Tahukah Virus Keterangan Waktu?

179
Ita Sembiring, Pekerja Seni, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COM – Dalam setiap perkara
Kerap terselip kalimat asa sarat makna
“Biar waktu yang akan kembali menata”
Dan kitapun harus bersabar menanti sang kala

Di bawah gerimis Februari sambil menyantap ubi cilembu, sekelebat terbaca status  seorang teman di akun FB. Begini:  “Ucapan natural dari seorang anak kecil yang orangtuanya dilarang jual makanan lewat dari jam 7 malam: memang corona keluarnya malam hari saja ya?” (permisi Sonny.., statusmu kukutip persis sebagaimana tertera)

Setelahnya, pertengahan minggu lalu ada kiriman link berita di WAG perihal  kebijakan larangan ke luar rumah di akhir pekan. Tetap dengan kaitan menekan penyebaran virus corona. Sudah bukan sekadar pembatasan kegiatan atau larangan melakukan perjalanan luar kota, tapi  larangan keluar rumah. Pembatasan yang semakin terbatas. Semoga tidak semakin sempit hingga dilarang keluar kamar.

Menyimak ragam berita larangan, aku pun berpikir seperti anak kecil di status FB tadi,  Apakah virus tahu keterangan waktu? Keluar saat akhir pekan saja atau suka dugem keluar malam? Lantas dari siang sampai sore, Senin ke Jumat semua baik-baik saja? Ahh.., maafkan, bukan bermaksud sinis, tapi sungguh ingin tahu apakah virus memang paham soal keterangan waktu. Sambil berpikir keras, mana paling efektif  dalam mengurangi penyebaran virus? Peraturan hingga ancaman denda atau kesadaran dan kepatuhan ya?

Satu nasehat ayahku masih sering terngiang: “Jangan pulang malam.” Tiap ada yang pulang malam, baik anak lelaki maupun perempuan, terpaksa masuk mengendap, berharap ayah sudah lelap. Tapi apa yang terjadi?  Jedeerrrr.. Ayah menunggu persis berhadapan dengan posisi pintu terbuka sambil asap rokok mengepul perlahan. Rautnya tenang, menatap tanpa ada tanda-tanda ‘ledakan’ apalagi memukul.

Rahang yang memang sudah terlihat keras dari sananya, semakin terasa kaku di kelopak mata kami. Namun tidak terjadi apa-apa selain sepotong kalimat: “Tak kan ada yang kau dapatkan di luar sana saat matahari sudah tenggelam.” Bisa dipastikan, siapapun pulang malam dan terjebak adegan ini akan sangat merasa bersalah, berjalan lesu ke kamar, lalu berusaha keras memejamkan mata tapi gagal.

Andai tadi langsung disemprot amarah atau bahkan dipukul sekalian, masalah akan selesai. Impas! Tapi itu tidak terjadi, malah menyisakan rasa bersalah telah mengecewakan Ayah terbawa hingga larut. Membuat kapok, tak ingin pandangan terluka Ayah berulang atau  bakal terbawa sampai kelak. Sepanjang usia aku tak pernah merasakan tangan beliau mampir di tubuh dalam bentuk kekerasan. Bibir tebalnyapun bebas dari segala bentuk ancaman. Cukup kalimat pemberitahuan tapi disampaikan tegas.

Masih ada wejangan lain dan tetap dijalankan hingga kini bahkan menjadi ‘tradisi’  keluarga, Ayah selalu pesan jangan keluar saat malam Natal, malam tahun baru, malam Paskah (intinya jangan keluar malam juga). Sebab dalam setiap perayaan kerap kemeriahan mendatangkan euphoria berlebih, bisa membuat kita kehilangan kewaspadaan lalu lepas kontrol. Sederhananya, tidak ada yang salah dengan pesta atau perayaan, tetapi penguasaan diri  jadi masalahnya. Ayah lantang mengingatkan sambil sok dicampur bahasa Inggris biar keren barangkali, tetapi tetap terdengar dialek Karo kental.

“Jangan LOST CONTROL, nak ku!” (nak ku: khasnya orangtua  suku Karo menyapa anak)

Kalimat ini sebegitu menancap abadi karena bisa dipastikan akulah paling sering dapat peringatan selaku si bungsu yang kerap sok paling berani dan ingin mencoba segala sesuatu. Jadi, kami sekeluarga merayakan apapun cukup kumpul keluarga. Pernah juga di masa remaja terbersit ingin merasakan sensasi pesta kembang api atau sehabis misa natal sedikit kongkow malam bersama teman. Namun wajah keras ayah dengan tatap penuh kasih langsung melintas.

Sesungguhnya bisa saja mendobrak sedikit ‘tradisi’ ini karena tak kan kudengar lagi suara lantang soal lost control. Kalaupun berhasil kudobrak, juga mustahil  Ayah muncul dalam mimpi buruk dengan tubuh setengah melayang sambil melotot  berwajah seram seperti dalam film horor. Semasa hidup saja Ayah tidak menakutkan, apalagi sudah meninggal.

Kini di masa pandemi yang belum juga berlalu, aku seperti merasakan Ayah hidup lagi dengan himbauannya: “Jangan keluar malam, di rumah saja, jaga diri, jaga kesehatan, jaga jarak, jaga ini. jaga itu.. jaga…., jaga….,  !” Semua harus dijaga. Sebab saat berjaga-jaga, sesungguhnya kita bukan lagi menjaga diri sendiri semata, tapi semua orang. Kesehatan sudah bukan milik perseorangan. Mustahil  mau sehat sendiri saja sebab seyogyanya wabah tak mengenal keterangan waktu. Apalagi mengenal ayahku dengan segala pesannya.

Kembali ke pertanyaan anak kecil kenapa warung ibunya harus tutup jam 7 malam dan  kenapa ada larangan keluar di akhir pekan? Sederhananya menurutku, butuh kepatuhan dan kesadaran dari sekedar ancaman ataupun kebijakan agar tidak Lost Control dalam tumpukan kejenuhan, tekanan ekonomi dan kesimpang siuran informasi. Selain itu tentulah butuh kejujuran berikut ketegasan dari sebuah kebijakan.

Begitukah Ayah…..?  Tak ada jawaban!  Sebagaimana belum terjawab kapan pandemi berakhir tanpa sebuah kesadaran dan kepatuhan diantara tumpukan kebijakan. Jangan sampai aku berdiam di rumah sepanjang akhir pekan, lalu Senin hingga Jumat langsung menggeragas melepas kejenuhan dengan keluar dari pagi hingga senja, kemudian mendekam lagi di rumah kala senja tiba sebagaimana pesan ayahku, termasuk juga akhir pekan tiba seturut kebijakan yang ada.  Berharap virus mengerti akan keterangan waktu.

Permisiiii .. ini bukan kesimpulan, sekadar mempertanyakan 
Seefektif apa kebijakan tanpa sajian pengertian
Larangan bahkan ancaman tinggal ucapan
Tertimbun tumpukan kejenuhan
Mana kala keterangan waktu bukan akar dari kegaduhan 
Salam cinta!
Ita Sembiring, Pekerja Seni, Kontributor

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here