HIDUPKATOLIK.COM – Ada orang yang membangun pengaruh melalui suara dan suasana yang berisik, tetapi ada pula yang menghadirkan pengaruh melalui ketenangan, ketekunan, dan kesetiaan pada kebenaran. Dalam kehidupan seorang imam-biarawan, kedewasaan bukan semata-mata diukur dari panjangnya masa pengabdian atau besarnya tanggung jawab, melainkan dari kesediaan untuk terus belajar, mengoreksi diri, dan melayani dengan rendah hati.
Pada 20 Oktober 2026, sahabat saya, RP. Fransiskus Pastor Bram Tulusan MSC, genap berusia 44 tahun. Bagi saya, ulang tahun ini bukan sekadar perayaan pertambahan usia, melainkan momentum untuk mensyukuri perjalanan panggilan, mengenang persahabatan, dan merefleksikan makna pelayanan. Kami pernah berjalan bersama dalam Pranovisiat MSC Pineleng (2001–2002), Novisiat Sananta Sela di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah (2002–2003), serta Skolastikat MSC Pineleng dan STF Seminari Pineleng (2003–2006).
Saya mengenal Pastor Bram sebagai pribadi yang kalem, tenang, agak pemalu, tekun, suka belajar, mencintai doa, dan senang berdiskusi serta berbagi pengalaman. Ia juga dikenal memegang prinsip, gemar berefleksi, dan berusaha mengendalikan emosi, pikiran, serta perasaan. Pengalaman didikan ayah yang tegas dan disiplin serta kasih sayang mama yang lembut menjadi bagian dari latar belakang kehidupannya.
Karakter tersebut merupakan modal berharga, tetapi bukan tanda bahwa seseorang telah selesai bertumbuh. Kedewasaan justru terlihat dalam kesediaan untuk terus mengevaluasi diri. Erikson (1963) menjelaskan bahwa perkembangan manusia berlangsung melalui proses pembentukan identitas dan kematangan dalam relasi dengan sesama. Karena itu, pendidikan calon imam tidak cukup menghasilkan pribadi yang cakap secara intelektual dan rohani, tetapi juga manusia yang matang, mampu mendengarkan, menerima koreksi, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Kebenaran dan Keberanian Moral
Salah satu ungkapan yang saya ingat dari Pastor Bram adalah gagasan yang dikaitkan dengan Socrates: lebih baik dibenci karena mengatakan kebenaran daripada dicintai karena berbohong. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa integritas sering kali menuntut keberanian untuk memilih kebenaran daripada kenyamanan.
Dalam Apology, Plato (1997) menggambarkan Socrates sebagai pribadi yang mempertahankan pencarian kebijaksanaan dan pemeriksaan moral. Namun, keberanian membela kebenaran tidak sama dengan merasa paling benar. Prinsip tetap harus diuji melalui fakta, dialog, akal sehat, dan kesediaan menerima kritik.
Yesus mengajarkan, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak” (Mat. 5:37, Alkitab Terjemahan Baru). Kebenaran perlu disampaikan dengan jujur, tetapi juga dengan kasih dan tanggung jawab. Ketegasan tanpa empati dapat melukai, sedangkan keramahan yang menutupi kebohongan dapat merusak kepercayaan.
Bagi seorang imam-biarawan, integritas berarti berani menyampaikan yang benar, terbuka terhadap evaluasi, dan tidak membiarkan kepentingan pribadi mengalahkan suara hati nurani. Ketenangan perlu berjalan bersama keberanian, sementara prinsip harus disertai kerendahan hati.
Dari Pelayanan Menuju Kepemimpinan
Perjalanan pelayanan Pastor Bram meliputi tugas pastoral di Paroki Hati Kudus Yesus Tegal, pelayanan di Seminari Yudas Thadeus Langgur, tugas pembinaan di Seminari F. X. Kakaskasen dan Skolastikat MSC Pineleng, studi di Cor Vitae Manila, serta pelayanan sebagai magister postulan MSC Pineleng. Sejak 2024, ia bertugas di Generalat MSC Roma, Italia, sebagai salah satu asisten Pater General (Tulusan, 2026).
Perjalanan ini memperlihatkan perluasan tanggung jawab dari pelayanan pastoral dan pembinaan menuju kepemimpinan tarekat pada tingkat internasional. Namun, jabatan bukan ukuran otomatis kesucian atau kebijaksanaan. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kebutuhan akan integritas, keterbukaan, dan pertanggungjawaban.
Dalam Injil Markus, Yesus mengajarkan bahwa siapa yang ingin menjadi besar harus menjadi pelayan bagi yang lain (Mrk. 10:43–45). Prinsip ini sejalan dengan gagasan servant leadership yang dikembangkan Greenleaf (1977): kepemimpinan sejati berorientasi pada pertumbuhan dan kebaikan orang-orang yang dilayani.
Bagi seorang pemimpin tarekat, pelayanan berarti mendengarkan, membangun kepercayaan, menghormati perbedaan budaya, serta mengambil keputusan demi misi bersama. Spiritualitas Hati Kudus Yesus tidak cukup berhenti pada devosi, tetapi perlu diwujudkan dalam belas kasih, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Tanggung jawab di Generalat Roma juga menuntut kepekaan terhadap persoalan Gereja dan dunia, mulai dari kemiskinan dan ketidakadilan hingga perubahan sosial serta kebutuhan generasi muda. Kepemimpinan yang sehat harus menjaga keseimbangan antara kesetiaan pada kharisma tarekat dan keberanian membaca tanda-tanda zaman. Kewenangan perlu dijalankan sesuai norma Gereja, dengan menghormati hak, kewajiban, dan martabat setiap anggota (Yohanes Paulus II, 1983).
Kerapuhan Manusia dan Kesetiaan pada Panggilan
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan, keterbatasan, dan sisi kehidupan yang masih perlu dibenahi. Karena itu, pengendalian diri bukan berarti menekan seluruh perasaan atau menghindari konflik, melainkan kemampuan mengenali emosi dan memilih tanggapan yang bertanggung jawab. Frankl (2006) mengingatkan pentingnya sikap manusia dalam menghadapi keadaan hidup yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Bagi imam-biarawan, doa dan refleksi harus berjalan bersama keterbukaan terhadap koreksi, pendampingan, dan pembinaan berkelanjutan. Yohanes Paulus II (1992) menegaskan pentingnya pembinaan imam yang terus-menerus. Tahbisan bukan akhir proses pertumbuhan, melainkan panggilan untuk semakin matang secara manusiawi, rohani, dan pastoral.
Kesadaran akan identitas imam-biarawan tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain atau menolak kritik. Sebaliknya, identitas panggilan harus tampak dalam integritas, tanggung jawab, dan cara memperlakukan sesama. Mengakui kesalahan bukan kehilangan martabat; meminta maaf bukan kekalahan; menerima kritik bukan tanda kegagalan.
Pepatah tidak ada gading yang tak retak mengingatkan bahwa kelemahan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, kelemahan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk membiarkan kesalahan berulang. Yang menentukan adalah kesediaan untuk mengakui kekeliruan, memperbaikinya, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam hal ini, dukungan kepada Pastor Bram bukan pernyataan bahwa ia tanpa kekurangan. Sebagai sahabat seperjalanan, saya justru berharap ia terus memelihara kerendahan hati, keterbukaan, dan keberanian memperbarui diri. Harapan yang sama juga berlaku bagi saya dan semua orang yang menjalani panggilan pelayanan.
Usia 44 tahun: Syukur dan Pembaruan
Pemazmur berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12, Alkitab Terjemahan Baru). Usia 44 tahun merupakan kesempatan untuk bersyukur atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus mengevaluasi tanggung jawab yang masih menanti.
Bagi Pastor Bram, tugas di Generalat MSC Roma merupakan kesempatan untuk semakin mengembangkan kepemimpinan yang melayani. Semoga ia terus tekun belajar, setia dalam doa, berani mempertahankan kebenaran, dan terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Semoga kewenangan yang dipercayakan kepadanya semakin menjadi sarana untuk membangun persaudaraan dan mendukung pertumbuhan sesama.
Paus Fransiskus (2020), dalam Fratelli tutti, menekankan pentingnya persaudaraan dan persahabatan sosial di tengah dunia yang mudah terpecah oleh kepentingan dan prasangka. Pesan ini juga relevan bagi kehidupan religius: persaudaraan bukan berarti semua orang selalu sepakat, melainkan kesediaan untuk tetap saling menghormati, mendengarkan, dan mendukung di tengah perbedaan.
Bagi saya, persahabatan yang berawal dari masa formasi tidak berakhir ketika tugas dan tempat pelayanan berubah. Jarak geografis dan perbedaan jabatan tidak menghapus kesetaraan martabat. Justru ketika tanggung jawab semakin besar, seorang sahabat tetap membutuhkan doa, dukungan, dan pengingat yang tulus.
Selamat ulang tahun ke-44, RP. Fransiskus Pastor Bram Tulusan MSC. Semoga Tuhan senantiasa meneguhkan panggilanmu, memelihara kesehatanmu, menjernihkan pikiranmu, melembutkan hatimu, dan menguatkan keberanianmu untuk terus melayani.
Semoga engkau tetap teguh dalam prinsip tanpa menutup diri terhadap koreksi, setia pada kebenaran tanpa kehilangan kelembutan, serta rendah hati di tengah tanggung jawab yang semakin besar.
Ad multos annos, Pater Pastor Bram! Teruslah bertumbuh, teruslah belajar, dan jangan pernah berjalan sendirian. Kita saling mendukung, saling mengingatkan, dan saling mendoakan. Sebab, panggilan bukanlah perjalanan menuju kesempurnaan tanpa cela, melainkan kesediaan untuk terus dibentuk Tuhan dan menjadikan hidup sebagai pelayanan.
Biodata Singkat
RP. Fransiskus Pastor Bram Tulusan MSC lahir di Kotamobagu pada 20 Oktober 1982. Ia mengikrarkan kaul pertama sebagai anggota Serikat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) pada 10 Agustus 2003 di Karanganyar, Jawa Tengah, dan ditahbiskan menjadi imam pada 29 Juni 2011 di Katedral Manado. Ia pernah menjalankan pelayanan pastoral, tugas pembinaan di sejumlah lembaga formasi MSC, dan studi di Filipina. Sejak 2024, ia bertugas di Generalat MSC Roma, Italia, sebagai salah satu asisten Pater General. (*)







