Rahmat yang Tidak Terbatas

96
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Saya pernah dengar statement seperti ini, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Hal ini saya lihat dalam keadaan sehari- hari. Misalnya, melihat berita-berita, artis yang semakin naik daun tapi tidak tahu prestasinya apa. Di sisi lain masih banyak orang yang mati-matian agar bisa membeli sesuap nasi. Mengapa demikianya romo? Bukankah katanya Tuhan menyayangi umat manusia tanpa terkecuali?

Valerie Aditama, Manado

Pertama, baiklah kita tidak usah terlalu curiga dengan artis atau siapapun yang sekarang ini memperoleh harta melimpah. Jangan-jangan kita jatuh dalam dosa karena sudah mengadili orang lain dan menjadi curiga hanya dari penampilan luar. Seringkali di balik setiap entertainment yang berhasil, terdapat crew yang bekerja keras menciptakannya, sementara dari setiap artis pun dituntut tanggung jawab sosial dan moral yang tak kalah beratnya.

Kedua, ungkapan ‘yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”, sering menunjuk pada sistem dunia sekarang ini. Dalam kenyataan dunia ini, perolehan memang seringkali tidak berbanding lurus dengan kerja keras. Akibat sistem ini ada yang diuntungkan, misalnya karena hasrat dunia akan kecantikan dan keelokan, atau karena dunia rindu akan kejenakaan seseorang yang membuat orang lepas dari ketegangan. Yang lain beruntung karena hidup dalam relasi yang baik: sudah mempunyai modal usaha, keluarga yang baik atau karena kecerdikan mereka memanfatkan hasrat dasar manusia. Tentu saja ada orang-orang yang memang berusaha sungguh-sungguh, mampu memanfaatkan peluang dengan kreatif dan karena itu berkembang, didukung oleh kematangan emosional dan sosial yang baik.

Ketiga, sistem itu tidak selalu adil dan memihak orang miskin. Ada orang yang tidak bias mengikuti sistem dunia ini, sehingga tersingkir dari perkembangan dan proses ekonomi. Dalam Evangeli Gaudium, Paus Fransiskus banyak menyinggung orang-orang seperti ini, terutama akibat sistem ekonomi yang ‘mengecualikan’, yang menyingkirkan orang-orang yang tidak relevan. Orang-orang seperti ini tersingkir, bukan karena dieksploitasi atau ditindas, melainkan karena ketinggalan dan tak bias ambil bagian dari perkembangan. Lebih sengsara lagi nasib mereka, karena kalah cepat dari orang yang serakah dan tak mau peduli. Seruan mereka tidak mampu menggerakan belaskasih pada hati orang yang mendengarnya.

Siapakah yang mendapat rahmat disini : yang kaya atau miskin? Tentu rahmat tidak boleh dibatasi hanya pada keuntungan material belaka. Kekayaan material bisa menjadi awal rahmat, tetapi bisa sebaliknya menjadi penghambat rahmat. Tuhan juga meminta kita jeli terhadap ragi kerakusan di satu pihak, tetapi juga bersahabat dengan mammon untuk memperoleh hidup. Rahmat sejati membuat orang beriman bisa berbahagia dalam keadaan terpuruk sekalipun. Di situlah kita mengerti sabda bahagia Tuhan: “Berbahagialah mereka yang miskin.”

Rahmat Tuhan memperteguh kemampuan kita untuk mengupayakan hal-hal duniawi, membuat kita tidak melupakan cinta kasih dan kepedulian kepada sesama. Rahmat menghasilkan buah-buah Roh dalam setiap sisi hidup, sehingga budi dan kemampuan manusiawi dimurnikan untuk hidup yang kekal. “Kumpulkanlah bagimu harta di surga, yang tidak akan dimakan ngengat dan didekati pencuri.” “… apakah gunanya orang memiliki dunia ini, kalau ia kehilangan nyawanya.” Ajakan ini berlaku baik bagi semua orang, kaya maupun miskin. Menarik sekali ungkapan Paus dalam Laudato Si untuk mengingatkan kita pada bahaya ketamakan: “Bagi kita seringkali sedikit berarti banyak.” Itulah berkat rahmat. Disitulah sayangnya Tuhan.

Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.34 2019, 25 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here