HUT Ke-88 Tahun Pater Franz Magnis-Suseno, SJ: Dilahirkan di Tengah Keluarga Bangsawan Jerman, Justru Memilih Menjadi Imam di Indonesia

57
Pater Franz Magnis-Suseno, SJ
3/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – PERANG Dunia II, periode penuh kekacauan dan penderitaan, seringkali menciptakan cerita-cerita luar biasa tentang ketabahan dan perubahan. Dalam pusaran kehancuran ini lahir sosok yang tak biasa, seorang bangsawan Jerman yang bertransformasi menjadi rohaniwan Katolik yang memengaruhi budaya intelektual Indonesia. Franz Magnis-Suseno  dengan nama asli Franz Graf von Magnis atau nama lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis,  nama yang melambangkan perjalanan hidup yang menarik dan penuh warna, menghadirkan kisah tentang ketahanan, dedikasi, dan kontribusi yang membanggakan.

Pater Franz Magnis-Suseno SJ usai menerima wayang dan piagam sebagai cendera mata dalam Simposium nilai-nilai Pancasila. (Dok HIDUP)

Lahir pada 26 Mei 1936, di Eckersdorf, sebuah kota kecil di Jerman yang kini menjadi bagian dari Polandia, Franz dilahirkan dalam keluarga bangsawan. Ia adalah anak dari pasutri Ferdinand Graf von Magnis – Maria Anna Grafin von Magnis, prinzenssin zu Lowenstein. Ia adalah anak sulung dari enam bersaudara. Satu adik laki-laki dan empat lainnya perempuan.

Melarikan Diri

Masa kecilnya tidak terbebas dari bayang-bayang kekacauan perang. Perang Dunia II membawa ketidakpastian besar bagi keluarganya, dan mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk melarikan diri dari kekerasan perang yang menerpa wilayah Jerman timur. Daerah Jerman paling timur itu, sesudah perang dunia II dipotong lalu diberikan seperlimanya kepada Polandia dan sisanya kepada Uni Soviet. Sedangkan sembilan juta penduduk Jerman dari daerah ini diusir ke Jerman Barat. Franz Magnis, sebagai seorang bangsawan, anak sulung yang belum genap berusia 10 tahun, bersama keluarganya harus lari dari kejaran tentara Uni Soviet menuju ke Cekoslovakia Barat, dan dari situ kemudian melarikan diri lagi ke Jerman Barat.

Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, Franz tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama, dengan fondasi kuat dalam tradisi Katolik. Pengalaman masa kecilnya yang penuh tantangan, terpaksa mengungsi dan mencari perlindungan dari bahaya perang, membentuk karakter dan kepribadiannya secara mendalam. Setelah melewati masa-masa sulit itu, Franz menemukan panggilannya sebagai seorang imam Katolik ketika Franz menyelesaikan studi di Humanistisches Gymnasium, pendidikan setingkat SLTA. Pada usia 19 tahun, dia bergabung dengan Serikat Yesus (SJ) atau Jesuit,  dengan mendalami kerohanian di Neuhausen, antara tahun 1955-1957. Sebuah langkah yang akan membawa pengaruh besar dalam perjalanannya sebagai seorang rohaniawan dan intelektual.

Pater Franz Magnis-Suseno, SJ, Guru Besar Emeritus STF Driyarkara

Usai pendalaman kerohanian, sebagaimana yang biasa berlaku umum di lingkungan Serikat Yesus, Franz Magnis mendalami studi filsafat di Philosophissche Hochschule, Pullach, dekat Kota Munchen antara tahun 1957-1960. Pada tahun 1959 dia sudah mencapai gelar akademik Bakalaureat dalam filsafat dan setahun kemudian (1960) meraih Licentiat juga dalam bidang filsafat.Sebagai seorang misionaris yang dilahirkan dari “rahim” Jesuit, Franz Magnis dituntut untuk menjalankan misi ke seluruh dunia sebagaimana mestinya dalam tradisi Katolik. Ia kemudian mengajukan lamaran bermisi ke Indonesia dengan satu kesadaran bahwa bidang filsafat di jerman tidaklah seberapa diperlukan, karena banyak sekali pakar filsafat dari Jerman dan beberapa di antaranya berasal dari Yesuit. Kesadaran akan pentingnya peran dalam bidang filsafat dan pendidikan di Indonesia memimpinnya untuk memilih negara ini sebagai tempat tujuan misinya. Sehingga pimpinan serikat memberikan tugas kepada Franz-Magnis untuk bermisi di Indonesia.

Belajar Bahasa Jawa

Franz-Magnis datang ke Indonesia pada 1961 untuk belajar filsafat dan teologi di Yogyakarta. Saat itu dia berusia 25 tahun dan memutuskan untuk tinggal menetap di Indonesia. Ia mulai mengurus status warga negara Indonesia pada 1970, dan mesti menunggu selama 7 tahun dan pada tahun 1977 ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Sesampainya di Indonesia, ia secara tekun mempelajari bahasa Jawa dan bahkan menambahkan  “Suseno” di belakang namanya. Selain itu ia juga mempelajari budaya Jawa sehingga pada 1981 ia menulis buku yang secara khusus menganalisis tentang sejarah, tata krama, hingga pola pikir masyarakat Jawa dengan judul ika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, dalam buku ini ia membandingkan tingkah laku dan kebiasaan masyarakat Jawa dengan “etika Barat”.

Kedatangannya di Indonesia tidak hanya sebagai seorang misionaris, tetapi juga sebagai seorang pendidik dan intelektual yang bersemangat. Sejak tahun 1968, Franz telah ditugaskan untuk mengajar filsafat, dan motivasi utamanya adalah untuk memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan di Indonesia.

Mendirikan STF

Bersama beberapa rekannya, ia kemudian diberi tanggung jawab untuk mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat.  Tugas ini meneruskan karya almarhum ahli filsafat Nicolaus Driyarkara, SJ yang di kemudian hari perguruan tinggi filsafat tersebut diberi nama Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, sebuah langkah yang akan membuka pintu bagi perkembangan filsafat di Indonesia.

Pengabdian dan kontribusi Franz di bidang pendidikan dan filsafat Indonesia tidak terbatas pada lingkup akademis. Dia menjadi pengajar di beberapa universitas terkemuka, menyandang gelar sebagai guru besar, dan dikenal sebagai penceramah yang laris serta penulis karangan ilmiah populer. Kehadirannya dalam dunia pendidikan tidak hanya sebagai seorang dosen, tetapi juga sebagai seorang mentor yang menginspirasi banyak generasi mahasiswa Indonesia.

Pater Franz Magnis-Suseno, SJ sedang menyampaikan orasi di depan Istana Merdeka Jakarta pada “Aksi Kamisan”.

Kepedulian  Romo Magnis atau Pastor Magnis, demikian ia kerap disapa, terhadap Indonesia sebagai negaranya ia lakukan dengan melontarkan kritik-kritik, termasuk kepada sikap patriotik semu masyarakat dan petinggi-petinggi Indonesia.  Sepanjang hidupnya di Indonesia, Franz mengalami masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Dedikasinya terhadap Indonesia terlihat dari tulisan-tulisannya yang banyak mengupas demokrasi dan kebangsaan.

Namun, jauh di balik perannya sebagai seorang akademisi, Franz juga merupakan seorang pemikir yang mendalam. Dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Gereja Katolik, pandangannya tentang etika, filsafat politik, dan filsafat Jawa dipadukan dengan elemen-elemen dari tradisi filosofis Barat. Karyanya mencerminkan pemahaman yang luas tentang persoalan-persoalan moralitas manusia, keadilan sosial, dan tanggung jawab individu dalam masyarakat.

Pemikirannya tidak hanya terpaku pada teori-teori filsafat, tetapi juga berakar dalam pemahaman yang mendalam tentang realitas budaya dan sosial Indonesia. Di samping itu, pengaruh dari tokoh-tokoh filsafat besar seperti Immanuel Kant, Hegel, Aristoteles, dan Plato juga turut membentuk landasan pemikiran dan pandangan dunia Franz.

Melalui karya-karya dan kontribusinya, Franz Magnis telah menjadi sosok yang membanggakan bagi Indonesia. Dedikasinya dalam mengembangkan pendidikan dan pemikiran filsafat tidak hanya meninggalkan jejak yang dalam dalam sejarah intelektual Indonesia, tetapi juga membuka ruang bagi perbincangan dan refleksi yang lebih mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan moralitas.

Pater Franz Magnis Suseno, SJ (kiri) dan Pater Adolf Heuken, SJ (tengah) berbincang dengan mantan presiden, BJ Habibie, tahun 2016. [Dok.Istimewa]
Bagi penulis,  seorang Franz Magnis-Suseno dapat saya sebut sebagai “Nabi Kebenaran.” Beberapa kali ia dipanggil untuk menjadi saksi ahli dalam kasus besar di Indonesia. Pada tahun 2023, ia menjadi saksi ahli yang meringankan terdakwa kasus pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat, Richard Eliezer atau Bharada E. Ia dipercaya sebagai saksi ahli Capres 03 dalam sidang sengketa hasil pemilu. Ia betul-betul menunjukan kebijaksanaan sebagai seorang imam dan ahli filsafat dan etika dalam memberikan kontribusi dalam kedua kasus tersebut.

Saat ini, meskipun telah memasuki usia yang lebih lanjut, Franz Magnis-Suseno masih tetap aktif dalam dunia pendidikan dan intelektual Indonesia. Dedikasinya yang tidak pernah pudar dan semangatnya yang terus berkobar menjadi inspirasi bagi banyak orang, membawa harapan akan masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara.

Sebagai seorang rohaniawan, pendidik, dan pemikir, Franz Magnis-Suseno adalah sosok yang mengilhami dan mewakili semangat perubahan dan kemajuan bagi generasi-generasi mendatang.

Agustinus Martin Samuel, mahasiswa STF Driyarkara

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 21, Minggu, 26 Mei 2024

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here