spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Membangun Generasi Laudato Si’ melalui Edukasi Gerakan Ekologi Partisipatif

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) bekerja sama demgan Universitas Atma Jaya Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Laudato Si’ Generation (LSG) Batch 2 untuk orang muda Katolik Indonesia, di Yogyakarta, 13-15 Maret 2026

“Melihat bahwa semua kerusakan alam lahir dari perilaku manusia, dan semua apa yang dilakukan manusia untuk bisa hidup berakibat pada kerusakan alam, apakah kita perlu meninjau kembali asumsi dan cara pandang kita atas arti kerusakan alam ?” Begitulah kira-kira ungkapan Lala, kelas 10 SMA Regina Pacis Solo, ketika para peserta diajak merefleksikan seluruh sesi Sabtu malam, 14 Maret 2026 itu.

Tiga puluh peserta dan panitia mengikuti pelatihan Laudato Si’ Generation batch 2 dari Gerakan Laudato Si Indonesia (GLSI) pada 13-15 Maret 2026 di Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung tiga hari ini adalah bagian penting dari upaya membangun gerakan ekologis di tengah-tengah orang muda Katolik. Peserta berasal dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Cilacap, Surakarta, Semarang, Malang, dan Yogyakarta, dengan latar belakang guru, pekerja muda, dan pelajar Katolik.

Salah satu suasana pelatihan.

Pelatihan ini bertujuan untuk mengajak orang muda bukan hanya (1) memahami pokok-pokok ajaran iman yang ada dalam ensiklik Laudato Si; tetapi juga (2) membangun kepekaan ekologis Katolik muda baik melalui Analisis Sosial Ekologis maupun membaca tanda-tanda alam (melalui indikator alamiah) tetapi bahkan lebih jauh lagi, (3) bagaimana menerapkannya secara praktis di tengah hidup sehari-hari dan masyarakat lewat aksi ekologis pribadi, membangun aksi transformatif, dan terlibat dalam gerakan kewargaan yang ada.

Kurikulum pemateri, dan proses kegiatan

Matilda Tjundawan, selaku ketua panitia membuka dinamika kegiatan dengan mengajak peserta mendiskusikan problem-problem riil lingkungan hidup yang ada di sekitar ruang hidup peserta yang berasal dari berbagai daerah. Kesadaran ini kemudian diolah lebih lanjut dalam sesi selanjutnya. Kepekaan ekologis dan daya kritis peserta dibangun melalui Analisis Sosial dan Problem Solving yang dibawakan oleh Cyprianus Lilik K. P. Koordinator Nasional GLSI. Pemahaman kritis Pemahaman tentang Spiritualitas Laudato Si’ disampaikan oleh Kristien Yuliarti, Anggota Tim kerja nasional GLSI sekaligus pendiri Omah Hijau, Malang.

Baca Juga:  Dari Chicago dengan Penuh Cinta: Ford Memberikan SUV Khusus kepada Paus

Peserta selanjutnya diajak untuk mendalami realitas krisis ekologis bersama Pramana Yuda, guru besar Fak. Teknobiologi UAJY, sekaligus ketua tim Laudato Si dari UAJY.

Pramana Yuda mengajak peserta mempelajari kompleksitas krisis ekologi di udara dan mengenalinya melalui bioindikator terbaiknya, yakni pengamatan burung-burung. Kehadiran burung-burung menandai kualitas udara dan habitat. Peserta juga diajak mengakrabi soundscape dan mengenali bahwa keanekaragaman suara alamiah juga menandakan lingkungan hidup yang sehat.

Sementara itu Ester sebagai pelaku pertanian urban dan gaya hidup ugahari di Kebun Candi mengajak peserta lebih mendekatkan diri pada alam dengan mengenali berbagai jenis tanaman pangan dan bagaimana upaya memuliakan tanah dengan mengembalikan kembali brbagai bentuk kehidupan mikro di dalamnya.  Kekayaan ragam pangan nusantara dan pola pangan berkualitas diperkenalkan oleh Bhuki Prima Sari dari Bhumi Bhavana. Melalui paparan yang kongkrit, kaya, dan dan inspiratif peserta diajak untuk berkelana menjelajahi cakrawala pangan nusantara.

Dimensi struktural dari tantangan ekologis yang kita hadapi bersama dengan sangat kuat dan mendalam disampaikan oleh Pastor Martin Jenarut, sekretaris eksekutif Komisi Keadilan Perdamaian Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia.

Baca Juga:  Berhala Klerikalisme dan Salib Para Korban

Ia memaparkan posisi dan alasan Gereja Katolik menolak penawaran Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang diajukan pemerintah melalui  PP No. 25 Tahun 2024 lalu.

Ia juga menyampaikan kerangka pertimbangan teologis-moral Gereja dalam mengambil keputusan-keputusan sulit semacam ini.

Inisiator pelatihan Laudato Si’ Generation ini juga menekankan perlunya orang muda katolik masuk dalam ranah advokasi ekologis yang semakin menantang ke depan.

Kesadaran komprehensif peserta dibangun dengan bersama-sama melakukan kajian membangun praksis hidup Laudato Si’ pada tingkat pribadi, keluarga, dan masyarakat dengan dipandu oleh Cyprianus Lilik. Pertobatan ekologis berpuncak dengan pengakuan dosa ekologis pribadi.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Pastor Martin Jenarut yang dengan lantang menegaskan perutusan peserta pasca kegiatan. Sebagai perutusan peserta diajak memperdalam pemahamannya melalui tantangan Laudato Si’ 21 hari pasca kegiatan yang disusun secara partisipatif seluruh peserta.

Tumbuh, terlibat, dan bertindak

“Momentum pertemuan ini menjadi rumah untuk berbagi perspektif, pengalaman, dan ide-ide luar biasa yang dapat dituangkan dalam praktik baik bersama,” Demikian tutur Matilda Tjundawan selaku ketua panitia yang selain pekerja muda juga sekaligus aktivis pendampingan buruh migran. “Kami melihat bagaimana setiap pribadi menunjukkan progres harian yang sangat baik, bahkan di luar ekspektasi. Dari pribadi- pribadi hebat ini, kami yakin benih-benih kebaikan akan ditebar di berbagai pelosok, hingga semaian yang baik itu terus tumbuh.”

Undangan membangun aksi ditegaskan melalui follow up berupa tantangan aksi 21 hari bersama Laudato Si’. Tantangan awal ini menguatkan komitmen pribadi peserta pada pertobatan ekologis. Kehadiran berbagai pelaku langsung pegiat gerakan ekologi alternatif mengundang peserta agar menemukan ruang perutusan pribadi sebagai kader-kader muda pejuang kelestarian lingkungan. Gerakan citizen science yang sangat kaya dan dekat dengan dunia orang muda melalui berbagai platform digital.

Baca Juga:  Paus Menyerukan Gencatan Senjata dan Dialog dalam Perang di Timur Tengah yang Terus Memanas

Pramana Yuda dalam diskusi penutup menegaskan pesan agar semua peserta tidak hanya berfokus melakukan aksi ekologis yang antroposentris semata (aksi ekologis yang menjadikan manusia sebagai pusat kepentingan, cara pandang, dan aktivitas), melainkan juga aksi ekologis yang didasarkan pada rasa hormat, pemahaman, dan pembelaan kepada segenap ciptaan yang lain.

Pelatihan Laudato Si’ Generation ini adalah bagian dari upaya Gerakan Laudato Si’ Indonesia menjangkau orangmuda, sejalan dengan prioritas gerakan ekologis ini yang bersama ditetapkan dalam Pernas 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ pada September 2025 di Sentul City lalu. GLSI juga baru saja menyelesaikan pelatihan Animator of Animators batch V secara online yang berlangsung sepanjang Februari dan Maret 2026, dan sedang menyiapkan pelatihan Animator Laudato Si’ batch VI pada bulan April-Juni 2026 mendatang.

Melihat bahwa semua kerusakan alam lahir dari perilaku manusia, dan semua apa yang dilakukan manusia untuk bisa hidup berakibat pada kerusakan alam, apakah kita perlu meninjau kembali asumsi dan cara pandang kita atas arti kerusakan alam ?”

Pertanyaan reflektif mendalam dari seorang pelajar perempuan Solo menjadi puncak dari dinamika pelatihan sebagai aksi penyadaran kritis ini. Tanpa menjadikan setiap pribadi di muka bumi sebagai agen kesadaran ekologis kritis, kita semua akan jatuh pada tragedy of the commons, ketika penghormatan, pembelaan, dan perlindungan kepada harta kolektif kehidupan lenyap tergilas oleh individuasi impulsif peradaban kapitalis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles