HIDUPKATOLIK.COM – Yayasan Kemanusiaan Taekwondo memberikan kesempatan kepada 8 atlet muda untuk berpartisipasi dalam Grand Prix Taekwondo Dunia 2026 di Roma pada bulan Juni ini, serta kesempatan untuk bertemu Paus Leo XIV.
Seperti dilansir Vatican News, dari tanggal 4 hingga 7 Juni, Roma akan menjadi tuan rumah Grand Prix Taekwondo Dunia 2026. Di antara mereka yang hadir adalah 8 atlet muda berusia sekitar 10 tahun dari Kamp Pengungsi Azraq di Yordania, yang saat ini menampung sekitar 60.000 orang.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, anak-anak ini akan memiliki kesempatan untuk meninggalkan kamp pengungsi, berkat inisiatif dari Yayasan Kemanusiaan Taekwondo, dengan dukungan dari Federasi Taekwondo Italia.
Kelompok ini akan berpartisipasi dalam turnamen “Kim dan Liù”—yang diselenggarakan sebagai bagian dari Grand Prix Taekwondo Dunia 2026—yang akan memungkinkan anak-anak untuk berkompetisi di tempat dan ruang yang sama dengan para juara dunia yang memperebutkan gelar Grand Prix dan kualifikasi untuk Olimpiade Musim Panas Los Angeles 2028.
Sebagai bagian dari kunjungan mereka di Roma, kelompok atlet anak-anak ini juga akan dapat bertemu dengan Paus Leo XIV dan mengunjungi kota serta situs budaya dan sejarahnya.
Yayasan Kemanusiaan Taekwondo bekerja sama dengan Federasi Taekwondo Internasional (yang di dalamnya terdapat Athletica Vaticana—organisasi dan asosiasi olahraga resmi Takhta Suci), untuk membantu pengungsi dan orang-orang yang terlantar di seluruh dunia melalui taekwondo dan alat pendidikan lainnya. Melalui inisiatif mereka, mereka mempromosikan pemberdayaan, perdamaian, keberlanjutan, dan nilai-nilai Olimpiade.
Ekspresi nyata nilai-nilai Olimpiade
“Pengumuman partisipasi anak-anak tersebut memicu emosi yang mendalam dan langsung: ketidakpercayaan, antusiasme, dan antisipasi yang semakin meningkat yang menyertai setiap hari menjelang keberangkatan mereka,” tulis Angelo Cito, Presiden Federasi Taekwondo Italia, dalam edisi Italia L’Osservatore Romano.
“Inisiatif ini mewakili ekspresi nyata nilai-nilai Olimpiade, yang tidak bisa hanya sekadar dinyatakan tetapi harus dipraktikkan melalui tindakan nyata,” katanya.
“Ini berarti bekerja serius, turun tangan langsung dalam konteks yang paling rentan, dan berkontribusi untuk meningkatkan kondisi kehidupan—terutama bagi anak-anak, yang seringkali paling terdampak oleh perang dan diskriminasi.”
Bapak Cito menjelaskan bahwa proyek Yayasan Kemanusiaan Taekwondo, yang merayakan ulang tahun ke-10 tahun ini, telah menawarkan prospek baru bagi ribuan anak muda dan keluarga mereka. Selain di Yordania, Yayasan ini juga memiliki proyek serupa di Rwanda dan Turki.
“Pengalaman lapangan, seperti yang terjadi di Yordania, membuktikan tekad luar biasa dari anak laki-laki dan perempuan yang menyadari tantangan yang mereka hadapi tetapi sama-sama berkomitmen untuk belajar dan berlatih olahraga untuk membangun masa depan yang lebih baik,” tegas Bapak Cito.
“Di era yang ditandai dengan meningkatnya ketidaksetaraan dan konflik yang terus-menerus, olahraga masih dapat berfungsi sebagai ruang untuk koneksi dan pemberdayaan,” simpul Bapak Cito.
“Taekwondo, dengan disiplin dan nilainya, menawarkan pelajaran yang jelas saat ini: kesuksesan sejati bukan hanya tentang berdiri di podium, tetapi tentang memberi seseorang, di mana pun di dunia, kesempatan untuk akhirnya melakukannya.”





