spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

MISA KAMIS PUTIH,USKUP MANDAGI: CINTA KASIH MENEMBUS BATAS

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Perayaan Misa Kamis Putih yang menjadi gerbang memasuki rangkaian Trihari Suci Paskah di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, berlangsung khidmat namun sarat dengan pesan yang menggugat kesadaran umat. Misa agung ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, didampingi oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan Pastor John Kandam, serta Pastor Yohanis Elia Sugianto.

Mgr. P. C.Mandagi, MSC membasuh kaki “para rasul.” (HIDUP/Komsos KAME)

Dalam homilinya, Mgr. Mandagi tidak hanya menyoroti esensi cinta kasih Kristus, tetapi juga merespons tegas berbagai isu aktual, mulai dari krisis perdamaian global hingga dinamika suksesi dan politik internal di Keuskupan Agung Merauke.

Menentang Kekerasan di Tengah Dunia yang Terluka

Uskup Mandagi membuka refleksinya dengan menyoroti situasi dunia yang masih dikoyak oleh peperangan, secara khusus menyebutkan konflik yang terjadi di Iran, Israel, dan wilayah Timur Tengah. Di tengah penderitaan, hilangnya tempat tinggal, dan korban jiwa akibat kekerasan, Gereja secara konsisten menyerukan agar “Cinta dan damai harus berkuasa.”

Baca Juga:  Dari Hati yang Hancur Menuju Pemulihan dalam Tuhan Yesus
Pembasuhan kaki

Ia juga merefleksikan daya tarik universal dari ajaran nirkekerasan ini. Fenomena meningkatnya ketertarikan anak muda dan masyarakat di berbagai negara, seperti Prancis, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Malaysia, terhadap iman Katolik, hingga antusiasme masyarakat lintas agama menyambut kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia, bersumber pada satu hal pokok: Gereja Katolik secara otentik mengajarkan cinta kasih, kedamaian, dan penolakan terhadap balas dendam.

“Kalau kita buat kekerasan terhadap sesama, berarti kita anti-Katolik, kita anti-Kristiani, kita anti-Kristus.”

Kritik Keras Atas Intrik Jabatan di Keuskupan Agung Merauke

Salah satu momen paling tajam dalam homili ini adalah ketika Mgr. Mandagi menyentil keras kelompok-kelompok umat yang kehilangan fokus pada ajaran kasih karena memperebutkan posisi dan pengaruh. Beliau secara terbuka mengungkap adanya gesekan dan lobi-lobi kelompok tertentu terkait siapa yang akan menjadi penerusnya kelak.

Uskup menyoroti adanya faksi-faksi, baik yang mengatasnamakan “anak perintis” maupun yang mendesak agar uskup berikutnya haruslah Orang Asli Papua (OAP).

Baca Juga:  Merangkai Identitas Baru dalam Kasih Kristus

Mgr. Mandagi menyesalkan bahwa mereka yang bersuara lantang, berdemonstrasi, dan berangkat hingga ke Jakarta demi memperjuangkan kedudukan ini, justru kerap melupakan Kristus dan jarang hadir di gereja.

Ia pun membagikan pengalaman pribadinya menghadapi fitnah, seperti dituduh “anti-Orang Papua Selatan” atau “Uskup dijual”. Namun, ia menekankan bahwa umat Katolik tidak boleh tunduk pada kekhawatiran dan rasa dibiarkan, karena penyertaan Tuhan senantiasa hadir.

Ekaristi: Pusat Hidup dan Sentilan bagi “Imam Pemalas”

Lebih lanjut, Mgr. Mandagi menegaskan kembali posisi Ekaristi sebagai pusat dan inti ajaran Gereja. Tanpa Ekaristi, Gereja Katolik di Merauke akan “mati.” Pesan ini tidak hanya diarahkan kepada umat agar tidak malas menghadiri perayaan Ekaristi di hari Minggu, tetapi juga memuat teguran keras kepada kaum klerus.

Perarakan Sakramen Maha Kudus (HIDUP/Komsos KAME)

Uskup memperingatkan para imam agar merayakan Ekaristi setiap hari dan tidak menjadi “imam pemalas.” Dengan nada lugas Uskup menyatakan keprihatinannya atas fenomena di mana umat justru yang harus membangunkan pastornya untuk memimpin Misa, sebuah situasi yang ia sebut memalukan. Ekaristi harus selalu menjadi nyawa bagi kehidupan rohani umat, para imam, maupun biarawan-biarawati.

Baca Juga:  Agar Kelompok Rentan Tidak Kitan Terdampak

Membawa Cinta ke Tengah Masyarakat

Di akhir homilinya, Mgr. Mandagi menyadari bahwa hidup sebagai umat Katolik yang mengedepankan cinta kasih di dunia yang penuh kekerasan bukanlah hal yang mudah. Namun, melalui Sakramen Permandian, umat telah dianugerahi Roh Kudus yang memberikan kekuatan untuk mencintai sesama tanpa pandang bulu, menembus sekat agama maupun gender.

Sebagai penutup yang menggugah, Mgr. Mandagi mengutip pesan indah dari Santa Teresa dari Kalkuta:

“Ke mana pun kamu pergi, kamu harus mewartakan cinta kasih. Jangan biarkan siapapun datang kepadamu tanpa pergi dengan perasaan lebih bahagia.”

Melalui perayaan pembasuhan kaki di malam Kamis Putih ini, umat Keuskupan Agung Merauke diajak untuk kembali pada panggilan fundamentalnya: menjadi pembawa damai yang berani melawan arus kekerasan dan intrik kekuasaan dengan ketulusan cinta kasih.

Pastor Roy Sugianto (Merauke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles