HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Dari Balik Tumpukan Arsip Kehendak Tuhan Bekerja

102
Pauline Monika Lohanda.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Dari Balik Tumpukan Arsip Kehendak Tuhan Bekerja
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Menjadi mahasiswa jurusan sejarah tak ada dalam benaknya. Tapi ia justru dikenal sebagai salah satu sejarawan. Tuhan yang mengarahkan, katanya penuh keyakinan.

Suatu hari, Mona ditanya teman sejurusnya di Department of History, School of Oriental and African Studies, University of London, Inggris. Apa sebab negara seluas Indonesia bisa dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, padahal luas negara itu lebih kecil dari Provinsi Jawa Timur? Perempuan bernama lengkap Pauline Monika Lohanda penasaran mencari jawaban.

Dari berbagai arsip, ia menemukan, elite penguasalah yang membuat Nusantara takluk kepada pihak asing. “Belanda tak menguasai negeri ini secara langsung. Mereka memanfaatkan dan menguasai sultan atau raja lebih dulu,” ujar Mona, saat ditemui di kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta Pusat, Senin, 14/8.

Pertanyaan temannya itu juga yang menjadi pendorong bagi Mona untuk mengkonsentrasikan ilmunya pada sejarah Kongsi Dagang Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC). Guna mempelajari arsip VOC, perempuan kelahiran Tangerang, 4 November 1947 ini mempelajari paleografi.

Sekadar Iseng
Lantaran kemampuan bahasa Belanda, serta jam terbang yang tinggi dalam menangani arsip, ia dipinang Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) KWI. “KWI meminta saya karena banyak arsip menggunakan bahasa Belanda,” ujar Mona, yang bekerja di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sejak 1972 hingga 2012.

Tak ada kata pensiun dalam kamus hidup Mona. Pada usianya yang semakin meninggi, ia masih cawe-cawe di sana-sini. Selain KWI, Mona masih didapuk sebagai salah satu anggota tim penilai Pahlawan Nasional dan cagar budaya. Ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai seminar.

Peraih sejumlah penghargaan, seperti Anugerah Budaya Pemerintah DKI Jakarta 2011, Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2012, serta Anugerah Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012 ini, kadang keteteran dengan seabrek kegiatan. Ia
rutin menulis jadwal harian dan menjalankan dengan ketat untuk mengurai kesibukan.

Mona pun meyakini, profesi dan aneka karya hingga kini tak lepas dari campur tangan Tuhan. “Saya percaya, apa yang saya terima bukan pilihan saya, tapi kehendak Tuhan,” ujar umat Paroki Hati St Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta.

Alumnus Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia (UI) itu membeberkan, ia masuk ke Jurusan Sejarah secara tak sengaja. Sewaktu SMP, siswi yang hobi menulis puisi ini memilih jurusan budaya. Ketika SMA, saat gurunya ingin memasukkan ke jurusan Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Mona ngotot memilih budaya.

Mona sebenarnya ingin menjadi mahasiswa Sastra Indonesia. Tapi di UI, jurusan itu lebih belajar bahasa Arab dan Melayu. Mona pun iseng mendaftar dan diterima di Jurusan Sejarah. Ia beruntung, bapaknya, Dirun Lohanda, memberi keleluasaan untuk memilih jurusan sendiri. “Papa orangnya liberal. Bagi Papa yang penting saya bisa sekolah,” kenang anak kedua dari 14 bersaudara.

Begitu juga ketika ia masuk ANRI. Mona tak pernah melamar, justru diminta untuk membantu di sana. Ia semula menolak karena ingin fokus kuliah. Baru saat liburan kuliah selama sebulan, untuk mengisi waktu luangnya, Mona menyanggupi. Ternyata, ia justru makin tertarik mengurus arsip. “Dalam menggeluti kearsipan, saya banyak menemukan hal baru, dan itu yang membuat saya suka,” aku penulis buku The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942 serta Sumber Sejarah dan Penelitian Sejarah.

Rajin Membaca
Pada sela-sela kesibukan, Mona selalu meluangkan waktu untuk membaca buku, majalah, dan surat kabar. Ada sesuatu yang kurang jika dalam sehari ia absen membaca. Mona sempat curhat kepada dokter langganannya, ketika pensiun, ia tak bisa lagi secara bebas membeli buku. Pendapatannya sudah jauh berbeda dibanding sebelum pensiun.

Dugaan Mona ternyata meleset. Meski sudah lima tahun purnakarya dari ANRI, pengetahuan dan keterampilan Mona masih dibutuhkan di mana-mana. “Ternyata, setelah pensiun pun saya masih bisa mendapat rejeki dari mana pun,” ujar Mona, yang memilih untuk tak memiliki televisi di rumah.

Bekerja, lanjut Mona, bukan semata-mata demi mendapatkan reward. “Saya menjalankan tanggung jawab itu karena memiliki kemampuan dan dapat memberikan hasil optimal.” Karena itu, saat di kampus UI, Mona bukan mengajar, tapi mengajak mahasiswa untuk gigih menggali berbagai sumber sejarah. “Saya tak mau mereka sekadar lulus,” pesannya.

Mona mengatakan, jika orang sejarah tidak suka membaca maka pengetahuannya minim. Ilmu sejarah didasarkan pada pengetahuan seluas-luasnya. Kalau tak suka membaca, sulit menjadi sejarawan. Maka tak heran, Mona selalu meng-up date khazanah pengetahuan dengan membaca saban hari. Membaca, tambahnya, juga obat mujarab untuk mengatasi kepikunan. “Pikun itu karena otak berhenti bekerja,” tandas Mona.

Ketekunan Mona membaca dan menggali banyak arsip itu juga yang mengubah paradigmanya soal kolonial. Ia mengatakan, penjajahan tidak melulu membawa dampak buruk. Ada kebaikan yang bisa dipelajari serta diteruskan dari mereka. Kesalahan bangsa ini, katanya, tak meneruskan manfaat itu dan meninggalkan hal-hal buruk.

Ironisnya, lanjut Mona, ada di antara anak bangsa yang munafik. Berteriak anti asing tapi diam-diam menerima bantuan dari mereka. Ada suatu kejadian, bangunan peninggalan Belanda hendak dihancurkan lantaran dianggap representasi kolonialisme. Padahal ada keringat, darah, dan air mata rakyat yang mendirikan bangunan itu. “Sejarah jangan sampai putus karena politik, menjadi alat penindasan, serta balas dendam,” sergahnya, mengingatkan.

Patokan Hidup
Ada satu doa yang menjadi patokan hidup Mona, yakni doa St Ignatius dari Loyola. Dalam doa itu, St Ignatius memohon kepada Tuhan, agar mengajari menjadi pribadi yang murah hati, berani mengorbankan diri tanpa mengharap imbalan, serta menuruti kehendak-Nya. Bagi Mona, hidup merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada setiap manusia. Sebab, tak seorang pun yang bisa meminta untuk dilahirkan atau tidak. Ketika kesempatan itu diberikan oleh-Nya, maka harus dimanfaatkan secara optimal; bukan semata-mata untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Mona sudah membuktikan. Selama puluhan tahun mengabdi di ANRI, banyak doktor ilmu sejarah yang ia cetak. Sejumlah pakar serta penulis sejarah Nusantara, antara lain Pater Adolf Heuken SJ, Robert Cribb, Aiko Kurasawa Inomata, Claudine Salmon, dan Merry Sommers Heidhues, pasti pernah berurusan dan dibantu Mona dalam berburu fakta yang berada dalam arsip tersembunyi. “Ilmu itu seperti benih. Kamu taburkan di tanah yang baik, ia akan berkembang. Jangan pelit membagi ilmu yang kamu miliki,” pungkas Mona.

Yanuari Marwanto

(Visited 1 times, 1 visits today)

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here