HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 26 April 2026 Hari Minggu Paskah IV/A (Hari Minggu Panggilan).Kis.2:14a, 36-41; Mzm.23:1-3a, 3b-4,5,6; 1Ptr.2:20b-25; Yoh.10:1-10
BACAAN Injil pada hari Minggu Paskah IV, atau Hari Minggu Gembala Baik yang sekaligus juga adalah Hari Doa Sedunia untuk Panggilan, berkisah tentang gembala baik, yang diambil dari injil Yohanes 10:1-10. Dalam Injil ini, Yesus menggunakan dua gambaran:
Pertama, Ia menggambarkan sebuah kandang domba di desa, tempat berbagai gembala membawa kawanan domba mereka pada malam hari dan menyewa seorang penjaga pintu untuk menjaga pintu masuk. Pada pagi hari, ketika matahari terbit, para gembala kembali, dan penjaga pintu membuka pintu bagi mereka. Lalu mereka memanggil domba-domba mereka keluar dari kandang dan menuntunnya ke padang rumput.
Gembala sejati tidak perlu menggunakan cara yang tidak pantas untuk masuk; mereka masuk melalui pintu yang sama dengan domba-domba. Sebaliknya, pencuri dan perampok masuk dengan “cara lain”. Melalui gambaran ini, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai gembala sejati yang datang ke dunia dengan cara yang benar, memanggil domba-domba-Nya satu per satu, dan menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju terang (Yohanes 10:1-5). Ia berjalan di depan mereka, dan domba-domba-Nya mengikuti Dia karena mereka mengenal suara-Nya.
Ketika orang-orang, khususnya kaum Farisi, tidak memahami perumpamaan ini, Yesus memberikan penjelasan lain. Ia berkata, “Akulah pintu bagi domba-domba. Semua orang yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok, tetapi domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan keluar masuk dan menemukan padang rumput.” Di sini, Yesus menegaskan bahwa Dialah jalan yang benar, satu-satunya jalan menuju keselamatan.
Gambaran ini juga mencerminkan kebiasaan sehari-hari pada zaman Perjanjian Lama. Setelah domba-domba merumput di pagi hari, pada tengah hari gembala menuntun mereka ke sumber air untuk minum, lalu ke tempat perlindungan sementara dari semak-semak untuk beristirahat.
Gembala itu sendiri akan berbaring di pintu masuk kandang, sehingga domba-domba tidak bisa keluar atau masuk tanpa melewati dirinya. Dengan cara yang sama, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pintu yang melindungi domba-domba dan memungkinkan mereka memperoleh kehidupan.
Dengan demikian, Yesus menampilkan diri-Nya dalam dua gambaran: sebagai gembala dan sebagai pintu. Ia juga membedakan diri-Nya dari gembala-gembala palsu. Ia menyebut mereka sebagai pencuri dan perampok yang tidak diikuti oleh domba-domba karena mereka mengenali bahwa mereka adalah orang asing. Yang dimaksud Yesus dengan “pencuri dan perampok” di sini jelas bukanlah Abraham, Ishak, Yakub, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, atau pun para nabi lainnya, melainkan kaum Farisi pada zaman-Nya, yang memanfaatkan umat Israel demi kepentingan mereka sendiri.
Akhirnya, Yesus berkata, “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).
Gembala palsu merampas kehidupan melalui tipu daya dan kekerasan, tetapi gembala sejati merawat, melindungi, dan menyelamatkan kehidupan. Pencuri dan perampok merampas hidup, tetapi Yesus berjanji memberikan hidup, dan Ia memberikannya dengan berlimpah.
Janji Yesus ini tentu tidak menyangkut kelimpahan materi atau ketiadaan penyakit dan penderitaan. Sebaliknya, kelimpahan itu terdiri dari kasih, sukacita, damai sejahtera, dan buah-buah Roh yang datang sebagai hasil dari hidup yang benar di hadapan Allah melalui iman kepada Kristus, sejak pembaptisan hingga kekekalan (Galatia 5:22-23).
Rasul Paulus, misalnya, tidak kaya dalam hal duniawi, tetapi ia menikmati kehidupan berlimpah yang ditawarkan Kristus. Ia merasa cukup dengan makanan dan pakaian (1 Timotius 6:8), namun ia kaya di hadapan Allah (Lukas 12:21; Efesus 2:7).
Ketika kita mendengar sabda Yesus dalam Injil hari ini, maknanya menjadi lebih dalam karena kita sedang berada dalam masa Paskah. Kita telah merayakan wafat dan kebangkitan Yesus.
Yesus harus mati terhadap diri-Nya sendiri untuk hidup dalam kehidupan yang baru. Ia telah menunjukkan kepada kita bagaimana hidup sepenuhnya: mati terhadap diri sendiri agar bangkit kepada hidup yang baru.
Kita dapat menerapkan sabda Yesus hari ini terhadap gagasan-gagasan palsu tentang kebahagiaan yang ditawarkan dunia: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan” (Yoh. 10:10). Hanya dengan mati terhadap diri sendiri dan mengikuti Yesus, kita akan menemukan kebahagiaan sejati yang kita cari.
Yesus mengajarkan bahwa jalan menuju kebahagiaan bukanlah dengan memenuhi semua keinginan dan hasrat kita. Jalan menuju kebahagiaan justru terletak pada pilihan hidup yang berbeda: berkorban dan memikul salib bersama Yesus, serta menghadirkan kehidupan Yesus dalam hidup kita sendiri.
Karena itu Yesus berkata: “Akulah pintu. Barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat; ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yohanes 10:9); dan “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).
Paus Yohanes Paulus II berkali-kali mendorong umat untuk menemukan hidup yang penuh dengan mengikuti Yesus, dengan berkata: “Jangan takut! Bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus!” (Homili Paus Yohanes Paulus II di Seminari St. Yosef, Yonkers, New York, 6 Oktober 1995, mengutip homilinya di Basilika Santo Petrus, 22 Oktober 1978.). Selain itu, beliau juga menetapkan Hari Minggu Paskah Ke-empat ini sebagai Hari Doa Sedunia untuk Panggilan.
Setiap kita memiliki panggilan! Setiap kita, apapun status hidup kita, telah dan sedang dipanggil oleh Allah melalui Roh Kudus untuk mempersembahkan karunia khususnya demi kebaikan seluruh komunitas. Karena itu, “Hari Minggu Panggilan” ini tentu saja bukan hanya untuk mereka yang dipilih secara khusus untuk panggilan religius, melainkan untuk “kita semua” di sini.
Di satu sisi, setiap orang perlu merenungkan apa panggilan khususnya dan bagaimana seseorang dapat menanggapinya demi kesejahteraan seluruh komunitas paroki. Selain itu, kita perlu membantu orang lain, dan tidak menjadi penghalang bagi mereka dalam menanggapi panggilan dan rahmat khusus yang diberikan Allah melalui Roh-Nya kepada mereka.
Jika kita semua secara aktif menanggapi panggilan itu, betapa indahnya komunitas kita! Sebab, oleh rahmat Allah, “Kita adalah umat-Nya, kawanan domba gembalaan-Nya”. Kita juga berdoa agar semakin banyak orang mendengarkan suara Yesus yang memanggil, agar mereka masuk melalui Dia ke dalam kandang domba dan memperoleh hidup yang berlimpah…..Amin. Tuhan memberkati!!!
Hari Minggu Panggilan” ini tentu saja bukan hanya untuk mereka yang dipilih secara khusus untuk panggilan religius, melainkan untuk “kita semua”
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 17, Minggu, 26 April 2026






