JIKA ANDA MEMAHAMI TUHAN

281
Henry C. Widjaja, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COM – Lihatlah kerinduanku untuk mengerti, gemetar kakiku menahan goyah dan keakraban bagiku adalah damba dari segala damba.

Seringkali kita berkata, “Tuhan itu begini, Tuhan itu begitu”, apalagi ketika memberi nasehat. Betulkah begitu?

Pada tahun 1986 ada sebuah film pemenang Oscar untuk kategori sinematografi, dan juga mendapatkan 14 penghargaan terbaik serta 27 nominasi dari berbagai festival film lainnya, judulnya The Mission. Film yang dibintangi oleh Robert De Niro dan Jeremy Irons ini, menceritakan tentang perjuangan para paderi Yesuit Spanyol untuk melindungi suku Indian Guarani, suku terpencil di Amerika Selatan, dari bahaya jatuh ke bawah kekuasaan Portugal yang pro perbudakan di abad ke-18.

Awalnya desa misi, di mana penduduk asli itu tinggal, aman dalam perlindungan pemerintah Spanyol. Namun pada tahun 1750, sesuai Perjanjian Madrid, desa tersebut termasuk dalam area yang harus ditransfer oleh Spanyol kepada Portugal. Pihak Vatikan mengutus kardinal Altamirano untuk mensurvei dan memutuskan apakah misi itu bisa dipertahankan. Tentu saja sang kardinal berada dalam tekanan, apakah pro kepada Portugis dengan konsekuensi masyarakat adat itu akan dijadikan budak, atau mempertahankan desa misi, dengan risiko seluruh Serikat Yesuit akan dimusuhi oleh Portugis dan retaknya gereja Katolik Eropa. Dalam pertemuannya dengan masyarakat Guarani terjadi dialog sebagai berikut:

Guarani (G): Kami tidak mengerti apa yang anda maksudkan. Berbicaralah lebih jelas. Apa yang anda ingin kami lakukan?
Kardinal (K): Kalian harus meninggalkan desa misi.
G: Tetapi desa misi ini adalah rumah kami.
K: Kalian harus belajar tunduk kepada kehendak Tuhan.
G: Merupakan kehendak Tuhan, bahwa kami telah meninggalkan hutan dan membangun desa misi. Kami tidak mengerti mengapa Tuhan berubah pikiran.
K: Saya tidak berharap untuk bisa memahami alasan Tuhan.
G: Bagaimana anda tahu kehendak Tuhan? Kami pikir Anda berbicara bukan untuk Tuhan, tetapi untuk Portugal.

Pembicaraan ini berujung pada perang antara anak panah dan tombak Guarani melawan bedil dan meriam Portugis.

Dalam ketersudutannya, sang kardinal mengklaim pilihan dan keputusannya sebagai “kehendak Tuhan”. Klaim seperti ini juga terjadi dalam dunia nyata. Dalam pemilu, ada saja rohaniwan yang mengklaim bahwa dia mendapat bisikan ilahi untuk memilih kandidat tertentu. Sebaliknya, Paus Fransiskus sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik, tidak mengklaim bahwa Tuhan yang ia percaya adalah Tuhan Katolik. Pada 2013, dalam wawancaranya dengan Eugenio Scalfari, seorang ateis dari harian La Repubblica, Paus berkata “Saya percaya kepada Allah, tapi bukan kepada Allah Katolik. Tidak ada Allah Katolik, yang ada adalah Allah, dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasi dari Allah. Yesus adalah guru saya dan gembala saya, namun Allah Bapa, Abba, adalah terang dan pencipta.”

Ada saja orang yang merasa sangat mengerti tentang Tuhan, sampai merasa mendapat “pengutusan”. Ada yang merasa menjalankan tugas suci, dengan meledakan bom bunuh diri bahkan bersama isteri dan anaknya. Ada yang menganggap capresnya adalah seorang messias, sampai menyerbu gedung Capitol di Washington DC sambil menggenggam Kitab Suci. Betapa gagahnya. Namun sebaliknya, Santo Agustinus dari Hippo malah mengingatkan bahwa “Jika anda memahami Tuhan, itu bukan Tuhan.” Karena pengertian tentang Tuhan sangatlah luas, jauh lebih luas dari daya tampung otak manusia. Kisah berikut ini menjadi tradisi dari guru agama.

Alkisah, Santo Agustinus sedang berjalan menyusuri pantai sambil memikirkan tentang Allah Tritunggal. Di pantai itu ia melihat seorang anak kecil sedang mengambil air laut dengan embernya dan menuangkan air itu ke lubang kecil yang digalinya di pasir. Santo Agustinus (SA) menyapa anak kecil (AK) itu.

SA: Sedang ngapain, dik?
AK: Aku mau mengeringkan lautan. Airnya mau aku pindahkan ke lubang ini.
SA: Hahaha. Bagaimana itu mungkin?
AK: Lalu, dapatkah otak manusia memahami Allah Yang Tak Terhingga?
SA: (Terperengah) *&^%$??

Otak dan hati manusia merupakan anugerah yang membedakan manusia dengan mahluk lain di bumi ini. Sudah selayaknya manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan akal sehatnya untuk menyingkap rahasia semesta yang tiada habisnya, termasuk misteri Tuhan, sehingga kita mampu melihat kehidupan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya atau mauku. Di sinilah peribahasa lama “seperti padi kian berisi kian menunduk” menjadi tetap relevan, kerendahan hati. Memutlakan pengertian atau ajaran seseorang tentang Tuhan, sebagai yang paling benar, bahkan satu-satunya kebenaran, sesungguhnya, malah akan melecehkan Kemahaan Allah.

Masih banyak hal tentang Tuhan yang bagi kita ga nyambung, seperti dalam masa pandemi ini. Misalnya, jika Tuhan maha kuasa, kenapa Ia tidak mengenyahkan virus corona ini? Kenapa justru para romo dan para nakes yang begitu baik yang dibiarkan wafat?

Sebuah film berjudul Lourdes juga mengangkat perjuangan melawan penyakit. Film ini mendapat 12 penghargaan terbaik dan 7 nominasi dalam beberapa kategori dari berbagai festival film, antara lain sebagai film terbaik dalam Festival Film Internasional Wina 2009. Diceritakan bahwa seorang wanita muda bernama Christine, diperankan oleh Sylvie Testud, menderita penyakit multiple sclerosis sehingga tidak dapat menggerakan anggota tubuhnya dan musti hidup di kursi roda. Agar punya alasan untuk jalan-jalan, Christine yang sebetulnya tidak religius, berziarah ke Lourdes bersama sekelompok orang cacat lainnya. Perasaan tentang penyakitnya, ia ungkapkan dalam kamar pengakuan dosa.

“Aku sering marah. Mengapa saya yang jatuh sakit, dan bukan orang lain? Kenapa aku? Terkadang saya iri pada orang lain. Mereka bisa berjalan dan melakukan segala sesuatu dengan normal, tanpa perlu berpikir dulu. Memang ada yang kondisinya lebih buruk dari saya, tetapi saya tidak merasa kasihan pada mereka. Saya ingin sehat juga, dan memiliki kehidupan yang normal,” kata Christine. Lalu Romo pun menjawab, “Apa itu ‘kehidupan normal’? Hidupmu unik. Setiap kehidupan itu unik. Tuhan menciptakan keragaman ini. Setiap kehidupan berbeda, tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Atau, apakah menurutmu seseorang yang bisa menggunakan kakinya akan lebih berbahagia?”

Ketika Christine menunjukan tanda-tanda kesembuhan, anggota sekelompoknya pun bergunjing, “Kenapa Christine? Kenapa bukan bapak anu yang lebih religius? Atau anak ibu itu yang sudah berkali-kali ke Lourdes?”. Persis seperti keseharian kita, ketika musibah itu datang maka terlontar “Why me?” atau ketika orang lain mendapat rahmat “Why not me?”.

Dan seperti biasa, Tuhan tidak spontan menjawab, karena kalau spontan menjawab maka ia bukan Tuhan, tetapi Google. Mungkin, karena Tuhan percaya bahwa manusia akan menemukan jawabannya sendiri, karena kabarnya, jawaban itu sudah ada dalam keheningan setiap insan. Dan begitulah, sebagaimana doa kita di bagian awal misa juga berjudul ‘Aku Percaya’, bukan ‘Aku Mengerti’, bukan “Aku mengerti akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi…”

Melanjutkan kutipan puisi ‘Datanglah Ya Allah’, pembuka tulisan ini, WS Rendra menutup sajak itu dengan bait berikut.

Lihatlah, kerinduanku, ya Allah. Kerinduan, kegemasan, damba dan pesona. Ungkaplah diri-Mu padaku, wahai, Tanya Dari Segala Tanya. Sedemikian agung dan besar-Mu, sehingga tetap menjadi tanya.

Henry C. Widjaja, Kontributor, FB/IG/Twitter: @henrycwidjaja

 

2 COMMENTS

  1. Terimakasih Henry, sudah menulis hal yang sulit tentang memahami Tuhan.
    Aku masih ingat bagian akhir film The Mission itu, dimana setelah prahara berlalu yang tersisa adalah anak2 kecil yang kembali bermain riang gmrbira disungai,
    Ini mirip dengan Buku Ramayana puitis “Anak Bajang Menggiring Angin” karya Romo Shindunata SJ, dimana diakhir cerita muncul generasi baru anak2 raksasa dan anak2 kera, saling bermain gembira, mereka bermain gajah-gajahan disungai seolah tidak pernah terjadi prahara sebelumnya. Aku rasa ini ada pesan moralnya yaitu pada akhirnya semua akan baik baik saja. ….”at the end all shall be well”, kata Julian Norwich ketika didera penderitaan masa pandemi dijamannya,

    Lalu bagaimana kita memahami Tuhan? Gagasan klasik tentang Tuhan yg bertahta (sering digambarkan sbg Laki2 tua berjenggot panjang) duduk di Kerajaan Surga, la mengutus malaikat naik turun ke dunia, menyampaikan kehendaknya kepada orang2 tertentu. Tidak heran banyak yang mengklaim menerima bisikan ilahi tentang kehendak Tuhan. Pandangan Tuhan yang suka favoritisme ini tidak memadai lagi, karena akhirnya justru digunakan untuk kepentingan politik dan berakibat munculnya kekerasan.
    Sebenarnya ada pemahaman lain tentang Tuhan lebih memadai, yang utuh dan anti kekerasan. Para mistik menyebutnya sebagai Kristus Kosmik atau The Deep Incarnation. Teolog menyebut pemahaman ini sbg Panantheism (lawan dari Pantheism). Logikanya seperti ini:
    If God is infinite and the universe is finite, then the universe must be within God.
    Jika Tuhan tidak terbatas dan seluruh ciptaan terbatas, maka seluruh ciptaan pasti berada didalam Tuhan, All creation in God,
    Disini posisi semua ciptaan sama dihadapan Tuhan, tidak ada dominasi lagi. Superioritas, eksploitasi dan kekerasan lenyap. Santo Fransiscus Asisi memiliki pemahaman ini, oleh karena itu Ia menyapa seluruh alam semesta sebagai saudara.

    Paus Fransiskus jelas merujuk pada pemahaman “Panentheisme” ketika berkata: “Alam semesta terbentang di dalam Tuhan, yang memenuhinya sepenuhnya. Oleh karena itu, ada makna mistik dapat ditemukan di daun, di jalan pegunungan, di titik embun, di wajah orang miskin. ” Dia menolak narsisme agama ketika dia memperingatkan kita bahwa tidak cukup “menemukan tindakan Tuhan dalam jiwa”, melainkan kita juga harus “menemukan Tuhan dalam segala hal.” ~Laudato Si section 233

    “Brother Sun, Sister Moon, help me to see God in all things.”
    ~St.Francis Asisi

    Salam,
    Dani Pranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here