spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

“Jangan Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis”

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Sejarawan sekaligus budayawan penerima anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian berpesan kepada para seminaris, “Jangan Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis”. Hal ini disampaikan saat launching buku kumpulan puisi “Ragam Kilau Budaya Indonesia” di SMAK Seminari Mario John Boen, Pangkalpinang, Bangka, Sabtu (9/5/2026) petang.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang ini menuturkan, dalam perjalanan sejarah bangsa ini, keragaman budaya adalah faktor yang memperkokoh persatuan karena di dalam budaya terdapat kearifan-kearifan lokal. Kearifan lokal itulah yang kemudian dirajut dan menjadi satu bentuk budaya. Kearifan lokal seluruh nusantara telah mempersatukan Indonesia.

“Salah satu budaya para seminaris, berupa launching buku puisi, baik budaya puisi lisan maupun tulisan merupakan sesuatu yang luar biasa dalam konteks pengembangan literasi,” ujar Elvian.

Baca Juga:  Uskup Tri Harsono Lantik Kuria Keuskupan Bogor yang Baru
Para seminaris SMAK Seminari Mario John Boen unjuk kebolehan dengan membaca puisi dalam rangkaian launching buku “Ragam Kilau Budaya Indonesia”. (Foto: HIDUP/Caroline Fennie)

Sementara itu, Rektor sekaligus Vikjen Keuskupan Pangkalpinang Pastor Antonius Moa Talipung mengatakan bahwa puisi adalah bahasa hati yang melampaui batas kata.

“Ia lahir dari pengalaman, refleksi, dan cinta yang mendalam terhadap kehidupan. Buku ini bukan sekadar ontologi puisi, melainkan sebuah cermin kebangsaan,” tandasnya.

Adapun Ketua Gerakan Orang Tua Asuh (Gotaus) Seminari Menengah Mario John Boen Pangkalpinang, Ben Sorliam Nasiub menuturkan sebagai Ketua Gotaus, sekaligus sebagai pribadi yang sangat menghargai dunia literasi, ia merasa bangga. “Menulis itu bukan sekadar merangkai kata di atas kertas. Bagi saya, menulis adalah cara kita “berbicara” dengan diri sendiri dan dengan Tuhan,” ujar Ben.

Ia melanjutkan, “Dalam perjalanan hidup saya, saya belajar bahwa literasi adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk jujur pada perasaan, keberanian untuk mengamati keadaan, dan keberanian untuk menuangkan gagasan. Dunia boleh berubah, teknologi boleh melesat, tetapi kedalaman rasa dalam sebuah puisi tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin manapun. Puisi adalah jendela jiwa.”

Baca Juga:  Paus di Pompeii: Semoga Tuhan Meredakan Kebencian Antarsaudara dan Mencerahkan Para Pemimpin Dunia

Ben menegaskan, dunia membutuhkan orang-orang pintar, tetapi dunia jauh lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki empati dan literasi yang baik.

Dengan menulis, kalian sedang belajar memahami kemanusiaan. Jangan berhenti di sini. Teruslah mengasah pena kalian,” pesannya.

Hadir dalam acara tersebut, Rektor sekaligus Vikjen Keuskupan Pangkalpinang Pastor Antonius Moa Talipung, Kepala Sekolah SMAK Seminari Mario John Boen, Pastor Martinus Handoko, Pembimas Katolik Provinsi Bangka Belitung, Gregorius Heri Eko Prasojo, para undangan dan seminaris Seminari Menengah Mario John Boen.

Caroline Fennie (Pangkalpinang)

ARTIKEL SEBELUMNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles