spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Menjaga Api Kemanusiaan di Tengah Riuh Genderang Perang

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Ada satu ironi yang tak pernah lekang dalam sejarah manusia. Semakin tinggi peradaban dibangun, semakin lihai pula cara manusia merancang kehancuran bagi sesamanya. Di tengah gegap gempita klaim kemajuan, akal budi justru kerap terjungkal ke dalam kubangan primitivisme yang dibungkus jargon politik dan nasionalisme. Maka tidak mengherankan jika setiap seruan damai hari ini terdengar seperti bisikan lirih di tengah pasar yang gaduh oleh transaksi kekuasaan.

Di titik inilah Gereja, melalui suara Paus Leo XIV, mengambil posisi yang tidak populer sekaligus tidak tergantikan. Ia berdiri di antara bara konflik, bukan untuk meniupnya menjadi api, melainkan untuk meredamnya menjadi abu kesadaran. Sebab bagi Gereja, perdamaian tidak berhenti pada siasat diplomasi, melainkan mandat eksistensial yang berakar dari Injil itu sendiri.

Namun, dunia yang sudah terlalu lama mabuk oleh logika kekuatan tampaknya alergi terhadap suara seperti ini. Ketika seruan damai dilontarkan, ia tidak disambut dengan refleksi, melainkan dengan cemooh. Ketika ajakan dialog dikumandangkan, ia justru dipersepsi sebagai kelemahan. Seolah-olah dalam tata dunia yang bengkok ini, hanya mereka yang mengacungkan senjata yang layak disebut rasional, sementara mereka yang mengulurkan tangan dianggap naif.

Perseteruan antara Donald Trump dan Paus Leo XIV menjelma cermin buram dari zaman yang gamang ini. Ketika ancaman terhadap Iran dilontarkan dengan nada penuh determinasi, Paus justru mengingatkan bahwa perang selalu merupakan kekalahan bagi kemanusiaan. Sebuah pernyataan yang sederhana, namun dalam kesederhanaannya justru menampar keras kesombongan zaman.

Baca Juga:  Bagaimana Memaknai Perjuangan Kartini Masa Kini

Akan tetapi, barangkali benar bahwa manusia modern lebih mudah memahami bahasa ledakan dibandingkan bahasa belas kasih. Retorika perang terasa lebih “maskulin”, lebih “tegas”, lebih “meyakinkan” bagi mereka yang telah lama kehilangan kepekaan nurani. Maka ketika Paus menyerukan agar para pemimpin dunia kembali ke meja dialog, seruan itu tidak dilihat sebagai kebijaksanaan, melainkan sebagai gangguan terhadap ambisi geopolitik.

Di sinilah kita patut bertanya: apakah dunia benar-benar sedang mencari perdamaian, atau hanya mencari pembenaran untuk terus berperang? Sebab jika diperhatikan dengan jernih, konflik bukan lagi sekadar benturan kepentingan, melainkan manifestasi dari kegagalan berpikir. Manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai subjek yang bermartabat, melainkan sebagai objek yang bisa dinegosiasikan, dikorbankan, bahkan dihapuskan. Dalam kondisi seperti ini, perang bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan konsekuensi logis dari nalar yang telah rusak.

Paus Leo XIV, dalam hal ini, tidak sedang menawarkan solusi teknis. Ia tidak berbicara tentang strategi militer, aliansi politik, atau kalkulasi ekonomi. Ia berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: kemanusiaan itu sendiri. Bahwa tidak ada kepentingan nasional yang lebih tinggi daripada kehidupan manusia. Bahwa tidak ada kemenangan yang layak dirayakan di atas puing-puing tubuh yang hancur.

Namun, seruan seperti ini kerap terdengar seperti suara yang berseru di padang gurun. Dunia lebih cepat bereaksi terhadap ancaman daripada terhadap kebijaksanaan. Media sosial menjadi panggung bagi arogansi, bukan ruang bagi refleksi. Bahkan simbol-simbol kesucian pun tak luput dari banalitas, direduksi menjadi komoditas pencitraan yang dangkal dan profan.

Baca Juga:  Para Uskup di Tanah Suci Mengeluarkan "Kecaman Tanpa Syarat" terhadap Sebuah Foto yang Menunjukkan Seorang Tentara Israel Menghancurkan Patung Yesus di Lebanon

Lebih tragis lagi, agama yang semestinya merentangkan jalan damai justru kerap diseret masuk ke gelanggang konflik. Orang-orang dengan mudah mengatasnamakan Tuhan untuk membenarkan kebencian, seolah-olah Yang Ilahi membutuhkan pembelaan manusia untuk menghancurkan manusia lain. Dalam lanskap seperti ini, seruan Paus agar agama hadir sebagai jembatan yang menghubungkan, bukan sekat yang memisahkan, tampak sederhana pada permukaan, namun justru terkandung kekuatan reflektif yang mendasar. Ia menggugat kesadaran yang telah membeku, membuka kembali kemungkinan bagi rasionalitas yang dialogis, dan menuntun manusia untuk mengakui yang lain sebagai subjek yang setara, bukan sebagai objek yang harus disingkirkan.

Maka persoalan sesungguhnya bukan terletak pada perbedaan ideologi, agama, atau kepentingan politik. Persoalan terletak pada tumpulnya kesadaran moral dan mandeknya daya refleksi. Manusia lebih sibuk mempertahankan posisi daripada mencari kebenaran. Lebih cepat menghakimi daripada memahami. Lebih mudah membenci daripada berdialog.

Dan di tengah semua itu, Gereja memilih untuk tetap bersuara. Bukan karena ia naif terhadap realitas dunia, tetapi justru karena ia memahami betapa rapuhnya dunia tanpa suara moral. Sebab jika semua pihak hanya berbicara dalam bahasa kekuatan, maka tidak akan ada lagi ruang bagi kemanusiaan untuk bernapas. Dunia akan berubah menjadi arena di mana yang kuat menelan yang lemah, dan keadilan menjadi sekadar ilusi yang diperdagangkan.

Baca Juga:  Mengenang Satu Tahun Kepergian Paus Fransiskus

Paus Leo XIV mengingatkan bahwa perdamaian tidak lahir dari dominasi, melainkan dari keadilan. Bahwa dialog bukan tanda kelemahan, melainkan ekspresi tertinggi dari kedewasaan. Dan bahwa keberanian sejati bukanlah kemampuan untuk menghancurkan, melainkan kemampuan untuk menahan diri.

Pada akhirnya, kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang sederhana namun menentukan.  Apakah kita ingin terus hidup dalam peradaban yang memuja kekuatan, atau mulai membangun peradaban yang menghormati kehidupan? Sebab selama manusia masih menempatkan ambisi di atas nurani, selama itu pula perang akan selalu menemukan jalannya. Dan selama suara-suara seperti Paus Leo XIV terus diabaikan, selama itu pula dunia akan berjalan menuju kehancurannya dengan penuh percaya diri.

Maka, jika kita masih memiliki sedikit saja kejernihan berpikir, barangkali sudah saatnya kita berhenti memuja mereka yang pandai berperang, dan mulai mendengarkan mereka yang berani menyerukan damai.  Sebab bisa jadi, masa depan dunia tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat menekan pelatuk, melainkan oleh siapa yang masih cukup waras untuk menahan tangannya.  Dan di tengah dunia yang gemar menaruh akal sehatnya di tempat sampah, suara Gereja hari ini adalah pengingat sederhana namun mendesak: bahwa menjadi manusia jauh lebih penting daripada menjadi pemenang.

Fr. Yohanes Daga, lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles