spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Satu Meja, Seribu Persaudaraan

HIDUPKATOLIK.COM – Pukul 13.15 WIB, di Seminari Menengah Christus Sacerdos (SMCS) Pematangsiantar, bel makan siang berbunyi. Dari domus dua lantai, 260 pasang kaki seminaris melangkah serentak menuju refter.

Di refter itu tidak ada “Meja Khusus Anak Medan” atau “Meja Khusus Anak Samosir”.  Hanya ada 30 buah meja panjang. Setiap meja diisi delapan sampai sembilan orang seminaris.

Di meja pengawas, frater pengawas makan membunyikan lonceng. “Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”. Doa makan dinaikkan. “Amin”, sendok mulai berdenting. Dentingan itu bukan sekadar bunyi makan, itu adalah bunyi persaudaraan yang sedang ditempa.

Ruang makan Seminari Christus Sacerdos Pematang siantar. (Ist.)

Berdiri sejak tahun 1950 di kota Padang, SMCS hadir untuk membina para calon imam yang berada di wilayah Keuskupan Agung Medan. Wilayah gerejawi ini terdiri dari banyak kelompok budaya. Dari rahim seminari ini telah lahir tujuh orang uskup, ratusan imam, dan ribuan awam yang tersebar ke segala penjuru dunia.

Mereka semua adalah bagian dari sebuah keluarga manusia.  Walaupun berbeda dalam hal budaya dan adat istiadat, mereka satu sama lain adalah sesama saudara.  Persaudaraan itu dimulai di sebuah tempat sederhana: meja makan seminari.

Paus Fransiskus dalam ensikliknya yang berjudul Fratelli Tutti – Semua Bersaudara (2015), menjelaskan makna persaudaraan dalam delapan bab. Pesan Paus dalam ensikliknya cukup sederhana yaitu “Persaudaraan tanpa batas”. Di SMCS persaudaraan itu sedang bertumbuh melalui meja makan. Setiap waktu makan, masing masing meja makan tidak akan pernah sunyi dari dialog, komunikasi.

Di salah satu meja, terjadi dialog dengan menggunakan Bahasa Batak.

“Boha do ari muna?” (Bagaimana harimu?) tanya seorang Poesis kepada salah seorang Grammatika.

“Songon i ma, Bang. Ndang adong na istimewa,” (Begitulah, Bang. Tak ada yang istimewa) ujar Grammatika.

“Jadi, nyaman dope ho tinggal di seminari on?” (Jadi, masih nyaman kau tinggal di seminari ini?) tanya Poesis kembali.

“Ndang songon i be ninna rohangku. Nunga sahat ahu tu dalan buntu. Nunga godang ulaon perbaikan na ingkon ulahononku. Jala ulaonku siganup ari holan songon na leleng do Huhilala songon na so martumbur do ahu saotik pe, Bang,” (Tidak begitu lagi kupikir. Aku sudah masuk jalan buntu. Banyak perbaikan yang harus kulakukan. Kegiatanku sehari-hari  tidak berubah dulu. Rasanya sedikit pun aku tidak bertumbuh, Bang”) jawab Grammatika.

“Oh, holan menikmati do mansai balga do ngolu di seminari on. Godang do donganmu jala boi mar-chat ganup ari. Holan ikkon lao do hamu dohot arus dison,” (Oh, nikmati saja kehidupan yang hebat di seminari ini. Temanmu banyak dan bisa chatting tiap hari.  Ikut arus sajalah di sini.) ucap Poesis menyemangati Grammatika.

“Au pe hucoba doa, Bang,” (Aku akan coba berdoa, Bang) jawab Grammatika.

Dialog di atas adalah cerminan persahabatan dalam lingkup seminari. Paus Fransiskus menegaskan “Dialog bukanlah Perdebatan, melainkan Perjumpaan yang membangun jembatan yang saling terhubung satu dengan yang lain.”

Masing-masing meja makan di refter seminari ini terdiri dari delapan hingga sembilan orang seminaris. Di dalamnya ada kelas Poesis, Syntaxsis, dan Grammatika. ”Susunan anggota kelompok semeja makan diatur seperti itu, supaya ada tempat bagi masing-masing yang beda kelas itu menyampaikan keluh kesahnya dalam hidup sehari, baik ketika di sekolah maupun di domus,” kata seorang Frater TOPPER di SMCS.

Santo Fransiskus dari Asisi sering disebut sebagai rasul cintakasih, kegembiraan, dan kerendahan hati. Hidup Santo Fransiskus ingin menjelaskan bahwa cintakasih Kristen merangkum segala yang hidup, manusia maupun hewan, kawan dan lawan, dengan memberikan diri tanpa perhitungan dan perlawanan. Itu merupakan ujian sekaligus dan bukti cinta-kasihnya.

Ensiklik Frateli Tutti mengingatkan kita bahwa persaudaraan lahir dari sebuah tindakan kecil yaitu berani mendekat kepada sesama. “Kring….” Lonceng tanda selesai makan telah berbunyi.  Pencuci piring pada hari ini adalah kelompok satu sesuai dengan aturan yang tetulis.

Ada yang bekerja membilas, mengelap, menggosok, menyapu, hingga mengembalikan semua peralatan makan itu kembali ke tempat semula.

“Jujur,  Bang.  Kalau di rumah palingan cuci piring sebiji.  Habis itu kelar. Tapi tiba di seminari ini, rasanya enak bisa kerja sambil bercerita. Kami mencuci dua ratus enam puluh buah piring ditambah peralatannya, cepat selesai.  Padahal kalau di rumah,  enam piring butuh waktu hampir duapuluh menit untuk mencucinya,” kata seorang Grammatika yang baru dua bulan menjalani kehidupannya di SMCS.

Terkait hal di atas, Paus Fransiskus menegaskan melalui ensiklik Fratelli Tutti (Bab 2) tentang perjumpaan seorang Samaria yang baik hati dengan seorang asing di jalanan. Dalam perjumpaan dengan seorang korban kejahatan di jalan, seorang imam dan seorang Lewi takut mengorbankan harga dirinya. Tetapi orang Samaria justru berhenti, menanggung resiko untuk melayani.

Santo Fransiskus dari Asisi juga menegaskan kepada kita apa arti dari sebuah pelayanan. Ia memandang setiap orang, terutama yang tersingkir, sebagai saudara tanpa memandang status sosial. Pelayanan baginya bukan soal kekuasaan, melainkan menjadi pelayan bagi sesama.

Melalui pelayanan, kita memulai sebuah langkah kecil yang pada ahirnya dapat mempererat persaudaraan kita.  Itu dimulai dengan sebuah pelayanan yang sederhana kepada saudara sepanggilan. Melayani itu resiko;  resiko “waktu”, resiko ditanya “kok lama”.  Tapi resiko itu membuat seminaris lain dapat menikmati hidupnya dengan tenang dan nyaman.

Paus menengaskan, “Menjadi Saudara bukan soal harga diri dan martabat. Tetapi menjadi Saudara adalah soal berani mengambil resiko dan melayani.” Dan di meja makan seminari, ajaran teologis itu dipraktekkan tiga kali sehari.

“Hari Kamis adalah hari pertama kali kami datang.  Kami duduk diam-diaman,  tidak ada obrolan. Namun setelah beberapa hari berlalu, saya dengan teman satu meja makan semakin akrab. Di meja makan itulah kami dapat saling menceritakan pengalaman suka dan duka kami dalam sehari,” kata seorang Grammatika saat berbagi pengalaman di meja makan.

“Lumayanlah.  Hanya di sini aku bisa menceritakan hariku, baik kepada abang kelas maupun adik kelas.” Seorang Syntaxsis, tahun ke dua formatio, berbagi cerita.

Seorang Poesis, tahun ketiga formatio,  berbagi cerita juga. “Saat duduk di kelas Syntaxis, saya pernah bertanya kepada seorang Frater TOP, untuk apa saya mengenal saudara saya ini.  Kemudian  saya sadar berada di sebuah sekolah yang tidah hanya menuntut penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan juga membangun makna kehidupan diri kita. Melalui meja makan, kita diajak membangun komunikasi yang intim dengan sesama kita, layaknya Kristus membangun komunikasi dengan para murid-Nya. Melalui meja makan juga, kita diajak bercermin bagaimana kita berani mendekatkan diri kepada saudara kita, dan bagaimana kita hadir sebagai anggota keluarga yang siap sedia bagi anggota keluarga yang membutuhkan.”

Banyak orang bertanya, apa sebenarnya yang mau diajarkan meja makan kepada kita? Jawabannya ada di tiga kali makan sehari. Kami belajar keberagaman bukan masalah untuk diseragamkan. Keberagaman adalah anugerah untuk dirayakan. Beda lauk bisa diakali, beda logat bisa ditertawakan, tetapi beda ego bisa dikalahkan dengan satu piring bagi dua.

Meja makan kini kembali bersih. Semua peralatan makan telah kembali ketempatnya semula.

Melalui perjumpaan di meja makan itu, sebuah rancangan yang sedang dipersiapkan, yaitu melewati segala sesuatu yang sederhana demi masa depan Gereja.

Oberlison Saragi
Seminari Menengah Christus Sacerdos, Pematangsiantar
Juara III Sayembara Menulis Artikel untuk Seminari Menengah 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles