HIDUPKATOLIK.COM – “Saya mendorong kalian untuk menjadi nabi-nabi perdamaian dan persatuan di tengah dunia yang terus-menerus saling memecah-belah dan memprovokasi satu sama lain. Jalan dialog tentu saja penuh dengan tantangan, tetapi dia akan menghasilkan buah yang berharga yaitu perdamaian,” ujar Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Adrianus Sunarko, OFM mengutip pernyataan Paus Leo XIV saat homili pada perayaan ekaristi pembukaan pertemuan Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Regio Sumatera di Hotel Soll Marina, Bangka, Selasa (20 Oktober 2026) sore.
Pertemuan yang diawali dengan perayaan ekaristi itu dipimpin seleberan utama Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM didampingi konselebran Uskup Agung Palembang Mgr Yohanes Harun Yuwono dan beberapa imam tuan rumah serta imam yang berkarya di Komisi Kerawam regio Sumatera. Sebanyak 16 perwakilan Komisi Kerawam Regio Sumatera masing-masing terdiri dari Komisi Kerawam Keuskupan Agung Palembang, Tanjungkarang, Medan, Padang, Sibolga dan Pangkalpinang.

Foto : HIDUP/Caroline Fennie
Terpisah, Ketua Komisi Kerawam KWI sekaligus adalah Ketua Komisi Kerawam Regio Sumatera, Mgr Yohanes Harun Yuwono dalam sambutannya berpendapat bahwa kaderisasi bukan hanya terkait dengan dunia politik dan kehidupan sosial kemasyarakatan, tetapi terhadap semua sektor kehidupan.
“Kita sudah lama bangga dengan orang-orang Katolik, entah di dunia olahraga, seni, budaya atau di dunia sosial, tetapi juga di dunia politik. Dunia politik adalah salah satu dari sektor kehidupan kita, karena itu saya berharap kaderisasi itu mencakup semua sektor. Kalau mungkin temukanlah orang-orang yang mempunyai kualitas, bermutu, bisa diorbitkan untuk menasional atau menginternasional,” pesan Mgr Yuwono.
Ia mengimbuhkan, “Kawanan kecil bukan berarti bahwa kita harus minder, kawanan kecil justru harus menjadi garam atau seperti terang. Kalau mungkin marilah kita temukan generasi muda kita untuk bisa mengharumkan nama gereja maupun bangsa.”
Sementara Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI, Romo Johanes Jeharut saat menjadi pembicara bertema “Dinamika Politik Indonesia Terkini dan Tantangan Demokrasi ke Depan” berbicarara tentang kondisi Indonesia terkini seperti kasus karhutla, pengangkatan wantimpres, kelangkaan BBM, undang-undang pemilu dan isu-isu Indonesia saat ini, yang mana sebagian cukup sensitif untuk menjadi konsumsi publik.
“Berbicara kerasulan awam, dalam bahasa gereja kita berbicara menjadi terang dan garam. Sesuatu yang pasti tidak mudah. Kadang-kadang ketika kita sendirian, kita tidak dianggap apa-apa. Tetapi juga resiko-resiko yang harus kita pikul ketika kita berani konsisten memperjuangkan kebaikan, memperjuangkan kebenaran, apapun tantangan yang kita hadapi,” tutur Romo Hans (sapaan akrab Pastor Johanes Jeharut) memantik diskusi Selasa petang.

Foto : HIDUP/Caroline Fennie
Tampak hadir pada deretan tamu undangan, Ketua Pengadilan Tinggi Bangka Belitung, Artha Theresia Silalahi, anggota DPD RI perwakilan Bangka Belitung, Bahar Buasan, anggota DPRD Provinsi Babel Me Hoa, Pembimas Katolik Kementrian Agama Bangka Belitung Gregorius Herry Prasojo, serta perwakilan pejabat, polisi, RT-RW, ASN dan ormas Katolik.
Caroline Fennie (Pangkalpinang)






