristenan awal. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa ketakutan tidak boleh menjadi bahasa utama umat manusia.

Baca Juga:  Mengenang Satu Tahun Kepergian Paus Fransiskus
Berfoto bersama pemimpin Muslim di Aljazair.

Barangkali di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar. Dunia modern tampak semakin lihai mengemas konflik sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Orang berbicara tentang stabilitas sambil merawat kecurigaan. Orang mengutip ayat-ayat suci, tetapi pada saat yang sama menutup pintu bagi dialog. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan identitas partikular imannya sebagai alat untuk memproduksi musuh baru. Maka, ketika seorang paus berdiri di hadapan imam besar di sebuah masjid dan memilih percakapan alih-alih klaim kebenaran, tindakan itu terasa asing, seakan tidak sejalan dengan kebiasaan zaman ini.

Akan tetapi, keasingan itu justru membuka celah refleksi. Jangan-jangan yang selama ini dianggap wajar memang telah menyimpang terlalu jauh. Bahwa permusuhan dianggap lumrah, sementara perjumpaan diperlakukan sebagai pengecualian. Dalam keadaan seperti itu, perjalanan lintas negara yang menyentuh empat negeri dan sebelas kota tidak lagi dapat dibaca sebagai agenda diplomatik biasa, melainkan upaya merawat kemungkinan bahwa manusia masih bisa saling menyapa tanpa prasangka.

Tidak bisa diabaikan pula bahwa kunjungan ini berlangsung dalam lanskap global yang sedang tegang. Konflik antarnegara, retorika politik yang membatu dan menggertak, serta ketidakpercayaan antarkelompok agama menjadi latar yang sulit diingkari. Dalam situasi seperti itu, seruan damai sering terdengar seperti suara yang tenggelam di tengah riuh kepentingan. Namun, justru karena itulah suara itu perlu terus digaungkan, meski berulang kali diabaikan.

Baca Juga:  Peringatan Seratus Tahun Paus Benediktus XVI: Inisiatif untuk Mengenang Joseph Ratzinger

Sebagian orang mungkin akan menganggap langkah ini sebagai idealisme yang naif. Mereka yang terbiasa melihat dunia melalui kalkulasi kekuasaan tentu akan bertanya apa hasil konkret dari kunjungan semacam ini. Apakah dialog benar-benar mampu meredam konflik? Apakah kehadiran simbolik bisa mengubah struktur ketidakadilan yang sudah mengakar? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak keliru, tetapi juga tidak cukup. Sebab tidak semua hal yang penting dapat diukur dengan hasil yang segera terlihat. Ada tindakan-tindakan yang bekerja perlahan, mengendap dalam kesadaran kolektif, lalu suatu hari mengubah cara orang memandang sesamanya. Kehadiran seorang pemimpin agama di tengah komunitas kecil yang sering terabaikan, misalnya, mungkin tidak mengubah peta politik global. Namun bagi mereka yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan, itu bisa menjadi penegasan bahwa mereka tidak sendirian.

Lebih jauh lagi, perjalanan ini menyingkap satu ironi yang kerap luput disadari. Banyak orang berbicara tentang iman, tetapi enggan mengambil risiko yang dituntut oleh iman itu sendiri. Mereka lebih suka tinggal di zona nyaman keyakinannya, sambil mengutuk dunia yang dianggap rusak. Padahal, jika iman hanya berhenti pada pengakuan lisan tanpa keberanian untuk hadir di tengah luka, maka ia tak lebih dari ornamen moral yang kehilangan daya hidupnya. Maka, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan sebuah kunjungan apostolik, melainkan cara kita memahami peran agama di ruang publik. Apakah agama akan terus menjadi alat legitimasi bagi prasangka, ataukah ia berani menjadi jembatan yang menghubungkan mereka yang selama ini dipisahkan oleh ketakutan?

Baca Juga:  Bagaimana Memaknai Perjuangan Kartini Masa Kini

Pada akhirnya, perjalanan ini tidak menuntut decak kagum, melainkan kejujuran. Kejujuran untuk mengakui bahwa dunia memang sedang rapuh, tetapi juga belum sepenuhnya kehilangan harapan. Kejujuran untuk melihat bahwa perdamaian tidak lahir dari retorika kosong, melainkan dari keberanian untuk hadir, mendengar, dan berbicara tanpa niat mengalahkan.

Sebagian dari lansia yang menyambut Paus.

Jika masih ada yang tersisa dari semua ini, mungkin itu adalah satu dorongan sederhana. Bahwa sebelum menunjuk dunia sebagai sumber kekacauan, setiap orang perlu menata cara berpikirnya sendiri. Sebab dari sanalah segala tindakan bermula. Dan jika pikiran dibiarkan dipenuhi kebencian yang tak diuji, maka tak ada perjalanan sejauh apa pun yang mampu membawa manusia keluar dari lingkaran yang sama.

Karena itu, alih-alih sibuk mengukur langkah orang lain, barangkali lebih baik memastikan satu hal yang paling dekat. Apakah yang kita pelihara di dalam kepala masih layak disebut sebagai akal budi, atau justru telah berubah menjadi tempat pembuangan bagi segala prasangka yang kita rawat tanpa malu.

Fr.  Yohanes Daga, lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles