spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

KETIKA BUMI TERLUKA DAN PERSAUDARAAN RETAK

HUDUPKATOLIK.COM – Matahari baru saja menampakkan diri. Lorong-lorong seminari mulai ramai. Para seminaris berangkat ke sekolah, sementara para staf menjalankan tugas masing-masing. Semuanya berlangsung seperti biasa. Namun, di salah satu sudut lapangan, sampah plastik berserakan. Sebagian masuk ke selokan dan terbawa air hujan menuju sungai. Tidak jauh dari sana, seekor anjing mengais tong sampah untuk mencari sisa makanan yang tidak lagi dianggap berguna oleh manusia.

Pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang langka. Kita terlalu sering melihatnya hingga akhirnya terbiasa. Sampah berserakan, selokan kotor, sungai tercemar, dan hewan mencari makan dari sisa buangan manusia seolah menjadi bagian biasa dari kehidupan. Padahal, jika berhenti sejenak, ada pertanyaan besar di balik pemandangan sederhana tersebut: bagaimana manusia memperlakukan bumi dan sesamanya?

Paus Fransiskus

Pertanyaan ini semakin relevan ketika dunia menghadapi krisis ekologis, kemiskinan, ketimpangan sosial, konflik, dan budaya hidup yang semakin individualistis. Teknologi berkembang pesat. Komunikasi semakin mudah. Kita bahkan dapat berbicara dengan seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan untuk saling terhubung tidak selalu membuat manusia semakin dekat.

Dalam situasi ini, dua ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si’ dan Fratelli Tutti, menjadi sangat relevan. Laudato Si’ (2015) berbicara tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama, sedangkan Fratelli Tutti (2020) mengajak manusia membangun persaudaraan dan persahabatan sosial.

Sekilas, keduanya membahas persoalan berbeda. Yang satu berbicara tentang lingkungan, sedangkan yang lain tentang hubungan antarmanusia. Namun, keduanya bertemu dalam satu pertanyaan: bagaimana kita hidup bersama di rumah yang sama?

Ketika Rumah Bersama Terluka

Laudato Si’ merupakan ungkapan yang diambil dari Kidung Saudara Matahari karya Santo Fransiskus dari Assisi. Judul ini menunjukkan cara pandang yang khas terhadap alam. Bumi bukanlah objek yang dapat dimanfaatkan sesuka hati, melainkan bagian dari ciptaan Allah yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia. Kita membutuhkan air, tanah, makanan, energi, dan berbagai sumber daya lainnya. Persoalan muncul ketika kebutuhan berubah menjadi keserakahan dan pemanfaatan menjadi eksploitasi.

Kita sering mengukur kemajuan berdasarkan banyaknya hal yang dapat dihasilkan dan dimiliki. Semakin banyak barang diproduksi, semakin tinggi konsumsi, dan semakin cepat teknologi berkembang, kita menganggap diri semakin maju. Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: maju untuk siapa dan dengan mengorbankan apa? Apa gunanya pembangunan jika sungai yang menjadi sumber air masyarakat justru tercemar? Apa artinya kemajuan jika hutan dihancurkan dan masyarakat yang bergantung padanya kehilangan sumber penghidupan?

Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral dan sosial. Saat sungai tercemar, yang terdampak bukan hanya makhluk hidup di dalamnya, tetapi juga masyarakat yang kehilangan akses terhadap air bersih. Ketika hutan rusak, yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga sumber penghidupan masyarakat. Ketika dampak perubahan iklim semakin terasa, kelompok miskin sering menjadi pihak yang paling rentan.

Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Paus Fransiskus menyebutnya sebagai ekologi integral. Lingkungan, ekonomi, masyarakat, budaya, dan kehidupan manusia saling berkaitan. Kita tidak bisa mengaku mencintai bumi sambil menutup mata terhadap penderitaan orang miskin. Sebaliknya, kita juga tidak dapat memperjuangkan kesejahteraan manusia sambil menghancurkan alam yang menopang kehidupannya. Merawat bumi berarti juga merawat manusia.

Dari “Aku” Menjadi “Kita”

Jika Laudato Si’ mengajak kita memandang bumi sebagai rumah bersama, Fratelli Tutti mengajak kita melihat orang-orang yang tinggal di dalamnya sebagai saudara. Pesannya sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan. Manusia dipanggil untuk membangun persaudaraan dan persahabatan sosial tanpa dibatasi agama, suku, bangsa, kelas sosial, ataupun pilihan politik. Persoalan ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Media sosial memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat kepada ribuan orang dalam hitungan detik. Namun, kemudahan berkomunikasi tidak selalu membuat kita mampu memahami sesama. Perbedaan pendapat justru kerap memicu perselisihan. Perbedaan pilihan politik menjadi alasan untuk saling membenci. Orang yang berbeda agama atau pandangan pun mudah dicurigai.

Pada akhirnya, kita tidak lagi melihat pribadi di balik identitasnya. Kita menilai kelompoknya, bukan individunya. Fratelli Tutti menantang cara pandang tersebut. Persaudaraan bukan berarti semua orang harus sepemikiran. Kita boleh berbeda pendapat dan prinsip. Namun, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci.

Karena itu, dialog menjadi penting. Dialog bukan sekadar kesempatan untuk berbicara, melainkan juga kesediaan untuk mendengarkan. Kita memerlukan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak mengetahui segalanya dan pengalaman orang lain juga layak didengar.

Saat Kita Memilih untuk Berhenti

Salah satu refleksi penting dalam Fratelli Tutti adalah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Seorang laki-laki terluka di pinggir jalan. Beberapa orang melihatnya, tetapi memilih berlalu. Hanya orang Samaria yang berhenti. Ia mendekat, merawat luka orang tersebut, dan memastikan bahwa ia mendapatkan pertolongan. Perumpamaan ini terasa dekat dengan kehidupan sekarang.

Setiap hari kita melihat berbagai bentuk penderitaan. Ada orang yang hidup dalam kemiskinan, mengalami diskriminasi, kehilangan pekerjaan, merasa kesepian, atau sedang menghadapi persoalan keluarga yang rumit. Ada pula yang menyimpan luka batin tanpa diketahui siapa pun. Namun, kita sering terlalu sibuk untuk berhenti. Kita melihat, tetapi tidak sungguh-sungguh memperhatikan. Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar mendengarkan. Kita tahu orang lain menderita, tetapi merasa bahwa itu bukan urusan kita.

Orang Samaria menunjukkan jalan berbeda. Ia melihat, tergerak, mendekat, lalu bertindak. Persaudaraan tidak lahir hanya dari teori. Persaudaraan tumbuh ketika kita bersedia hadir bagi orang lain.

Rumah yang Sama, Saudara yang Sama

Di sinilah Laudato Si’ dan Fratelli Tutti saling berkaitan. Bumi adalah rumah kita bersama. Manusia yang hidup di dalamnya adalah saudara. Jika rumah rusak, semua penghuninya akan terkena dampak. Jika hubungan antarpenghuni rusak, rumah yang seharusnya menjadi tempat hidup bersama akan kehilangan kedamaian. Karena itu, merawat bumi dan sesama tidak seharusnya dipisahkan.

Membuang sampah pada tempatnya memang terlihat sederhana. Namun, dari tindakan kecil itu, kita belajar bahwa setiap perbuatan memiliki akibat bagi orang lain. Menghemat air berarti menghargai sumber daya yang dibutuhkan semua orang. Mengurangi konsumsi yang tidak perlu berarti belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.

Begitu pula dalam hubungan dengan sesama. Bersedia mendengarkan orang yang berbeda pendapat bukan berarti kehilangan prinsip. Menolong orang miskin bukan berarti kita lebih hebat daripada mereka. Menolak ujaran kebencian bukan berarti kita lemah.

Semua itu merupakan wujud nyata kasih. Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan. Kita juga tidak mungkin menghapus semua konflik sosial. Namun, kita selalu dapat memilih untuk tidak menambah kerusakan dan luka.

Pertobatan bisa dimulai dari cara kita memandang. Berhenti melihat bumi sebagai barang milik kita, lalu memandangnya sebagai rumah yang dipercayakan kepada kita.

Berhenti melihat orang lain sebagai ancaman, lalu memandangnya sebagai saudara. Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan bisa dimulai dari sampah yang kita buang, air yang kita gunakan, makanan yang kita sisakan, cara kita berbicara kepada teman, kesediaan mendengarkan seseorang yang sedang kesulitan, dan keberanian untuk tidak ikut menyebarkan kebencian.

Pada akhirnya, Laudato Si’ dan Fratelli Tutti mengajak kita bertanya: manusia seperti apa yang ingin kita jadikan diri kita?Apakah kita ingin menjadi manusia yang mengambil sebanyak mungkin dari bumi, lalu melewati orang yang terluka karena merasa bahwa itu bukan urusan kita? Ataukah kita mau menjadi manusia yang berhenti, melihat, peduli, dan merawat?

Para Duta Laudato Si’ sedang memilah sampah.

Mungkin kita tidak mampu memperbaiki semuanya. Namun, kita bisa mulai dari apa yang ada di depan mata. Sebab, bumi ini terlalu berharga untuk dihancurkan dan kehidupan terlalu berharga jika hanya dijalani untuk diri sendiri. Rumah ini adalah rumah kita bersama. Siapa pun yang tinggal di dalamnya adalah saudara kita.

(Artikel “Pilihan” Juri Sayembara Menulis Artikel untuk Seminari Menengah 2026)

Oleh Andrean Michaellius Julian Sembiring
Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles