Bersyukur karena Pandemi

79
Ilustrasi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM –  Dengan judul di atas tidak ada maksud mensyukuri pandemi Covid-19. Maksud sebenarnya, di tengah kepedihan dan rasa ngeri menyergap tiap saat sebagai dampak penyebaran virus, kita tetap  bersyukur. Rasa syukur ini diinspirasi oleh tulisan Romo B.S. Mardiaatmadja, SJ berjudul “Besok ke Kemarin” (HIDUP, 19 Juli 2020) dan homili singkat Romo Aloysius Susilo Widjojo  dalam kompletorium tanggal 27 Juli 2020 yang lalu di Paroki Pulo Gebang, Keuskupan Agung Jakarta.

Bahwa kita saksikan keluarga-keluarga selama tiga bulan belakangan ini dijiwai Sang Spirit, tulis Romo Mardi. Alangkah indahnya andaikata “esok hari” seluruh umat semakin rindu berdoa seperti tiga bulan yang lalu. Bahwa di tengah kepedihan banyak korban terpapar virus termasuk tenaga medis, kegamangan bertemu dengan banyak orang atau keluar rumah, kerepotan aparat pemerintah mengatur keuangan untuk biaya perawatan korban (satu pasien sekitar Rp 60 juta) dan kejengkelan terhadap sikap cuek warga masyarakat (karena harus memenuhi kebutuhan hidup atau melecehkan larangan), kita masih bisa bersyukur. Bersyukur bukan terutama karena kita dan kerabat kita terbebas dari paparan virus, tetapi kondisi pedih dan ngeri saat ini masih membawa berkah dan hikmah, utamanya dalam pengembangan tanggung jawab orangtua, kebersamaan ideal sebuah keluarga, pun terutama lagi dalam ekspresi peribadatan kita sebagai orang beriman yang dijiwai Sang Spirit.

Tentang yang terakhir, kita catat tiga fakta. Pertama, tiap hari selama Juni ada streaming doa Rosario Merah Putih yang dipimpin para uskup dari seluruh keuskupan secara bergiliran. Kedua, tiap hari selama Juli untuk KAJ ditayangkan lewat HIDUP Tv dan komsos paroki kompletorium (Ibadat Penutup Harian) dari seluruh paroki di KAJ secara bergiliran; tiap Senin bulan Juli selama 60 menit ada pencerahan online dari Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo.

Bagi banyak keluarga Katolik keempat acara itu mereka tunggu, terutama dari kuliah Kardinal Suharyo yang mereka rasakan segar, mencerahkan, dan informatif tentang Kasih Karunia Tuhan—tema yang sulit bagi ahli Kitab Suci (Kardinal Suharyo, ahli Kitab Suci) tetapi diuraikan dalam bahasa sederhana dan tidak berbelit-belit. Yang sulit menjadi mudah dipahami oleh awam. Dan, selama bulan Agustus ini, seperti Rosario Merah Putih sebelumnya, ditayangkan ibadat Adorasi (Pujian) tiap hari Senin dari paroki-paroki KAJ walaupun tidak semua paroki dapat giliran. Empat peristiwa yang berkaitan langsung dengan kehidupan kita sebagai orang beriman itu belum pernah terjadi sebelumnya, seperti halnya pandemi Covid-19 yang belum pernah kita alami.

Gaya Hidup Baru

Belajar, bekerja dan berdoa dari rumah (WFH) menjadi jargon sekaligus gaya hidup masa pandemi. Orangtua makin peduli dengan salah satu tugasnya sebagai pendidik pertama, budaya hidup bersih berkembang tanpa harus dipaksakan, komunikasi antara orangtua dan anak lebih intensif dibanding  sebelum virus menyebar awal Maret yang lalu. Sebagian kita umat Katolik  yang tidak rutin tiap hari berdoa Rosario kecuali dalam lingkungan di bulan Mei dan Oktober –apalagi Kompletorium, Adorasi dan mendengarkan pencerahan Kardinal Suharyo–dalam empat bulan ini setia mengikuti, termasuk setia menunggu pencerahan tentang Kitab Suci.

Senyampang itu, tak bisa dihindari dampak negatif WFH. Belajar dengan sistem daring mengharuskan orangtua belajar menjadi guru. Guru-guruan. Tidak saja belajar tentang materi sekolah, tetapi juga pemakaian sarana gawai tidak hanya untuk telepon,WA, FC, twitter atau sebatas jadi saluran ngrumpi dan curhat ibu-ibu. Dalam keluarga-keluarga muda dengan kedua orangtua bekerja, tugas-tugas kantor direcoki kewajiban membantu anak-anak belajar. Tidak sedikit kakek dan nenek yang tidak pernah kenal dengan HP apalagi materi pelajaran, harus menemani sang cucu belajar. Merepotkan. Belum lagi yang terjadi di pedalaman yang belum terjamah jalur internet atau orangtua yang tergagap-gagap teknologi apalagi materi pelajaran.

Kita kutip sepotong viral. “Untuk mencegah keretakan hubungan sy dgn anak, maka dgn ini sy menyatakan MENYERAH MAIN GURU-GURUAN! Sy tdk ada bakat menjadi guru meskipun sy adalah seorang SARJANA keguruan…”. Reportase Kompas dari Kepulauan Aru, Maluku menambah kegalauan  tentang masa depan anak di pedalaman dan beratnya beban guru. Di Kepulauan Aru—niscaya di banyak pedalaman lain juga—tiga hari dalam sepekan tiga ibu guru berjam-jam harus bergelut naik sampan menjumpai muridnya —karena sarana internet belum ada (Kompas, 22 Juli).

Artinya, dengan kondisi geografis dan keberagaman Indonesia, rasanya kegiatan perkelohan dengan sistem daring dalam beberapa tahun mendatang —pun ketika Covid-19 sudah habis— belum bisa diterapkan secara serentak di seluruh Indonesia. Indonesia serba beragam. Bila diselenggarakan sebagai kebijakan praksis pendidikan, kesenjangan Jawa dan luar Jawa, pusat dan daerah, kaya dan miskin akan semakin lebar. Apalagi bagi anak-anak usia perkembangan, bertemu sesama di sekolah merupakan prinsip pedagogis, yang mungkin kurang dibutuhkan untuk jenjang menengah ke atas sehingga bisa diselenggarakan belajar jarak jauh secara penuh. Menyelenggarakan secara seragam dan serentak kegiatan belajar-mengajar secara daring, sebaiknya hanya terobosan darurat di masa pandemi, dan bukan ideal dalam beberapa tahun ke depan.

Gaya hidup baru sebagai “kemarin”, terutama dalam hal penghayatan spiritualitas yang dijiwai Sang Spirit, awalnya mungkin sekadar pengisi waktu. Bahkan mengikuti Misa pagi harian, yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, selama pandemi ini pun menjadi kebiasaan rutin beberapa  keluarga yang sifatnya komplementer. Sekadar mengisi waktu? Tentu tidak. Mencari ketenangan batin? Mungkin saja. Tetapi tentu masalah misa secara streaming atau bukan, tidak menjadi masalah. Tidak ada masalah terima Komuni secara fisik atau secara batin. Doa Komuni tidak dirasakan sebagai “sekurang-kurangnya”, tetapi dirasakan sekaligus dipercaya sebagai sakramen, sebagai lambang kehadiran Kristus. Misa online atau bukan, tetap sebagai peristiwa peringatan Kebangkitan Kristus.

Kelima sarana menuju penghayatan iman —rosario, kompletorium, pencerahan Kasih Karunia Allah, adorasi dan Misa harian— dalam beberapa penyesuaian di masa tanpa pandemi sebaiknya berjalan terus. Penghayatan iman yang dijiwai Sang Spirit, sebuah terobosan di masa pandemi sebagai “kemarin” menurut istilah Romo Mardi, menjadi habitus baru di hari “esok”. Habitus ini tidak serta-merta berlaku untuk terobosan-terobosan  di bidang lain, taruhlah misalnya kegiatan belajar-mengajar secara daring yang berlaku secara serentak dan seragam se Indonesia. Kebijakan WFH pun, perlu ditempatkan sebagai pilihan terbaik dari yang sedikit kejelekannya (minus malum) di masa pandemi.

St. Sularto

Wartawan senior

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here