HIDUPKATOLIK.COM – Forum of Asian Bishops’Conference (FABC) atau Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) XII diadakan di Jakarta. Konferensi ini berlangsung, 20- 26 Juli 2026. Konferensi ini diawali dengan misa pembukaan mulai pk 9.00 pada Selasa 21 Juli 2026 dengan suasana meriah dan semarak ke-Indonesia-an.
Dalam misa ini, Panitia menghadirkan kekayaan seni budaya Nusantara baik melalui pakaian daerah yang dikenakan oleh peserta paduan suara, penari, maupun dengan menghadirkan alat-alat musik sejumlah daerah Indonesia untuk mengiringi lagu-lagu dalam sejumlah rangkaian liturgi.
Di awal misa, para uskup dan kardinal serta peserta FABC disambut menuju altar dengan iringan suara Gondang Uning-uningan (alat-alat musik dari Batak Toba, Sumatera Utara) dan Tortor Panomu-nomuan (tarian menuju altar), dilanjutkan dengan lagu pembukaan “Dengan Gembira”, dengan iringan gondang, pimpinan Kasdin Sihotang.

Dalam misa ini ada empat alat musik tradisional Batak Toba yang dimainkan, yakni taganing (terdiri dari enam gendang). Alat ini dimainkan oleh Angela Dian Situmorang, tiga ogung, yang dimainkan oleh Laurensia Meida Sihotang, seruling oleh Alfredo M Sihotang dan hasapi (kecapi) yang dimainkan oleh Kasdin Sihotang.
Tiga nama yang disebutkan pertama adalah anak-anak muda Katolik yang berbakat musik dan mencintai budaya daerah. Keterlibatan anak muda Katolik dalam memainkan musik tradisional sekaligus memiliki tujuan luhur, yakni menanamkan kecintaan kaum muda terhadap seni budaya bangsanya. Ini merupakan cita-cita dari pimpinan grup musik ini dalam rangka bagian dari upaya mewujudkan ungkapan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ, “100% Katolik dan 100% Indonesia”.
Di bagian persembahan, alat musik yang ditampilkan adalah keroncong, yang juga menjadi bagian kekayaan seni budaya bangsa. Alat-alat musik ini mengiringi lagu persembahan dengan judul “Bawalah Persembahanmu” dengan tarian bernuansa daerah Jawa. Di lagu penutup, alat musik tradisional lain yang ikut menyemarakkan misa kudus berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur (Flores) dengan mengiringi lagu “Wartakanlah”, yang bergamblang Flores, NTT.
Misa pembukaan Konferensi FABC XII dipimpin oleh Kardinal Tarcisius Isao Kikuchi, SVD (Uskup Agung Tokyo sekaligus Sekretaris Jenderal FABC).Dalam homilinya, Kardinal Kikuchi menekankan bahwa harapan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli, melainkan lahir dari perjumpaan dengan sesama yang saling peduli. Beliau juga menyoroti bagaimana semangat sinodalitas telah lama mengakar dalam budaya Asia melalui nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan saling menghargai. Misa ini dihadiri oleh kurang lebih seratus uskup dan sejumlah kardinal dari seluruh benua Asia.
Setelah misa, rangkaian acara selanjutnya acara seremonial pembukaan konferensi. Selain Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, hadir pula Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. Dalam Kata Sambutannya, Menteri Agama mengapresiasi FABC menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi FABC ke-12, dan berharap agar dari hasil konferensi ini tercetus gagasan-gagasan segar untuk memajukan kemanusiaan di Asia melalui tugas menciptakan perdamaian, solidaritas yang adil. Indonesia sebagai bagian dari negara di Asia menghidupi pluralitas. Pluralitas menurut KH Nasaruddin Umar adalah bagian ciri kehidupan Indonesia. “Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam suku, agama dan ras, dan dalam keragaman Indonesia berjuang membangun kerukunan melalui kerjasama untuk mencapai kesejahteraan” begitu tandas imam besar Mesjid Istiqlal tersebut.
Sementara Ketua KWI, mempertegas kembali kotbah Kardinal Tarcisius Isao Kikuchi, SVD, tentang pentingnya melanjutkan gerakan sinodal dalam gereja dengan dialog,lebih-lebih di Asia yang hidup dalam keberagaman dengan mendengar sebelum berbicara. Di akhir Sambutannya, Uskup Bandung itu menekankan pentingnya menjadikan gerakan sinode sebagai jembatan dialogal sebagaimana pernah dipesankan oleh Paus Franciskus.
Selama acara seremonial pembukaan, berbabagai budaya Nusantara juga ditampilkan dalam bentuk sendra tari dan lantunan lagu-lagu, kemudian dilanjutkan dengan Konferensi. Pada pk 19.30, konferensi ditutup dengan ibadat malam. Menarik bahwa ibadat malam dibawakan dalam bahasa Batak Toba. Pembawa Ibadat adalah Dion Sihotang, mewakili Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara (IKKSU), yang dilibatkan dan dipercayakan oleh Ketua KWI dalam membawakan acara ini.

Di awal sebelum mulai ibadah, dalam Bahasa Inggris, MC menginformasikan kepada peserta Konferensi bahwa ibadat dilaksanakan dalam nuansa Batak Toba, salah satu suku di Sumatera Utara. Mengawali ibadat lagu tentang Maria berbahasa Bahasa Batak Toba berjudul “O Ina Ni Tuhanta I” ( Ya Bunda Tuhan Kami) dinyanyikan oleh dr Endang dengan iringan alat musik tradisional Batak Toba, yakni seruling (oleh Kasdin Sihotang), taganing (oleh Dian Situmorang), dan organ (oleh Alfredo M Sihotang). Sementara lagu “Tolonglah Kami Maria”, lagu penutup ibadat dilantunkan oleh Angela Gea, dari IKKSU dengan iringan organis gereja handal, Alfredo M Sihotang.
Para Uskup dan peserta Konferensi sangat mengapresiasi kekayaan seni budaya Nusantara dalam misa pembukaan dan dalam ibadat penutup. FABC XII masih akan berlanjut hingga tanggal 26 Juli 2026, dan akan diakhiri dengan misa penutupan yang direncanakan diadakan di Gereja Katedral Jakarta.







