spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Paus Leo XIV Kembali ke Amerika Selatan, Menelusuri Jejak Panggilan sebagai Misionaris

HIDUPKATOLIK.COM — Ada perjalanan yang lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan. Bagi Paus Leo XIV, perjalanan apostolik ke Amerika Selatan kali ini menjadi kesempatan istimewa untuk kembali ke tempat yang pernah membentuk perjalanan imamat dan panggilan hidupnya sebagai seorang misionaris.

Paus Leo XIV bertolak dari Roma pada Jumat, 6 November 2026, untuk memulai perjalanan apostolik ke tiga negara di Amerika Selatan, yakni Uruguay, Argentina, dan Peru. Kunjungan ini menjadi perjalanan pertamanya ke kawasan tersebut sejak terpilih sebagai Paus.

Dari ketiga negara itu, Peru memiliki arti yang sangat personal. Di negara inilah Leo XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai Robert Francis Prevost, menghabiskan hampir 20 tahun hidupnya sebagai misionaris, imam, dan uskup.

Ia akan berada di Peru selama lima dari total 11 hari perjalanan apostoliknya. Dua hari di antaranya akan dihabiskan di Chiclayo, bekas keuskupan yang pernah dipimpinnya.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momen bagi Paus Leo XIV untuk kembali menapaki jejak perjalanan panggilannya, bertemu masyarakat yang pernah dilayaninya, serta menegaskan kembali semangat misioner Gereja Katolik.

Perjalanan Personal Seorang Paus

Sebagaimana perjalanan apostolik pada umumnya, agenda Paus Leo XIV mencakup pertemuan dengan para kepala negara, pejabat pemerintahan, uskup, imam, tokoh agama, serta umat Katolik setempat.

Paus juga dijadwalkan memimpin Misa bersama umat, mengadakan pertemuan dengan kaum muda, mengunjungi lembaga-lembaga sosial dan amal Gereja, serta melakukan sejumlah kegiatan pastoral.

Namun, perjalanan kali ini memiliki keistimewaan tersendiri.

Selain menjadi Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat dan kemudian menjadi warga negara Peru, Leo XIV juga dikenal sebagai Paus yang memiliki pengalaman panjang sebagai misionaris di luar negeri.

Pengalaman tersebut bukan sekadar bagian dari riwayat hidupnya, melainkan menjadi unsur penting yang membentuk cara pandangnya terhadap Gereja dan perutusannya.

Ketika tiba di Roma pada 2023 untuk menjalankan tugas baru di Vatikan, ia pernah menegaskan bahwa dirinya tetap memandang diri sebagai seorang misionaris.

“Panggilan saya, seperti setiap orang Kristen, adalah menjadi misionaris, untuk mewartakan Injil di mana pun seseorang berada,” demikian pernyataannya kala itu.

Karena itu, kepulangannya ke Amerika Selatan bukan hanya perjalanan mengenang masa lalu. Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana pengalaman pelayanan di tengah masyarakat membentuk kepemimpinannya sebagai penerus Takhta Santo Petrus.

Pastor Arthur Purcaro, sesama biarawan Augustinian yang pernah menjadi rekan Robert Prevost di Peru, mengatakan pengalaman tersebut membawa perubahan besar dalam diri Paus Leo XIV.

Di Peru, Prevost berjumpa dengan kebudayaan yang berbeda, melayani masyarakat miskin, dan menyaksikan langsung berbagai persoalan sosial. Pengalaman itu mengajarkannya bahwa Gereja tidak boleh hanya berpusat pada dirinya sendiri, melainkan harus hadir bagi dunia.

Menurut Purcaro, kepulangan Leo XIV sebagai Paus akan menjadi kesempatan untuk mengajak Gereja semakin terbuka, menyambut sesama, dan menjangkau mereka yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Uruguay dan Tantangan Gereja di Tengah Sekularisme

Negara pertama yang dikunjungi Paus Leo XIV adalah Uruguay. Negara ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi Gereja Katolik karena dikenal sebagai salah satu negara paling sekuler di Amerika Latin.

Lebih dari separuh penduduk Uruguay tidak memiliki afiliasi agama. Sementara itu, sekitar 28 persen penduduk mengidentifikasi diri sebagai agnostik atau ateis.

Pengaruh sekularisme bahkan terlihat dalam kehidupan publik. Sejak 1919, sejumlah hari raya keagamaan dalam kalender resmi negara tersebut menggunakan nama yang tidak berkaitan langsung dengan tradisi Gereja.

Natal, misalnya, disebut sebagai Hari Keluarga. Pekan Suci dikenal sebagai Pekan Pariwisata, Epifani menjadi Hari Anak, sedangkan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dikenal sebagai Hari Pantai.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Gereja setempat dalam mewartakan Injil.

Uskup Milton Tróccoli dari Maldonado-Punta del Este-Minas, yang juga menjabat Presiden Konferensi Waligereja Uruguay, menyebut negaranya sebagai wilayah misi yang membutuhkan pewartaan Injil secara lebih luas.

Dalam wawancara dengan EWTN Noticias pada September lalu, ia menegaskan bahwa Gereja di Uruguay harus menemukan cara untuk menghadirkan kembali pesan Injil di tengah masyarakat yang semakin jauh dari kehidupan beragama.

Persoalan ini juga berkaitan dengan pandangan Paus Leo XIV mengenai hubungan agama dan kehidupan publik.

Dalam kunjungannya ke Prancis pada September lalu, Paus menegaskan bahwa umat beragama dan lembaga keagamaan tetap memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Sikap tersebut diperkirakan kembali menjadi salah satu pesan penting dalam kunjungannya ke Uruguay, terutama menyangkut ruang bagi agama untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Paus juga diperkirakan menyampaikan pandangan Gereja mengenai legalisasi eutanasia di Uruguay. Gereja Katolik secara tegas menolak eutanasia maupun bunuh diri dengan bantuan medis karena bertentangan dengan penghormatan terhadap kehidupan manusia.

Argentina dan Warisan Misi Paus Fransiskus

Setelah Uruguay, Paus Leo XIV akan melanjutkan perjalanan ke Argentina.

Kunjungan ini memiliki makna tersendiri karena Argentina merupakan tanah kelahiran Paus Fransiskus. Selama 12 tahun masa kepausannya, Fransiskus tidak pernah berkesempatan mengunjungi negara asalnya.

Kehadiran Leo XIV di Argentina tentu akan mengingatkan masyarakat pada sosok pendahulunya tersebut.

Dalam kepemimpinannya, Leo XIV telah menyatakan komitmen untuk melanjutkan sejumlah inisiatif penting Paus Fransiskus, salah satunya sinodalitas.

Melalui sinodalitas, Gereja diajak untuk semakin melibatkan seluruh umat Allah dalam perjalanan bersama. Umat awam, imam, biarawan, biarawati, dan para uskup diharapkan saling mendengarkan serta bekerja sama dalam kehidupan dan perutusan Gereja.

Paus Fransiskus pernah menegaskan bahwa sinodalitas pada dasarnya bersifat misioner. Sebaliknya, misi Gereja juga harus dijalankan secara sinodal.

Dalam kunjungannya ke Argentina dan Peru, Leo XIV dijadwalkan bertemu dengan para uskup setempat. Tim yang bertanggung jawab menjalankan proses sinodal juga akan dilibatkan dalam sejumlah agenda tersebut.

Selain itu, Paus akan mengunjungi Luján, salah satu pusat ziarah Maria paling penting di Argentina.

Di tempat ini terdapat patung Bunda Maria dari Luján yang sangat dihormati umat Katolik. Setiap tahun, jutaan peziarah datang untuk berdoa dan mengikuti berbagai kegiatan devosi. Pada Oktober lalu, ziarah kaum muda bahkan menarik lebih dari 2,8 juta peserta.

Kunjungan tersebut memperlihatkan perhatian Leo XIV terhadap kesalehan populer, khususnya devosi kepada Bunda Maria yang telah menjadi bagian kuat dari kehidupan iman umat Katolik di Amerika Latin.

Peru, Tempat Panggilan Misioner Leo XIV Bertumbuh

Bagian paling personal dari perjalanan apostolik ini akan berlangsung di Peru.

Di negara tersebut, Paus Leo XIV pernah menjalankan pelayanan pastoral selama hampir dua dekade. Ia mengenal kehidupan masyarakat, menghadapi berbagai tantangan sosial, serta membangun relasi dengan umat dari beragam latar belakang budaya.

Salah satu tempat yang akan dikunjunginya adalah Chiclayo, keuskupan yang pernah dipimpinnya sebagai uskup.

Di sana, Paus dijadwalkan memahkotai patung Santa Perawan Maria Tak Bernoda di katedral setempat.

Ia juga akan mengunjungi tempat-tempat ziarah Maria yang memiliki arti penting bagi umat Katolik Peru, termasuk Kuil Bunda Maria Perdamaian.

Menurut Uskup Edinson Farfán, penerus Leo XIV sebagai Uskup Chiclayo, kesalehan populer merupakan salah satu kekuatan penting Gereja dalam menghadapi tantangan evangelisasi saat ini.

Salah satu tantangan tersebut adalah pertumbuhan gereja-gereja Pentakosta di Amerika Latin.

Farfán menjelaskan bahwa devosi dan praktik kesalehan populer mampu menjangkau masyarakat hingga ke daerah-daerah terpencil. Wilayah-wilayah yang jarang dikunjungi imam justru sering menjadi tempat berkembangnya komunitas-komunitas Pentakosta.

Karena itu, tradisi devosi umat menjadi salah satu sarana penting untuk mempertahankan dan menghidupkan iman Katolik di tengah masyarakat.

Menghargai Budaya Lokal dalam Pewartaan Injil

Selain kesalehan populer, perjalanan Paus Leo XIV ke Peru juga akan menyoroti pentingnya inkulturasi dalam kehidupan Gereja.

Inkulturasi merupakan upaya menghadirkan dan mengungkapkan ajaran serta perayaan iman Katolik melalui konteks budaya masyarakat setempat, tanpa menghilangkan inti ajaran Gereja.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah inkulturasi di Peru adalah Santo Turibius de Mogrovejo.

Ia merupakan misionaris asal Spanyol yang menjabat sebagai Uskup Agung Lima sejak 1581 hingga wafat pada 1606. Dalam pelayanannya, Santo Turibius mendorong penggunaan bahasa-bahasa lokal, termasuk Quechua dan Aymara, untuk mewartakan Injil kepada masyarakat setempat.

Paus Leo XIV memiliki devosi khusus kepada santo tersebut. Bahkan, ketika masih menjadi Pastor Robert Prevost, ia mempelajari bahasa Quechua selama menjalankan pelayanan di Peru.

Menjelang penahbisannya sebagai uskup pada Desember 2014, Prevost menghabiskan malam dengan berdoa di hadapan relik Santo Turibius di sebuah kapel di Zaña.

Kini, sebagai Paus, ia akan kembali ke kota tersebut pada 14 November untuk menghadiri perayaan penutup tahun yubileum yang menandai 300 tahun kanonisasi Santo Turibius.

Kunjungan ini menjadi simbol kuat hubungan antara sejarah misi Gereja, penghargaan terhadap budaya lokal, dan semangat pewartaan Injil yang terus berlanjut.

Memberi Perhatian kepada Mereka yang Terlupakan

Misi Gereja tidak hanya diwujudkan melalui pewartaan Sabda Allah dan perayaan sakramen. Pelayanan kepada mereka yang miskin, sakit, lanjut usia, dan mengalami keterbatasan juga menjadi bagian penting dari perutusan tersebut.

Karena itu, dalam perjalanan apostolik ini, Paus Leo XIV dijadwalkan mengunjungi sejumlah lembaga pelayanan sosial yang dikelola atau berafiliasi dengan Gereja.

Di Argentina, ia akan mengunjungi rumah pelayanan bagi penyandang disabilitas di sekitar Buenos Aires. Sementara di Lima, Peru, ia dijadwalkan bertemu dengan para lansia yang hidup dalam keterlantaran.

Perhatian khusus juga diberikan kepada para korban pelecehan seksual oleh rohaniwan, sebuah persoalan serius yang terus menjadi perhatian Gereja Katolik.

Vatikan menyampaikan bahwa Paus akan mengadakan sejumlah pertemuan dengan korban pelecehan selama berada di Amerika Selatan.

Pertemuan tersebut berpotensi melibatkan para korban kasus Sodalitium Christianae Vitae, sebuah organisasi Katolik yang dibubarkan Vatikan pada 2025.

Saat masih menjabat sebagai Uskup Chiclayo, Leo XIV pernah terlibat secara langsung dalam membantu para korban pelecehan yang dilakukan anggota organisasi tersebut.

Kehadirannya dalam pertemuan dengan para korban menjadi bagian penting dari upaya Gereja untuk mendengarkan, mendampingi, dan memberikan perhatian kepada mereka yang mengalami penderitaan.

Menjangkau Masyarakat Adat hingga Amazon

Agenda terakhir Paus Leo XIV di Peru akan menjadi salah satu bagian paling menantang dalam perjalanan apostoliknya.

Pada pagi hari, ia dijadwalkan terbang menuju Cusco, kawasan dataran tinggi Andes yang berada lebih dari 3.300 meter di atas permukaan laut.

Di sana, Paus akan bertemu dengan perwakilan umat yang menjalankan tradisi kesalehan populer Katolik di kawasan situs bersejarah peninggalan peradaban Inca.

Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan untuk bertemu para misionaris dan perwakilan masyarakat adat Amazon. Paus juga dijadwalkan memimpin Misa di kawasan hutan hujan Amazon.

Wilayah Amazon selama ini menjadi salah satu perhatian penting Gereja Katolik, terutama berkaitan dengan pelayanan pastoral bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil.

Keterbatasan akses terhadap imam dan pelayanan sakramen menjadi persoalan yang pernah dibahas secara mendalam dalam Sinode Amazon yang diselenggarakan Paus Fransiskus di Vatikan pada 2019.

Bagi masyarakat di wilayah tersebut, kehadiran seorang Paus bukan sekadar kunjungan simbolis. Kehadiran itu membawa perhatian dunia kepada komunitas yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Pastor David Farfán, imam dari Keuskupan Chiclayo yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan Uskup Edinson Farfán, menyampaikan bahwa kunjungan Paus akan membantu memperlihatkan kehidupan masyarakat yang selama ini terlupakan.

Menurutnya, kehadiran Leo XIV akan menarik perhatian kepada komunitas-komunitas di jantung Peru, bahkan di berbagai belahan dunia, yang merasa ditinggalkan dan kurang mendapat perhatian.

Perjalanan apostolik ini pada akhirnya memperlihatkan kembali wajah misi Gereja: hadir di tengah masyarakat, mendengarkan mereka yang membutuhkan, menghargai budaya setempat, serta membawa harapan bagi mereka yang sering kali tidak terlihat.

Bagi Paus Leo XIV, perjalanan ke Amerika Selatan adalah kepulangan ke tempat yang ikut membentuk dirinya. Namun, lebih dari itu, perjalanan ini menjadi penegasan bahwa panggilan seorang misionaris tidak pernah berhenti, bahkan ketika ia kini memimpin Gereja Katolik sedunia. (Diolah dari laporan EWTN News)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles