spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

“Akar Kuat, Tunas Baru”

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – ”Akar Kuat, Tunas Baru”, ini adalah tema yang dipilih untuk rekoleksi guru di Paroki Santa Maria Annuntiata Sidoarjo pada Minggu, 26/4/2026. Rekoleksi perdana ini diikuti oleh 50 orang guru dengan didampingi Pastor Kepala Paroki, Pastor Aloysius Widya Yanuar Nugraha atau yang akrab disapa Romo Louis. Rekoleksi ini menjadi salah satu jawaban atas kerinduan insan pendidik di paroki untuk saling bertemu dan berbagi.

Paroki menyadari ada banyak pendidik di kalangan umat, maka paroki segera mulai menyapa, menggandeng dan akan menemani para guru untuk terus mensyukuri panggilan sebagai guru dan melangkah bersama Gereja dalam karya pewartaan Allah.

Rekoleksi ini bertujuan untuk mempertemukan para guru Katolik yang berdomisili di paroki sehingga menjadi komunitas guru Katolik paroki, memberikan penguatan tentang jati diri guru Katolik sehingga para guru semakin menghayati peran panggilan mereka sebagai insan pendidik Katolik, serta menyerempakkan gerak langkah bersama dengan Gereja (sinodalitas) dalam rangka menghidupi panggilan pewartaan.

Rekoleksi diawali dengan mencairkan suasana antar peserta, karena para guru berasal dari berbagai lingkungan dan sekolah. Berlanjut ke ”Jaring nama dan misi”, peserta diajak untuk menuliskan satu kalimat, yaitu: ”Saya mengajar karena…” kemudian kertas tersebut dibentuk menjadi pesawat dan diterbangkan ke segala arah, peserta lain memungutnya kemudian membacakan pesawat yang ditemukan. Kalimat-kalimat dari peserta menjadi penyemangat dan menginspirasi rekan guru lainnya.

Baca Juga:  “Jangan Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis”

Rekoleksi dilanjutkan dengan sesi pertama dimana para peserta diajak melihat panorama pendidikan Katolik di paroki. Di wilayah teritorial paroki terdapat 8 sekolah  Katolik dari jenjang TK-SMA yang ’sehat’, tergambar pula tantangan sekaligus harapan umat terhadap pendidikan Katolik di paroki, termasuk didalamnya apresiasi dan harapan terhadap guru.

Sesi pertama ditutup dengan peta emosi, dari panorama yang telah dilihat guru diajak untuk menyadari apa emosi terbesar yang dirasakan saat ini sebagai guru Katolik. Emosi dominan yang muncul adalah bersyukur, bangga, dan terberkati, namun ada juga yang membagikan emosi sedih karena dalam kesehariannya mereka mengajar pendidikan agama di sekolah negeri yang sering tidak mendapat perhatian baik dalam hal kebijakan maupun fasilitas.

Baca Juga:  Paus Menyerukan Upaya Perdamaian dan Pembangunan di Wilayah Sahel Afrika

Rekoleksi kemudian masuk ke sesi kedua oleh Romo Louis. Ia menyajikan misi pendidikan Katolik yang merupakan sebuah panggilan, bukan sekedar institusi. Gereja mempunyai tugas mendidik, yang berarti berpartisipasi dalam misi Kristus. Kita diingatkan pula bahwa pengajaran adalan bagian integral misi Gereja. Gereja bukan hanya dipanggil untuk membaptis tetapi juga untuk mendidik – membentuk murid Kristus yang sejati, dan guru Katolik harus turut ambil bagian dalam misi ini. Pada sesi ini juga disajikan hasil kuesioner yang telah lebih dulu diedarkan pada satu minggu sebelum rekoleksi. Kuesioner menanyakan apa yang menjadi kebutuhan terbesar guru di paroki.

Dari kuesioner tersebut muncullah 3 hal temuan kunci dan implikasinya, yaitu: pertama, adanya kebutuhan komunitas yang sangat kuat, ini menjadi sinyal kuat bahwa Paroki perlu segera mewadahi komunitas Guru Katolik secara resmi. Kedua, rohani adalah prioritas utama, program rohani harus menjadi inti dari setiap kegiatan komunitas. Ketiga, guru ingin diakui dan didampingi, harapan akan pengakuan peran dan keterlibatan romo menunjukkan bahwa guru membutuhkan perhatian pastoral yang nyata, bukan sekedar program formal.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi Nomor 19

Sesi kedua ditutup dengan ’meja bundar’, peserta masuk ke dalam kelompok untuk berbagai sudut pandang tentang harapan lima tahun ke depan pendidikan Katolik di paroki seharusnya seperti apa, serta peserta diminta memberikan 1 komitmen konkret yang bisa dibawa pulang dari rekoleksi hari ini.

Rekoleksi ditutup sesi ketiga yang berjudul: satu hati, satu misi. Peserta dalam kelompok diminta untuk membuat gambar masing-masing di selembar kertas dengan sebelumnya tak berkomunikasi satu dengan lainnya, setelahnya semua peserta diminta untuk menarasikan kumpulan gambar tersebut, dan muncullah banyak tulisa reflektif dari keseharian sebagai guru. Hati perlahan terpaut dan kami bersiap untuk perjumpaan berikutnya demi mensyukuri panggilan sebagai guru dan bersedia ambil bagian dalam karya pewartaan kasih Allah.

Laporan Maria Vera dari Paroki Santa Maria Annuntiata Sidoarjo, Jawa Timur

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles