Media Digital: Menimang dan Memilah sebelum Disebar

170
Literasi media sosial pada Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) Mei 2019 di Makassar, Sulawesi Selatan (Foto: HIDUP/FHS)

HIDUPKATOLIK.COM – MALAM ini waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Pertemuan pengajaran kelas online Extension Course Teologi 2021  yang diselenggarakan oleh STF Driyarkara malam ini baru saja berakhir. Dari setiap kelas pengajarannya, banyak sekali materi yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan saya.

Wah… sudah agak telat waktunya bagi saya dan keluarga untuk bersantap malam bersama. Saya pun segera bergegas mulai merapikan meja dan menyediakan menu makan malam itu. Saya sekeluarga hadir di sini dan sekarang berkumpul dalam satu meja untuk makan malam bersama.  Di sini kami bisa tertawa, bercanda dan saling berbagi cerita apa saja yang terjadi disepanjang hari ini.

Saya dan keluarga memang mempunyai suatu kebiasaan untuk berusaha menciptakan waktu berkumpul bersama. Kami semua pasti punya kesibukan masing-masing, dari pagi hari sampai dengan malam hari. Waktu makan bersama adalah waktu yang tepat bagi kami untuk berdiskusi dan berkumpul bersama. Merencanakan nonton bareng film-film hero kesukaan bersamaan di suatu cinema. Midnight Movie..? Siapa takut..…  Merencanakan liburan sederhana bersama. Pantai… berenang…. Hayuk… Patungan untuk membeli makanan yang bisa disantap bersama, juga Ok. Banyaklah yang bisa kami ciptakan dan lakukan bersama. Hal-hal kecil itu hanya sebagian contoh yang bisa diciptakan untuk bisa mendapatkan kebahagiaan bersama. Di masa pandemi ini hubungan antarindividu di dalam keluarga seperti dipertanyakan? Bagaimanakah hubungan anda dengan keluarga anda? Sudah baikkah?

Seperti tertulis didalam Kitab Kejadian 2:18 dalam penciptaan manusia, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia”. Menurut saya dari awal mula penciptaan Tuhan sangat mencintai ciptaan-Nya. Ia juga telah menciptakan penolong yang sepadan pula dengannya. Hal ini juga mau menegaskan bahwa manusia sebagai mahluk sosial itu tidak dapat hidup sendiri. Tuhan telah menciptakan penolong yang sepadan yang dapat membantu manusia untuk menjalani kehidupan. Manusia juga sebagai gambar dan rupa Allah yaitu menjadi suatu gambaran yang utuh dengan adanya kehadiran manusia yang lain. Perjumpaan manusia yang satu dengan manusia yang lain semakin menyadarkan diri mereka, sekaligus menjadi realita utuh manusia sebagai gambar dan serupa dengan Allah.

Pada pengajaran kelas online tadi, saya tertarik dengan pepatah hic tt nunc (di sini dan sekarang) yang disampakan dosen pengampu yang kebetulan seorang pastor. Kelas online malam ini mengangkat materi tentang Etika Persaudaraan Digital. Pada faktanya media digital sangat penting di saat masa pandemi ini. Hampir semua orang, instansi, komunitas, sekolah dan rumah ibadah juga sangat tergantung padanya. Dari anak-anak sampai orang lanjut usia baik pria maupun wanita semuanya bergantung pada dunia media digital ini.

Dunia digital ini dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pula masalah kehidupan rohani seseorang. Pada praktiknya dibutuhkan sebuah etika untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi secara digital dengan baik dan benar. Ada etika yang perlu diperhatikan dan ini di butuhkan untuk mengatur dalam menyampaikan segala sesuatu pada media di dunia digital.

Komunikasi secara digital dapat mendekatkan dan menjauhkan setiap individu dalam suatu persaudaraan, yang tidak terkekang  oleh waktu dan tempat. Siapapun yang jauh di belahan dunia ini bisa terhubung bila masuk dalam dunia media digital dan dapat tersambung atau terkonekting secara langsung.

Perjumpaan secara digital ini juga bisa membangun suatu ikatan dan  kekuatan persaudaraan bagi setiap individu yang terhubung. Persaudaraan yang saya maksud adalah persaudaraan umum yang terjadi secara digital di dalam suatu media yang disesuaikan dengan kepentingan dan keinginan dari setiap individu.

Di dalam prinsip dasar Etika Persaudaraan Digital yang perlu kita sadari adalah keyakinan bahwa Allah yang hadir dan sangat mengasihi umat-Nya. Pengalaman dikasihi dan dirangkul-Nya sebagai anak-anak-Nya dapat mengantarkan kita kepada sebuah sikap solider terhadap sesama. Dunia digital ini juga menantang setiap orang atau komunitas untuk bisa lebih kreatif di dalam menanggapinya. Saya pun tertarik untuk menanggapinya dalam hal mewartakan cinta kasih serta kerahiman Tuhan melalui dunia digital ini.

Pepatah Latin tadi, hemat saya, secara tidak langsung dipertanyakan kepada siapapun. Apa sih yang telah anda lakukan di sini dan sekarang pada masa pandemi ini? Sepertinya juga ingin mempertanyakan kebaikan atau pewartaan apa yang bisa anda lakukan pada masa yang sulit ini bagi sesama dan lingkungan disekitar anda?

Menurut saya, pewartaan atau perbuatan baik itu, tidak perlu yang besar-besar dan heboh tetapi bisa dimulai dari hal yang kecil dari diri sendiri, lalu disebarkan kepada keluarga dirumah atau orang yang dekat dengan kita. Dibutuhkan suatu perubahan untuk bisa merangkul, mencoba hal- hal yang baru dan membangun suatu hubungan persaudaraan. Hubungan persaudaraan erat dimasa yang sulit ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan media digital semaksimal mungkin.

Pada masa pandemi ini saya atau anda pasti membutuhkan banyak dukungan dari teman-teman lain yang ada  di sekitar. Dukungan kecil untuk bisa saling mendoakan, menguatkan dan berbagi suka maupun duka.

Media digital ini bisa digunakan dan sangat berperan penting dalam menyebarkan berita ataupun kabar baik.  Namun, media digital itu haruslah dapat digunakan dengan lebih bijaksana supaya tidak menyebarkan hal-hal yang kurang baik atau hoax kepada orang-orang yang menerimanya.

Bijak mewartakan, bijak pula menimang dan memilah mana yang baik untuk disebarkan. Yuk, kita berusaha menjadi teman bagi orang lain dalam menggunakan media digital.

Eviantine Evi Susanto, Kontributor, Ibu Rumah Tangga

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here