Beato Michał Tomaszek OFMConv (1960-1991) dan Beato Zbigniew Strzałkowski OFMConv (1958-1991) : Sepasang Martir di Tengah Petani

306
Beato Michał Tomaszek OFMConv dan Beato Zbigniew Strzałkowski OFMConv.
Beato Michał Tomaszek OFMConv (1960-1991) dan Beato Zbigniew Strzałkowski OFMConv (1958-1991) : Sepasang Martir di Tengah Petani
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Peru menjadi “ladang basah” bagi sejuta kepentingan. Dua misionaris Fransiskan Conventual menjadi martir dalam konflik di Peru.

Misionaris adalah candu rakyat”. Slogan ini dipampang di jalan-jalan Desa Pariacoto, Chimbote, Peru, Amerika Selatan. Abimail Guzmán, pendiri gerakan radikalis Shining Path Peru, membakar semangat para prajuritnya untuk menolak kehadiran misionaris Fransiskan Conventual (Order of Friars Minor Conventual / OFM Conv) di Peru. Abimail terang-terangan berniat membunuh setiap misionaris di Peru.

Abimail mengingatkan, Peru adalah “Kota Tuhan”, tanpa misionaris pun masyarakat tetap beriman. Ia berdalil, Tuhan tak selamanya menyelamatkan manusia dari kesusahan. Satu-satunya jalan menuju keselamatan adalah dengan mendukung penguasa. Menurutnya, Tuhan dan ajaran-Nya hanya refleksi dari emosi manusia yang tak teratur.

Sesumbar Abimail rasanya tidak dihiraukan Pastor Michał Tomaszek OFMConv dan Zbigniew Strzałkowski OFMConv. Dua imam dari Ordo Konventual (Ordo Fratrum Minorum Conventualium/OFMConv) ini mulai memulai karya di Keuskupan Chimbote. Keduanya menjadi rasul tangguh bagi para petani dan masyarakat miskin.

Misi Sukacita
Pastor Michał tiba di Peru pada 24 Juli 1989 sedangkan Pastor Zbigniew setahun sebelumnya. Keduanya tiba sebagai tanggapan permintaan Uskup Chimbote Mgr Armando Bambarén Gastelumendi SJ kepada Ordo Fransiskan Konventual Provinsi Saint Anthony Krakow, Polandia. Mgr Armando meminta bantuan tenaga pastoral untuk bekerja di keuskupannya.

Sejak tiba di Peru, Pastor Michał dan Pastor Zbigniew bermisi di tengah petani miskin di wilayah Pariacoto, Cochabamba, dan Pampas Grande yang terletak di Provinsi Huaraz. Tak ada ketakutan dalam diri keduanya, mereka bahkan bangga karena terpilih untuk bekerja di sana. Membawa Kabar Baik Yesus di wilayah pedesaan adalah keinginan setiap Konventual. Dalam sebuah suratnya, Pastor Zbigniew melukiskan jalan tanah yang ia jumpai ketika pertama kali sampai di ladang kerasulannya. Hanya seekor kuda yang ketika itu menjadi alat transportasi untuk mengunjungi komunitas-komunitas kecil di tengah hutan rimba atau di daerah-daerah pegunungan. “Hanya seekor kuda yang menjadi tumpangan kami berhari-hari. Kadang kala butuh 12 jam untuk bisa berkumpul bersama umat,” ungkapnya dalam sepucuk surat.

Menjalin persaudaraan dengan masyarakat nampaknya menjadi hal pertama yang mereka bangun. Mereka menyadari, untuk masuk dan diterima dalam budaya Peru adalah tugas yang maha sulit. Pastor Michał memulai usaha ini dengan belajar bahasa tradisional seperti Quechua atau Aymara. Ketika itu, orang kulit putih masih saja menyisakan trauma bagi masyarakat Peru. Hal ini karena Peru pernah berada dalam jajahan orang “kulit putih”.

Tetapi perjuangan Pastor Michał dan Pastor Zbigniew yang tak henti pada akhirnya menemukan titik-titik harapan. Pastoral kehadiran dan belarasa yang mereka kembangkan, khususnya kepada petani, buruh, dan penggarap ladang, pelan-pelan membangun kedekatan antara mereka. Pastor Michał dan Pastor Zbigniew pun dapat diterima di tengah masyarakat. Sejurus kemudian, pastoral pun mampu menyentuh bidang-bidang yang lebih luas. Proyek-proyek kesejahteraan pun digalakkan, agar setiap orang mengalami kehidupan yang layak.

Di bidang budaya, Pastor Zbigniew mengajarkan masyarakat untuk mencintai kesenian lokal. Ia menyiapkan alat-alat musik bagi para petani. Ia juga memulai proyek membangun infrastruktur desa. Ia membangun balai desa, gereja, dan menggulirkan proyek renovasi rumah bagi masyarakat kecil.

Di bidang pertanian, kedua imam ini membantu petani untuk mengolah hasil ladang secara modern. Lambat laun, perkembangan umat semakin terlihat. Pembangunan fisik yang semakin maju dapat sejalan dengan perkembangan rohani umat. Banyak orang, khususnya orang muda, memberi diri dan terlibat dalam Gereja. Benih Kabar Baik ini pun meresep di hati masyarakat.

Ladang Terjal
Sayang pada saat bersamaan juga tumbuh benih terorisme yang menghasilkan banyak kebencian di Peru. Gerakan-gerakan separatis bermunculan ditunggangi unsur asing. “tanah kesucian” itu ternoda dengan kehadiran berbagai pihak yang mencoba menawarkan rasa aman dengan maksud tertentu.

Peru jatuh dalam konflik bersenjata berkelanjutkan sejak 17 Mei 1980 sampai sekitar tahun 1990-an. Ada tiga kubu yang berseteru, pemerintah, Partai Komunis Peru (Shining Path), dan Gerakan Revolusioner Túpac Amaru. Dalam konflik ini sedikitnya merenggut 70 ribu korban, dan yang paling merasakan konflik ini adalah petani miskin.

Dalil reformasi politik dan ekonomi menjadi slogan yang memporak-porandakan Peru. Pemerintah berdalil konflik ini karena banyak gerakan berafiliasi dengan Partai Komunis Peru. Banyak organisasi ekstremis seperti Shining Path menganggap diri sebagai “jalan cemerlang” yang menawarkan solusi pembaharuan bagi pemerintah. Sayang tawaran jalan cemerlang nyatanya hanya meninggalkan luka bagi masyarakat Peru.

Abimael, yang sebelumnya adalah seorang profesor filsafat komunis di Universidad Nacional de San Cristóbal de Huamanga, Ayacucho, menjadi otak “perkelahian jalanan” dengan kelompok-kelompok politik lain. Banyak orang ditangkap termasuk para pejabat Gereja. Mereka ingin menjadikan perjuangan ini seperti yang dilakukan Mao Zedong (1893-1976) di Republik Rakyat Tiongkok. “Zona bebas” yang diciptakan kaum Shining pun terus diperjuangkan terutama di daerah-daerah pedesaan.

Pastor Michał dan Pastor Zbigniew yang saat itu melayani di pedesaan Pariacoto merasakan langsung akibat ini. Banyak umat dipaksa terjun dalam perang dan bergabung menjadi prajurit Shining. Masyarakat kecil dibodohi dengan revolusi mental yang ditawarkan gerakan komunis ini. “Zona bebas” pelan-pelan beralih fungsi menjadi ladang terjal bagi para petani.

Pastor Michał melihat banyak pelanggaran hak asasi manusia tetapi pemerintah hanya diam saja. Belum lagi gerakan militer memiliki kontrol politik yang sangat ketat. Puluhan petani dibantai oleh pasukan bersenjata. Tingkat kekerasaan di pedesaan terjadi di depan mata Pastor Michał. Pastor kelahiran 1960 ini tak bisa membiarkan umatnya terbunuh tanpa alasan jelas. Misionaris pedesaan yang ditahbiskan 23 Mei 1987 ini berjuang menentang “jalan cemerlang” yang ditawarkan kaum komunis.

Dalam situasi ini, Pastor Zbigniew terus melayani dan menguatkan umatnya. Ia mengritik Shining Path yang berkonflik dengan militer tetapi berimbas pada para petani. Pastor Zbigniew pun menyetujui ide anti Shining Path digerakkan oleh beberapa petani. Hal ini memutuskan mata rantai kekuasaan Abimail. Keputusan ini hanya meninggalkan dendam bagi Abimail. Pastor Michał dan Pastor Zbigniew pun menjadi target.

Kedua imam itu ditangkap pada malam hari saat merayakan Ekaristi. Hanya sekejap, keduanya langsung dibunuh. Keduanya diambil dan ditembak oleh gerilya Shining Path di Pariacoto, Peru, pada 9 Agustus 1991. Selain keduanya, korban lain yang dieksekusi ketika itu adalah Beato Alessandro Dordi, imam Keuskupan Bergamo, Italia, anggota Misi Fidei Donum yang ketika itu juga bertugas di Peru.

Proses beatifikasi dua imam ini dimulai ketika masa kepausan Yohanes Paulus II (1920-2005). Paus yang sama mengeluarkan menandatangani dokumen nihil obstat untuk keduanya pada 5 Juni 1995. Hal inilah yang kemudian membuka proses penyelidikan kemartiran dua imam ini. Pada 3 Februari 2015 Paus Fransiskus menyetujui dekrit kemartiran dua imam ini. Mereka dibeatifikasi pada 5 Desember 2015 di Estadio Centenario Manuel Rivera Sánchez, Chimbote, Peru. Misa beatifikasi ini dipimpin Prefek Komisi Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Amato SDB.

Pada Misa beatifikasi ini, Presiden Peru, Ollanta Humala meminta maaf atas kesalahan masa lalu yang menyebabkan meninggalnya dua imam itu. Ia mengakui, Peru telah banyak belajar dari peristiwa masa lalu mereka. “Kami sadar kemartiran mereka membuka pintu kerahiman bagi misi kekatolikan di Peru,” ujarnya.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.40 2018, 7 Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here