TANDA SALIB DAN PENAFSIRANNYA

119

HIDUPKATOLIK.COM – TENTANG Tanda Salib, Paus Benediktus menegaskan bahwa tiada gerak yang paling mendasar  dalam doa adalah Tanda Salib dan akan selalu demikian. Membuat Tanda Salib berarti menyatakan “Ya” secara kasat mata dan publik kepada Dia yang mati dan bangkit bagi manusia (Scott Hann).

Apa itu Salib? Tanda khas Kristiani yang mengungkapkan keyakinan iman bahwa Kristus wafat demi keselamatan manusia.  Rasul Paulus merangkum makna salib dalam I Kor 1:17-18. Tanda Salib adalah sebuah gerakan tangan ritual yang dilakukan orang Katolik yang diiringi dengan pengucapan rumusan Trinitaris. Terdapat banyak cara orang Kristiani mengenang wafat Yesus di salib, misalnya, penyembahan  salib pada hari Jumat Agung, dan pada pesta Salib Suci. Secara khusus wafat Yesus di salib selalu dikenang dan dihadirkan setiap kali dalam perayaan Sakramen-sakramen Gereja.

Yang dimaksud dengan “simbol” adalah tanda indrawi, barang atau tindakan, yang menyatakan realita lain di luar dirinya. Dalam Perjanjian Lama dan dunia kafir, Tanda Salib diberikan kepada binatang atau budak sebagai tanda kepemilikan tuannya. Dalam alfabet Ibrani Kuno, huruf Tau (T) berbentuk salib, maka huruf yang mengacu pada Kitab Yehezkiel 9:4 itu dianggap Origines (c. 184-253), teolog dan ahli hermeneutika  Gereja Perdana sebagai prediksi untuk Tanda Salib yang diterakan pada dahi orang Kristiani. Dalam perkembangannya,  “Tanda Salib” merupakan tata gerak simbolik yang mengungkapkan iman dasar kristiani akan salib Kristus yang membawa penebusan dan keselamatan manusia.

Iman Kristiani memberi makna yang khas, yaitu simbol iman mereka akan Allah Tritunggal Yang Mahakudus, akan sengsara Kristus, akan kasih-Nya yang tak bertepi yang selalu bersedia mengampuni dosa manusia. Pada saat mengucapkan “Bapa”, tangan kita menyentuh dahi sebagai simbol Allah yang berada di atas atau di tempat Yang Mahatinggi. Pada saat mengucapkan “Putra”, tangan kita menyentuh dada atau pusar. Pada saat mengucapkan “Roh Kudus”, tangan kita menyentuh bahu kiri dan saat “Amin”, tangan kita menyentuh bahu kanan. Sejak abad VI, praktik membuat  Tanda Salib dengan tiga jari terbuka, yaitu jempol, telunjuk, jari tengah yang melambangkan Kristus memiliki dimensi Trinitas. Dua jari tertutup melambangkan Kristus sungguh Manusia, sungguh Allah (Lih. Konsili Nikea Tahun 325 dan Konsili Konstantinopel Tahun 381).

Sekitar abad X, Tanda Salib dibuat dengan jari tangan kanan yang terbuka, yang dilakukan imam ketika ia memberi berkat pada umat. Cara imam dengan jari-jari kanan yang terbuka, ditiru oleh umat yang sedang diberi berkat. Sementara itu orang Kristiani memaknai lima jari sebagai tanda lima luka Kristus. Sekitar abad XVI, dikenal Tanda Salib menggunakan tipologi “Salib Romawi” yang salibnya lebih panjang. Tanda Salib diberi makna baru, yaitu saat mengucapkan “Putra” pada pusat perut atau pusar dimaknai sebagai simbol inkarnasi.

Tanda Salib lazimnya dilakukan dalam Liturgi, Devosi dan Ibadat lainnya. Orang Kristiani membuat Tanda Salib juga pada benda-benda seperti makanan, roti, anggur, minyak dan air. Di dalam Ekaristi misalnya: dilakukan tujuh kali Tanda Salib. Yaitu, imam bersama umat membuat Tanda Salib Trinitas pada Ritus Pembuka dan Ritus Penutup,  tiga kali salib kecil pada dahi-mulut-dada sebelum mendengarkan Injil. Imam sendiri masih melakukan dua kali Tanda Salib kecil untuk Evangeliarium dan berkat dengan tanda salib pada roti dan anggur saat konsekrasi.

St. Tertulianus (155-230) memberi kesaksian membuat Tanda Salib ketika mengenakan sepatu, mandi, sebelum tidur, dan kesibukan lainnya. Bahkan  ia memuji isterinya karena dia membuat Tanda Salib pada tubuhnya dan pada tempat tidurnya sebelum dia beristirahat pada malam hari.

Setelah Konsili Vatikan II, tidak ada lagi dokumen liturgi yang mengatur secara rinci bagaimana harus membuat Tanda Salib. Pedoman Umum Misali Romawi pun hanya menyebut “Tanda Salib”, tanpa memberi penjelasan rinci tentang tahap dan tata cara membuatnya. Yang penting dalam membuat Tanda Salib  adalah simbol salib tetap terjaga, makna dan fungsi dari simbol itu dihayati dan mohon rahmat dari Tuhan agar berdampak pada hidup kita masing-masing.

Tanda Salib dan penafsirannya begitu kaya dan tidak boleh memutlakkan salah satu tafsir. Dalam ungkapan semacam itu tidak ada tafsir tunggal. Ini bukan soal ujian true-false, benar – salah.  Lebih penting adalah simbol salib tetap terjaga, makna dan fungsinya dipahami dengan segala kekayaan penafsirannya dan berbuah pada kehidupan iman kita.

Tanda Salib dan penafsirannya begitu kaya dan tidak boleh memutlakkan salah satu tafsir.

Romo Jacobus Tarigan, Dosen Unika Atma Jaya, Jakarta

HIDUP, Edisi No. 24, Tahun ke-75, Minggu, 13 Juni 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here