Pelajaran Agama yang Melekat setelah 45 Tahun Lewat

211
Henry C. Widjaja, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COM – MEMASUKI Masa Adven membuat ingatan melayang  ke saat “lahirnya” pengenalan tentang Tuhan. Kelahiran di dalam benak. Setelah kira-kira 45 tahun lewat, masih tersisa ingatan tentang awal pengenalan itu, yaitu via pelajaran agama di sekolah menengah. Awetnya ingatan ini, menunjukan bahwa mata pelajaran itu telah disampaikan dengan baik oleh para guru, dan mungkin bermanfaat juga untuk dibagikan kepada sidang pembaca. Namun karena sifatnya ingatan, tentunya hanya berupa percikan pendek yang melompat-lompat.

Vast

Romo moderator sebagai guru agama SMP, pada waktu itu, meminta murid untuk melongok keluar jendela kelas, dan mengamati apa saja yang dilihatnya. Sementara di papan tulis, beliau menggambarkan bangunan bertingkat tinggi. Katanya, “Kita berada di lantai satu bangunan ini. Mari kita saksikan apa yang bisa kita lihat dari lantai dua?” Lalu para murid menyebutkan bangunan di luar pagar sekolah, kesibukan abang parkir, kegiatan di jalan raya, tukang bakso di gerbang sekolah, dll, pemandangan yang tidak terlihat dari lantai satu.

“Nah. Jika kita bisa naik lagi ke tingkat yang lebih tinggi pandangan kita akan lebih luas lagi. Apalagi jika kita melihat dari ketinggian Monas, seluruh Jakarta bisa kita lihat”, begitu lanjut romo. Lalu romo menuliskan kata VAST di papan tulis, dan menjelaskan artinya, yaitu luas sekali atau sangat besar.

Katanya lagi, “Semakin tinggi posisi kita, semakin vast pandangan kita. Manusia seumpama ia yang melihat dari lantai satu, sedang Tuhan seumpama ia yang berada di posisi lantai tertinggi. Jangkauan Tuhan, melampaui pandangan manusia. Sangat vast, jauh lebih luas, jauh lebih jauh, sehingga di luar jangkauan nalar manusia, sehingga bagi manusia Tuhan itu maha misteri.”

Lingkaran Bersifat Segitiga

Pada kesempatan lain romo menggambar segitiga dan lingkaran di papan tulis dan meminta para murid menyebutkan sifat-sifat dari kedua bentuk geometrik tersebut. Lalu ia bertanya, “Siapa yang bisa menggambar lingkaran yang mempunyai sifat segitiga? Lingkaran dengan tiga sudut, dengan tiga buah sisi lurus”

Lalu para murid pun sibuk bergumam, mencoba dan gagal. Lalu sambil tersenyum romo melanjutkan, “Tentu saja tidak bisa. Tuhan juga tidak bisa. Karena itu, jangan sedikit-sedikit kita mengharapkan mukjizat. Ada kaidah-kaidah universal yang harus dipenuhi. Untuk mendapatkan sesuatu harus berusaha. Untuk lulus ujian harus belajar, bukan dengan meminum seduhan abu buku pelajaran.”

Gelombang Magnet

Ketika SMA, yang menjadi guru agama adalah romo direktur. Pada suatu kesempatan ia bertanya, “Kalian percaya tentang adanya medan magnet”. Murid-murid serempak menjawab “Percaya!” karena di lab fisika sudah dibuktikan keberadaan medan magnet itu, yang terlihat dari pola-pola yang terbentuk pada pasir besi yang ditabur di sekitar magnet.

Sang guru berucap perlahan, “Kalian tidak melihatnya, tetapi kalian percaya, karena melihat pola-pola yang terbentuk di pasir besi. Jika kalian bisa percaya adanya medan magnit yang tidak kelihatan, kenapa kalian tidak percaya pada Tuhan yang juga tidak kelihatan. Tuhan juga bisa dilihat via ciptaan-Nya.” Begitulah romo memulai pelajaran tentang Tuhan.

Skripsi Pengakuan Dosa

Pelajaran yang cukup susah untuk dimengerti adalah tentang sakramen, apalagi tentang tahapan-tahapan dalam Sakramen Ekaristi, yang mau tidak mau mesti dihafalkan. Namun ketika menjelaskan sakramen pengakuan dosa, romo membuatnya menjadi ringan, dengan menceritakan pengalamannya sebagai narasumber bagi seorang mahasiswa psikologi yang membuat skripsi.

Kesimpulan dari skripsi tersebut adalah manusia membutuhkan tempat curhat yang dapat dipercaya. Lalu romo menjelaskan tentang ketatnya gereja menjaga rahasia dari ruang pengakuan dosa. Dengan demikian, sebetulnya sakramen pengakuan dosa bukanlah tentang keharusan atau kewajiban, tetapi sebuah jawaban yang sejalan dengan kebutuhan alami manusia, antara lain kebutuhan untuk melepaskan beban pikiran dan psikologisnya, tanpa takut dibocorkan.

Nobar

Hal yang paling kuat impaknya adalah kegiatan nonton bareng. Semua siswa SMA diajak nobar di gedung bioskop, menonton film rock opera, sesuai dengan genre musik yang tenar pada masa itu, yang ditandai oleh grup hard rock papan atas seperti Deep Purple dan Led Zepelin. Judul film itu adalah “Jesus Christ Superstar” karya Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice.

Sejak adegan pembuka, film ini sudah memukau para ABG. Film dimulai dengan dentingan gitar rock yang memecah kesunyian sebuah lanskap padang pasir. Dan di kejauhan nampak kepulan debu dari sebuah bis tua, yang mengangkut rombongan anak muda berkostum hippi. Mereka berhimpitan dengan properti untuk pementasannya, antara lain sebuah salib besar yang terikat di atap bis.

Sepulang nonton, seorang murid sampai mencari berbagai informasi tentang film ini, mulai dari resensi film, buku tentang proses pembuatannya, dan buku terjemahan atas liriknya. Yesus yang ditampilkan secara manusiawi, dalam kebingungan dan keraguan, justru terasa dekat dan memancing rasa ingin kenal lebih dalam. Agar mengerti konteks ceritanya, si murid juga membaca Perjanjian Baru, meski tidak membaca seluruhnya, tetapi hal ini tidak pernah ia dilakukan sebelumnya.

Riset kecil-kecilan itu akhirnya bermanfaatkan untuk membuat paper berjudul “Jesus Christ Superstar sebagai Sumber Ilham,” sebagai tugas akhir pelajaran budi pekerti. Kalimat pembuka dalam paper yang mendapat nilai BS itu berbunyi, “Saya mengenal Yesus sebagai seorang penyanyi rock.”

Begitulah sharing tentang “kelahiran” Yesus di dalam benak. Ia bisa lahir di mana saja, atau lewat apa saja. Sambil mengisi Masa Adven ini, kuy sharing-kan pengalamanmu dalam kolom komentar. Ciyus.

Henry C. Widjaja, Kontributor. IG/FB: @henrycwidjaja

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here