HIDUPKATOLIK.COM – Dunia pendidikan, khususnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), tengah menghadapi tantangan baru seiring masuknya Generasi Alpha. Mereka yang tergolong Generasi Alpha lahir antara tahun 2010 hingga pertengahan 2020. Generasi ini adalah kelompok pertama yang tumbuh berdampingan dengan kecerdasan buatan atau yang kita kenal dengan istilah AI, sejak dalam buaian. Generasi ini lahir bersamaan dengan rilisnya iPad generasi pertama dan meledaknya TikTok, membuat mereka lebih mahir mengoperasikan layar sentuh daripada menggenggam pensil.
Bagi mereka, tidak ada batasan antara dunia nyata dan virtual. Namun, integrasi digital yang total ini membawa konsekuensi serius, yakni: menormalisasi bahasa “toxic” (kasar) sebagai dialek sehari-hari.
Saat “Toxic” Menjadi Identitas
Di kantin, ruang tunggu, lapangan, hingga kolom komentar media sosial, kata-kata kasar kini seolah menjadi “bumbu” wajib dalam percakapan. Bagi Generasi Alpha, batasan antara ekspresi diri dan ketidaksantunan kian kabur.
Di sekolah, kami telah berupaya mengintegrasikan materi etika berinternet dalam setiap mata pelajaran, mengadakan diskusi, hingga menerapkan sanksi unik bagi mereka yang kedapatan bicara kasar, yaitu memakan biji mahoni yang pahit.
Ada pemandangan menarik sekaligus miris: saat berada di lingkungan SMP, sebagian besar siswa sebenarnya paham aturan tersebut. Beberapa siswa yang “keceplosan” akan langsung sadar diri mengambil biji mahoni, sementara yang lain perlu diingatkan temannya. Namun, segala upaya ini terkadang terasa semu. Di bawah arus tren yang deras, mereka sering kali “lupa diri” dan kembali terjebak dalam pola bahasa yang sama.
Medan Perang Melawan Pengaruh Layar
Bagi guru SMP, ruang kelas kini bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan medan perang untuk melawan pengaruh negatif media sosial. Tantangan terbesarnya adalah memberi pemahaman kepada Generasi Alpha bahwa bicara toxic tidak keren dan tidak penting.
Di dunia digital, Generasi Alpha terbiasa berkomunikasi tanpa sekat. Saat masuk ke sekolah, mereka sering lupa bahwa lingkungan pendidikan bukanlah arena game online. Penggunaan kata-kata slang atau umpatan yang dianggap “biasa” di TikTok atau Discord terbawa begitu saja ke dalam interaksi tatap muka dengan warga sekolah.
Normalisasi sebagai Bentuk Solidaritas
Bagi banyak siswa, bahasa kasar bukan lagi tanda amarah, melainkan simbol solidaritas kelompok. Siswa yang menolak berbicara toxic sering kali dianggap “cupu” atau tidak asik. Para siswa melihat figur idola atau influencer yang viral justru karena perilaku kasar, sehingga bicara tanpa filter dianggap sebagai bentuk kejujuran atau keberanian.
Tanpa filter kognitif yang matang, mereka gagal membedakan mana konten hiburan dan mana etika berkomunikasi di kehidupan nyata. Akibatnya, nilai-nilai kesantunan tradisional mulai dianggap kuno dan perlahan tapi pasti diabaikan oleh mereka.
Hilangnya Kesadaran Konteks
Satu hal yang paling memprihatinkan adalah hilangnya rasa hormat terhadap tempat dan lawan bicara. Akibat terlalu terbiasa dengan anonimitas di media sosial, banyak siswa kehilangan kesadaran konteks. Mereka tidak lagi memedulikan apakah mereka sedang di ruang kelas, di depan guru, atau di tempat umum. Bahasa kasar seolah telah menjadi “seragam” yang mereka kenakan di mana saja.
Minimnya literasi digital membuat siswa tidak sadar bahwa apa yang mereka ketik atau ucapkan memiliki konsekuensi nyata. Guru pun sering kali harus menjadi “petugas pemadam kebakaran” yang memberikan pertolongan pertama ketika konflik di grup WhatsApp kelas merembet menjadi pertengkaran di sekolah.
Peran Guru dan Orang Tua: Sebuah Sinergi
Tugas guru bukan hanya mengembangkan Potensi Kognitif saja, tetapi juga membimbing siswa agar tidak kehilangan jati diri dan etika. Kita harus menanamkan adab di tengah gempuran tren agar Generasi Alpha tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga beradab secara moral.
Namun, perjuangan guru akan terasa seperti “menulis di atas air” jika lingkungan rumah tidak memperjuangkan nilai baik yang sama. Tantangan menjadi kian berat ketika orang tua terlalu sibuk atau kurang memahami dunia digital anak, sehingga menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada sekolah. Dibutuhkan kerja sama yang erat antara sekolah dan rumah untuk memastikan bahwa filter karakter anak tetap kuat, meski arus informasi mengalir tanpa batas.

Florentina Dwi Utaminingtyas





