spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Terobosan Keuskupan Purwokerto, Selamatkan Keluarga dari Jerat Finansial

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – RENCANA pernikahan yang telah dirajut indah oleh pasangan muda asal Bandung, Steve Haryadi dan Evelyn Henrietta, nyaris berujung pada kegagalan. Pil pahit harus mereka telan ketika uang tabungan bersama yang diinvestasikan melalui sebuah arisan raib tak berbekas. Menyesali keadaan tentu bukan jalan keluar. Mereka akhirnya rela menunda tanggal pernikahan, kembali mengumpulkan pundi-pundi tabungan, hingga akhirnya mampu menggelar upacara pernikahan yang sangat bersahaja.

Dari pengalaman kelam tersebut, Pasutri Steve dan Evelyn memetik sebuah pelajaran berharga: mengelola keuangan bagi keluarga baru bukanlah perkara membalik telapak tangan. Menyatukan dua visi yang berbeda terkait uang adalah tantangan pertama dan paling fundamental.

“Kunci pertama adalah dialog, saling mendengarkan, dan berkomunikasi. Setelah itu harus membuatkan kesepakatan bersama,” ungkap Steve.

Kisah nyata ini menggema dalam kegiatan bertajuk WeekEnd Harta Surgawi yang diinisiasi oleh Komisi Keluarga Keuskupan Purwokerto pada Sabtu-Minggu, 4-5 Juli 2026. Bertempat di Rumah Retret Hening Griya Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah, acara ini dihadiri oleh 75 peserta yang merupakan Tim Kerasulan Keluarga Paroki (TKKP) dan para pemateri kursus pra-nikah dari 26 paroki di wilayah Keuskupan Purwokerto.

Baca Juga:  Mencermati Actus Immoralis Pejabat Publik
Seluruh peserta dan pembicara WeekEnd Harta Surgawi.
(Dok. Komsos Keuskupan Purwokerto)

Taklukkan hawa nafsu, menata masa depan

Untuk menyajikan materi yang holistik, Keuskupan Purwokerto menggandeng tim pemateri dari Keuskupan Bandung, seperti Awan Santosa, Samuel Rudijanto, Hartono Suwarna, dan Toni Hartono, serta konsultan keuangan dari Purwokerto, Teresa Kartika Widjaja. Selama dua hari, peserta diajak meresapi kembali konsep keluarga sejati Katolik, menata financial mindset, menyusun financial planning, hingga belajar melepaskan diri dari jerat utang dan investasi bodong.

Menurut Awan Santosa, kegagalan sebuah keluarga jarang sekali disebabkan oleh kurangnya cinta, dan seringkali bukan semata-mata karena kurangnya penghasilan. Kegagalan itu muncul karena pasangan suami-istri tidak memiliki kesamaan arah dalam membangun kehidupan. Uang sering kali disalahartikan sebagai tujuan hidup, padahal ia hanyalah alat. Uang tidak bisa membeli kehangatan keluarga, tetapi jika dikelola dengan bijak, ia mampu menghadirkan ketenangan, pendidikan yang baik bagi anak, dan jaminan kesehatan.

Lebih dalam lagi, Samuel Rudijanto menyoroti akar dari malapetaka keuangan, yaitu hawa nafsu. Ia menekankan bahwa mengendalikan nafsu konsumtif tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendaraskan doa; dibutuhkan perubahan nyata dalam pola pikir dan kebiasaan.

Baca Juga:  FABC: Asia Terluka, Gereja Dipanggil Menjadi Jembatan

Di ranah perlindungan keuangan keluarga, Hartono Suwarna memaparkan pentingnya manajemen risiko dan perencanaan. Kehidupan keluarga penuh dengan ketidakpastian; sakit,

kecelakaan, PHK, hingga bencana bisa datang kapan saja. “Prinsipnya, jangan biarkan satu kejadian menghancurkan seluruh rencana keuangan keluarga. Membangun kekayaan itu penting, tapi melindunginya dengan dana darurat dan asuransi juga sama pentingnya,” ujar Hartono sembari menegaskan bahwa gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.

Inflasi, investasi, dan kebijaksanaan ilahi

Menabung saja rupanya belum cukup untuk menghadapi realitas ekonomi. Teresa Kartika Widjaja, dalam sesinya mengenai investasi dasar, mengingatkan para peserta tentang musuh tak terlihat yang bernama inflasi. Untuk melawannya, keluarga perlu melakukan “multiplikasi” kekayaan melalui instrumen investasi yang sah.

Menariknya, Kartika menautkan konsep investasi ini dengan ajaran alkitabiah, khususnya Perumpamaan tentang Talenta. Tuhan mengecam hamba yang hanya mengubur satu talentanya karena ketakutan. “Ternyata Tuhan juga ingin kita melakukan multiplikasi. Uang seharusnya dijalankan agar memberikan hasil,” paparnya. Meski demikian, umat Katolik harus tetap menggunakan hikmat dan kewaspadaan agar terhindar dari investas bodong yang menggiurkan namun menyesatkan.

Baca Juga:  Pastor Johanis Mangkey Merayakan HUT Ke-45 Imamat dengan Cara yang Berbeda

Tantangan lintas generasi, relevansi modul pra-nikah

Mengedukasi umat tentang uang nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam wawancara terpisah, Romo Agustinus Dwiyantoro menguraikan tantangan terbesar dalam pendampingan keluarga, yakni komunikasi mengenai harta.

Masih banyak pasangan yang tidak terbuka tentang apa yang mereka beli, di mana mereka berinvestasi, atau bahkan menyembunyikan utang dan kegagalan finansial akibat rasa malu.

Tantangan lainnya adalah jurang pemisah antargenerasi (generation gap). Para pendamping pra-nikah di paroki umumnya berasal dari Generasi X atau Baby Boomers, sementara pasangan yang akan menikah didominasi oleh Generasi Z dengan bahasa dan gaya hidup yang sangat berbeda. Mengingat waktu kursus pra-nikah yang terbatas, tidak mungkin menjejali seluruh teori finansial kepada calon pasutri.

Maka, Gereja ditantang untuk merumuskan ulang metode pengajarannya agar lebih kontekstual dan berbasis pengalaman iman.

Bagi Romo Toro, langkah nyata ke depan adalah memformulasikan guideline atau modul pendampingan ekonomi rumah tangga yang baku sebagai acuan di tingkat keuskupan, yang bahkan diharapkan dapat menginspirasi keuskupan-keuskupan lain di Indonesia.

Prayogo, dari Purwokerto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles