spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Franz Magnis-Suseno, SJ: Sketsa Sebuah Profil

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – NAMA Franz Magnis-Suseno hampir tidak mungkin dilepaskan dari dunia pemikiran di Indonesia. Ia dikenal luas sebagai filsuf, budayawan, sekaligus rohaniwan Katolik yang berpengaruh. Selama lebih dari setengah abad, pemikirannya menyentuh berbagai bidang: etika, politik, budaya Jawa, filsafat ketuhanan, hingga refleksi tentang demokrasi dan hak asasi manusia. Ia mendapat banyak penghargaan, a.l. Bundesverdienstkreuz dari Pemerintah Jerman untuk orang Jerman yang telah berjasa mengharumkan nama negara (2001), dan Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah Indonesia atas jasanya dalam bidang kebudayaan dan filsafat (2015).

Namun jika harus diringkas dalam satu identitas utama, Franz Magnis-Suseno adalah seorang filsuf akademik. Ia mengabdikan sebagian besar hidupnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebuah institusi yang turut ia rintis sejak awal berdirinya pada 1969. Dari tempat inilah lahir banyak pemikir dan intelektual Indonesia yang dipengaruhi oleh pendekatan filsafatnya yang kritis, rasional, sekaligus humanis.

Di luar STF Driyarkara, ia juga lama mengajar di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, serta pernah menjadi dosen tamu di sejumlah universitas di Eropa. Melalui ceramah, buku, dan tulisan-tulisannya, Magnis menjadi salah satu suara moral yang penting dalam kehidupan intelektual Indonesia.

 Kehilangan Kampung Halaman

Franz Magnis-Suseno lahir dengan nama Franz Graf von Magnis pada 26 Mei 1936 di Eckersdorf, Silesia, Jerman. Ia berasal dari keluarga bangsawan Katolik yang terpandang. Ayahnya, Ferdinand von Magnis, adalah seorang doktor hukum, sementara ibunya, Anna Prinzessin zu Löwenstein-Wertheim-Rosenberg, berasal dari keluarga bangsawan yang taat beragama.

Keluarga besar Magnis memiliki tanah 17.000 hektar, setara dengan 195 kali luas Kebun Raya Bogor. Namun kekayaan itu hilang setelah Perang Dunia II berakhir. Berdasarkan keputusan Konferensi Potsdam (1945), wilayah Silesia dimasukkan ke dalam negara Polandia. Semua warga Jerman harus meninggalkan wilayah itu.

Keluarga Magnis pun mengalami nasib yang sama. Mereka terusir dari tanah leluhur dan kehilangan seluruh milik mereka. Pengalaman pahit ini menjadi bagian penting dalam pembentukan kepribadian Franz muda. Ia pernah mengenang bagaimana dirinya menangis tersedu ketika harus meninggalkan rumah masa kecilnya, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kembali lagi ke sana.

Setelah perang usai, keluarga Magnis menetap di wilayah Jerman Barat dalam kondisi jauh lebih sederhana. Dari pengalaman kehilangan itu, Franz belajar bahwa status sosial dan kekayaan bukanlah sesuatu yang kekal.

 Panggilan Menjadi Yesuit

Masa remaja Franz dihabiskan di Kolese St. Blasius, sebuah sekolah yang dikelola oleh para Yesuit, sebutan untuk anggota Serikat Yesus (SJ). Di lingkungan inilah ia menemukan panggilannya untuk menjadi imam.

Franz Magnis-Suseno, SJ

Pada usia 19 tahun, Franz memutuskan menjadi Yesuit. Tahun 1955 di Neuhausen ia menjalani dua tahun masa novisiat, sebuah periode pembinaan rohani yang sangat menentukan arah hidupnya. Di sinilah ia mendalami spiritualitas Yesuit yang menekankan refleksi intelektual, kedalaman rohani, dan keterlibatan dalam dunia. Setelah itu ia melanjutkan studi filsafat di Pullach, dekat München. Pada tahun 1960 ia menyelesaikan karya ilmiahnya tentang hubungan pemikiran Hegel, Karl Marx, dan Thomas Aquinas. Penelitian ini menunjukkan minatnya yang besar pada filsafat sosial dan pemikiran Marx, yang kelak menjadi salah satu bidang kajiannya.

Baca Juga:  Menumbuhkan Talenta demi Kemuliaan Tuhan: Sebuah Perjalanan Kreatifitas

Saat studi itulah Franz membaca berita tentang konflik politik antara Indonesia dan Belanda terkait Irian Barat. Konflik tersebut membuat hubungan diplomatik kedua negara putus, sehingga banyak misionaris Belanda tidak dapat melanjutkan karya mereka di Indonesia.

Sebagai anggota Serikat Yesus dari provinsi Jerman, yang tidak memiliki masalah politis dengan Indonesia, Franz melihat kesempatan untuk membantu. Ia mengajukan diri untuk diutus sebagai misionaris ke Indonesia.

 Indonesia dan “Suseno”

Frater Franz von Magnis tiba di Jakarta pada 29 Januari 1961, saat musim hujan. Kedatangannya menandai awal perjalanan panjang yang kelak membuatnya menjadi salah satu intelektual penting di Indonesia.

Pada tahun-tahun pertama, ia menjalani masa pembinaan sebagai frater misionaris dengan belajar bahasa dan budaya Jawa. Ia tinggal di Ungaran dan Boro di Jawa Tengah, kemudian menjadi pamong asrama di Kolese Kanisius Jakarta.

Setelah itu ia melanjutkan studi teologi di Yogyakarta. Pada 31 Juli 1967, Franz ditahbiskan menjadi imam di Gereja Santo Antonius Kotabaru.

Keputusan penting berikutnya adalah menjadi warga negara Indonesia. Prosesnya dimulai pada tahun 1970, namun baru selesai 1977. Saat itulah ia melepaskan nama bangsawannya, “Graf von Magnis”, namun mempertahankan nama Franz. Ia lalu menggabungkan nama keluarganya (Magnis) dengan “Suseno”. Maka jadilah kini: Franz Magnis-Suseno. Mengapa Suseno? Menurut pengakuannya sendiri, ia hanya menyukai lafal nama itu yang “enak” didengar. Namun kemudian dari rekannya, ia mengetahui bahwa ada tokoh wayang yang dikagumi orang Jawa, yakni adipati Karna dengan nama lengkap Karna Batusena. Kata sena dalam bahasa Sanskerta berarti “pejuang”. Selain itu tokoh wayang lainnya adalah Bratasena alias Bima. Dalam kisah Dewaruci, Bima adalah sosok yang memiliki kemurnian hati dan kedalaman batin. Magnis lalu merasa makin mantap dengan nama pilihannya yang orang kaitkan dengan kedua tokoh wayang pencari dan pejuang kebenaran itu.

Mendirikan STF Driyarkara

Tahun 1969, Franz Magnis bersama beberapa rekannya mendapat tugas mendirikan sebuah sekolah filsafat di Jakarta. Lembaga itu kemudian dikenal sebagai Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Nama Driyarkara diambil dari nama almarhum Romo Nicolaus Driyarkara SJ, pengajar filsafat yang bercita-cita agar filsafat mendapatkan tempat di dalam kancah pemikiran intelektual bangsa Indonesia dengan segala persoalannya. Untuk memperkuat kompetensinya, Magnis kembali ke Jerman pada tahun 1971 guna melanjutkan studi doktoral pada Ludwig Maximilian Universität München. Ia meraih gelar doktor dengan disertasi tentang pemikiran Karl Marx muda.

Baca Juga:  Tokoh Bangsa dari Tanah Jerman untuk Indonesia

Selain belajar, di Jerman ia juga berusaha mencari dana untuk pembangunan STF Driyarkara. Melalui jaringan keluarga dan kerabat di Eropa, Franz berhasil mengumpulkan berbagai dukungan finansial bagi lembaga yang sedang dirintis itu.

Sepulang dari Jerman, Magnis mengabdikan dirinya sepenuhnya sebagai dosen dan penulis buku filsafat. Dalam pendekatan filsafatnya, Magnis menggunakan metode yang ia sebut pendekatan kritis-negatif. Metode ini tidak memulai perjalanannya dengan menetapkan posisi atau norma tertentu terlebih dahulu. Sebaliknya, ia memaparkan berbagai pandangan atau teori yang sudah ada mengenai sebuah perkara. Setelah itu, teori-teori tersebut diperiksa secara kritis: mana yang dapat diterima secara rasional dan mana yang harus ditolak.

Bagi Magnis, filsafat bukan sekadar mempelajari aneka pandangan para filsuf, melainkan  sebuah petualangan intelektual yang terus menguji aneka ajaran yang ia temui secara kritis. Ia sudah lama sadar, bahwa keahliannya dalam bidang filsafat akan lebih diperlukan di Indonesia. Sebab, seperti pernah Magnis katakan dalam surat kepada ibunya di Jerman (1967), di Indonesia “kurang ahli-ahli teoretis yang bisa membawakan aneka seminar mengenai masalah-masalah HAM, Kebebasan Beragama, Kewajiban Negara, apa itu kebenaran, dsb.”

Peran Filsafat

 Tetapi untuk apa sih filsafat? Apa perannya di Indonesia? Magnis memberikan lima jawaban.

Pertama, filsafat dapat menggali kembali kekayaan rohani bangsa Indonesia. Ia dapat menemukan khazanah rohani yang terpendam dalam tradisi-tradisi intelektual dan religius pelbagai wilayah kebudayaan di Indonesia, baik yang lisan maupun yang tertulis. Dari tradisi rohani bangsa filsafat dapat mengangkat  percikan-percikan filosofis yang termuat di  dalam­nya.

Kedua, filsafat dapat memainkan peranan penting dalam usaha bangsa menghadapi tantangan modernisasi. Menurut Magnis, modernisasi merupakan sebuah dinamika perubahan global yang menjanjikan “kemajuan-kemajuan” cemerlang, namun sekaligus dapat merusak struktur-struktur kemanusiaan dan mengancam identitas, bahkan eksistensi komunitas-komunitas  yang terkena  olehnya. Modernisasi sarat dengan klaim-klaim ideologis bahwa ia merupakan nilai pada dirinya sendiri yang tidak boleh ditolak, yang tinggal diterima secara utuh, yang tidak boleh dipilah-pilah dst. Klaim-klaim itu diperiksa dengan kritis oleh filsafat. Maka filsafat, demikian Magnis menilai, mengembalikan kepada bangsa ruang kebebasan  untuk menentukan sendiri sikapnya terhadap modernisasi dan globalisasi yang tak bisa ditahan itu, menyangkut arah, kecepatan dan prioritas modernisasi serta menolak beberapa unsur yang tidak kita kehendaki.

Ketiga, sebagai kritik ideologi filsafat membantu membuka kedok-kedok ideologis yang dipasang oleh pihak Penguasa atau mereka yang ingin berkuasa untuk memantapkan posisinya. Paham-paham yang sarat kepentingan dan pamrih Penguasa sering terungkap dalam ungkapan, seperti “nilai-nilai ketimuran”, “kebebasan yang bertanggungjawab”, “demokrasi kita tidak mengenal oposisi”, “SARA”, “mayoritas – minoritas”, atau “demi pembangunan”. Semua ini dianalisa secara kritis oleh filsafat dan dibuka maksud yang sebenarnya. Pelanggaran keadilan dan hak-hak asasi manusia atas dasar pelbagai alasan ideologis itu ditelanjangi.

Baca Juga:  Pesparani Sumut III, Hendrik Sitompul: Pesparani Harus Menjadi Ruang Pelayanan dan Persaudaraan

Keempat, filsafat merupakan landasan yang sangat cocok untuk berpartisipasi dalam kehidupan intelektual bangsa. Filsafat di satu pihak membantu mencegah pemicikan kehidupan intelektual, mengatasi pragmatisme dan pemikiran sempit teknokratis, di lain pihak menyediakan sebuah bahasa bersama yang memungkinkan pertemuan intelektual pelbagai partisipan  dari  beraneka orientasi intelektual.

Akhirnya, kelima, filsafat secara khusus cocok sebagai landasan bagi dialog antaragama. Agama sendiri dapat saja mendorong untuk berdialog, tetapi tidak dapat menjadi landasan bersama, justru karena agama-agama berbeda satu sama lain. Tetapi filsafat, dengan mendasarkan diri pada nalar semata-mata tanpa pengandaian kepercayaan dan keyakinan tertentu, dapat menjadi landa­san di mana partisipan dialog dari pelbagai agama dan keyakinan bertemu. Filsafat membantu agar mereka dapat menemukan kesamaan dalam keterlibatan pada hak-hak asasi manusia, demokrasi dan keadilan. Filsafat membentuk kesadaran bersama akan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Franz Magnis-Suseno, SJ sedang menyampaikan orasi di depan Istana Merdeka Jakarta pada “Aksi Kamisan”.

Demikianlah pada akhirnya, menurut Magnis, filsafat  itu  sederhana dan canggih sekaligus. Ia “canggih” dan tidak gampangan, karena harus memakai metode-metode yang mendalam agar terhindar dari simplikasi masalahi. Maka filsafat menuntut keahlian dalam cara-cara pendekatannya dan pengenalan khazanah pemikiran filosofis sepanjang zaman. Tetapi filsafat juga “sederhana”, sebab permasalahan-permasalahannya pada akhirnya menyangkut pertanyaan dasar manusia. Masuk ke alam filsafat menuntut ketekunan dan konsentrasi, akan tetapi ganjarannya adalah suatu peluasan cakrawala intelektual yang dapat dialami sebagai amat memuaskan.

 Penjaga Nurani

Selama puluhan tahun, Franz Magnis-Suseno telah memainkan peran penting dalam dunia intelektual Indonesia. Melalui karya-karyanya, ia membantu masyarakat memahami persoalan moral, politik, dan budaya secara lebih mendalam.

Ia dikenal sebagai pemikir yang menjembatani berbagai dunia: antara filsafat dan teologi, antara tradisi Barat dan Indonesia, khususnya budaya Jawa, antara refleksi akademik dan kehidupan sosial. Dalam setiap tulisannya, Magnis selalu menekankan pentingnya martabat manusia, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Hingga kini, ia masih aktif menulis dan berbicara tentang isu-isu penting seperti demokrasi dan hak asasi manusia. Suaranya tetap menjadi pengingat bahwa filsafat tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bagi banyak orang, Franz Magnis-Suseno bukan sekadar seorang filsuf. Ia adalah penjaga nurani publik yang terus mengajak bangsa ini berpikir jernih, bertindak adil, dan hidup bermartabat.

S.P. Lili Tjahjadi, Ketua STF Driyarkara Jakarta

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No.21, Terbit Minggu, 24 Mei 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles