HUT KE-50 TAHUN PAROKI PEJOMPONGAN: SEBUAH HOMILI YANG SANGAT LENGKAP

378
Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo memimpin Perayaan Ekaristi HUT Ke-50 Paroki Kristus Raja, Pejompongan, Keuskupan Agung Jakarta, Minggu, 22/5/2022.
5/5 - (4 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – “Karena itu, saudara-saudariku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Kor.15:58)

“Seharusnya saya tak perlu memberi homili karena hari ulang tahun ke-50 paroki sebetulnya sebuah homili yang sudah sangat lengkap,” cetus Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo mengawali homilinya pada hari Minggu, 22 Mei 2022 di Gereja Kristus Raja Pejompongan, Keuskupan Agung Jakarta.

Di-hari ulang tahun emas paroki ini, Kardinal mengucap syukur kepada Tuhan yang selalu menggerakkan hati sekian banyak pribadi sesuai peran masing-masing. Keterlibatan diri dalam mengambil peran guna mengembangkan gerakan-gerakan kreatif menurutnya akan membuat gereja semakin hidup.

Gereja universal memberikan inspirasi yang sangat bagus dalam rangka menyiapkan Sinode Uskup Sedunia tahun 2023 mendatang.

“Paling penting adalah empat kata inspiratif yakni Menuju Gereja Sinodal yang artinya berjalan bersama sebagai Persekutuan, Partisipasi, dan Misi,” jelas Kardinal.

Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo memotong tumpeng perayaan 50 Tahun Paroki Pejompongan.

Mari Mulai Lagi

Romo Jacobus Tarigan, Kepala Paroki Pejompongan menegaskan Gereja itu ada untuk masyarakat, sehingga perlu bertanya kepada diri kita apakah kehadiran kita sunguh-sungguh sudah bermanfaat bagi masyarakat. Selanjutnya dikatakan, hidup beriman kita adalah sebuah perjalanan. Boleh disebut juga bagai peziarahan iman. Paroki sekarang ini dikelilingi bangunan-bangunan tinggi apakah itu apartemen, kondominium, perkantoran. Umat tampak bertambah tetapi cara hidup dan hidup umat sekarang pasti sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Romo Jacobus Tarigan

“Saya diberi berkat untuk mendampingi umat paroki ini pada estafet ke lima puluh tahun. Saat ini paroki menghadapi tantangan zaman di tengah kota metropolitan. Perkembangan, kemajuan, perubahan sosial masyarakat turut memengaruhi perkembangan paroki pula. Umat paroki Pejompongan pun sungguh sadar akan perpindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Zaman berubah dan kitapun turut berubah di dalamnya. Pastoral perkantoran dituntut untuk menghargai waktu, singkat dan terampil dalam teknologi digital. Kita telah masuk dalam revolusi industri, bahkan sudah masuk dalam pendekatan metaverse. Sehingga manusia perlu mampu menciptakan nilai baru,” jelas Romo Jack, panggilannya dalam kata sambutan HUT Ke-50 yang mengusung tema Mari Kita Mulai Lagi.

Tetap ke Gereja

Romo Antonius Suhardi Antara yang pernah menjadi pastor di Paroki Pejompongan mengungkapkan, pastor paroki dapat berganti-ganti sesuai penugasannya, namun umat dan gereja adalah tetap.

Disebutkan pula dalam homilinya dalam Misa pk. 09.00, 22 Mei 2022, jika dikatakan umat semua pasti senang dengan pastornya, menurutnya tidak selalu demikian.

“Pastilah ada umat yang mungkin tidak suka, itu manusiawai. Namun, sekiranya kita tak suka dengan pastor kita, bukan berarti lalu enggan ke gereja atau berhenti beraktifitas di paroki. Itu salah, karena hubungan kita dengan Allah tetaplah ke gereja dan melayani”, katanya.

Selanjutnya diakui pula bahwa saat pandemi, banyak orang sudah keenakan mengikuti misa online, sehingga saat sudah dapat mengikuti misa di gereja malah menjadi malas. “Sebelumnya kritik karena tak bisa ke gereja, di batasi, kepingin misa di gereja, sekarang malah keterusan misa online,” ungkap Romo Antara.

Romo Rafael Yohanes Kristanto, Pastor Rekan Paroki Pejompongan menyatakan, perjalanan mensyukuri adalah jati diri, Gerja dihadapkan pada era globalisasi dan modernisasi yang ditandai pesatnya kemajuan teknologi informasi yang membawa berkah sekaligus litani persoalan. Perubahan menggiring umat beriman pada perilaku hedonisme, konsumerisme dan materialisme.

“Keluarga-keluarga Katolik hendaknya tekun dalam doa, menyambut sakramen-sakramen, serta terus menerapkan kasih. Mari kita mulai lagi adalah kesempatan berarti saat ini untuk umat lebih serius, berani dan menguji iman kita. Ditambahkan, tema ini mengajak seluruh umat untuk menyadari bahwa belum banyak yang kita perbuat bagi mereka yang kecil, menderita, miskin dan difabel,” tuturnya.

Relasi yang Terawat

Ignatius Emon Winardi Danudirgo, Wakil Ketua 1 Dewan Pastoral Paroki, mengatakan persekutan umat juga mengandalkan relasi yang terawat terjalin dan mendekatkan. Baik dalam konteks kegiatan atau layanan pastoran maupun pewartaan. Keterbukaan dan keterlibatan umat luar paroki pada gilirannya juga membangun persekutan umat paroki.

“Berbagai aktivitas paroki banyak melibatkan partisipasi dan kontribusi dari umat luar wilayah paroki. Interaksi umat paroki membentuk kehasan relasional tersendiri. Semangat keterbukaan, kepedulian berbela rasa serta ikut ambil bagian dengan penuh suka cita bersama adalah upaya menghadirkan kasih Allah,” diutarakannya dalam sambutannya.

Menetes Subur

Tomas Budi Sukendro, Ketua Panitia  mengakui berbagai bentuk dan kesempatan menjadi tantangan yang perlu dirawat oleh umat Pejompongan.

“Darah, keringat serta air mata umat mula-mula Pejompongan telah menetes subur di atas tanah Pejompongan. Tetesan itu tak berkesudahan, terus mengalir hingga kini berdiri jemaat yang mandiri dan militansi dalam iman. Kita diajak untuk terus bertahan dalam iman agar benih-benih yang telah ditanam kan dapat terus tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah,” ungkapnya penuh syukur.

Mathilda AMW Birowo (Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here