spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pesta Babi, Ratapan Bumi, dan Jeritan Kaum Kecil

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM– Di zaman ketika pembangunan sering dipuja seperti agama baru, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk mendengar ratapan bumi dan jeritan kaum kecil. Hutan ditebang atas nama investasi. Sungai diracuni demi pertumbuhan ekonomi. Tanah adat dirampas demi proyek-proyek raksasa yang disebut kemajuan. Dalam situasi seperti itu, film Pesta Babi hadir bukan sekadar sebagai tontonan budaya atau drama sosial, melainkan sebagai cermin gelap tentang wajah peradaban modern yang sedang sakit.

Film ini memperlihatkan bagaimana pesta, kekuasaan, kerakusan, dan kekerasan dapat bersekutu dalam satu panggung sosial. Di balik simbol “babi” tersimpan metafora yang kuat tentang nafsu manusia yang tak pernah kenyang. Babi menjadi lambang kerakusan ekonomi, kerakusan politik, bahkan kerakusan spiritual manusia modern yang mengubah alam menjadi komoditas dan sesama menjadi korban.

Dalam terang ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ dan Fratelli Tutti, film ini dapat dibaca sebagai kritik profetis terhadap sistem sosial yang menormalisasi ketidakadilan ekologis dan dehumanisasi manusia. Film tersebut mengingatkan bahwa ketika kerakusan berubah menjadi pesta, maka bumi dan rakyat kecil akan menjadi korban pertama.

Ekologi yang Terluka dan Dosa Modern

Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi sedang “menangis” akibat eksploitasi manusia modern (Francis, Laudato Si’, 2015). Tangisan itu bukan metafora kosong. Ia nyata dalam banjir, tanah longsor, krisis air, perubahan iklim, dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat. Kerusakan lingkungan bukan lagi isu pinggiran, melainkan krisis moral dan spiritual global.

Film Pesta Babi memperlihatkan kenyataan itu secara simbolik. Tanah dan alam tidak lagi dipandang sebagai ruang sakral kehidupan, melainkan objek ekonomi yang bisa dibeli, dikuasai, dan dieksploitasi. Dalam logika kapitalisme rakus, nilai sebuah hutan diukur dari kayu yang dapat ditebang, bukan dari kehidupan yang dipeliharanya. Nilai tanah diukur dari profit investasi, bukan dari sejarah dan identitas masyarakat yang hidup di atasnya.

Di sinilah kritik teologis menjadi penting. Dalam Kitab Kejadian, manusia memang diberi mandat untuk “menguasai bumi” (Kejadian 1:28), tetapi mandat itu bukan legitimasi eksploitasi. Teologi penciptaan menempatkan manusia sebagai penatalayan, bukan penguasa absolut. Leonardo Boff dalam Cry of the Earth, Cry of the Poor (1997) menegaskan bahwa jeritan bumi dan jeritan kaum miskin sesungguhnya adalah jeritan yang sama. Ketika alam dihancurkan, manusia miskinlah yang pertama kali kehilangan hidupnya.

Dalam perspektif biblis, kerakusan merupakan bentuk penyembahan berhala modern. Rasul Paulus bahkan menyebut keserakahan sebagai idolatri (Kolose 3:5). Manusia modern tidak lagi menyembah patung emas, tetapi menyembah keuntungan ekonomi, kekuasaan politik, dan konsumerisme tanpa batas. Film Pesta Babi menyingkap bagaimana kerakusan itu disamarkan dengan bahasa pembangunan dan kemajuan.

Baca Juga:  Hebat di Luar, Heboh di Dalam; Uskup Mandagi: Kalau Keluarga Katolik Kacau, Gereja Kacau

Padahal, sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus, teknologi dan pembangunan tanpa etika hanya akan menghasilkan “budaya membuang” (throwaway culture) yang menghancurkan manusia dan alam sekaligus (Francis, Laudato Si’, 2015). Dalam budaya itu, orang miskin dianggap beban, masyarakat adat dianggap penghambat, dan alam dianggap barang mati.

Babi sebagai Metafora Antropologis dan Filosofis

Secara antropologis, simbol babi dalam film ini dapat dibaca sebagai representasi naluri primitif manusia: rakus, tamak, dan agresif. Dalam banyak tradisi budaya dan religius, babi sering diasosiasikan dengan kerakusan serta ketidakmurnian moral. Namun film ini tidak sedang berbicara tentang hewan, melainkan tentang manusia yang kehilangan dimensi etik dan spiritualnya.

Thomas Hobbes dalam Leviathan (1651) pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang cenderung saling memangsa dalam situasi tanpa moralitas: homo homini lupus — manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Dalam konteks modern, kerakusan ekonomi telah membuat manusia bukan lagi sahabat bagi sesamanya, tetapi predator sosial yang mengorbankan yang lemah demi keuntungan segelintir elite.

Sebaliknya, Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity (1961) menegaskan bahwa etika lahir ketika manusia mampu melihat wajah sesamanya sebagai panggilan tanggung jawab. Problem masyarakat modern ialah hilangnya kemampuan melihat “wajah” orang kecil. Mereka hanya dipandang sebagai angka statistik atau hambatan proyek pembangunan.

Film Pesta Babi memperlihatkan tragedi itu. Rakyat kecil kehilangan tanah, identitas, bahkan martabatnya, sementara elite politik dan ekonomi berpesta di atas penderitaan mereka. Di sini, pesta bukan lagi simbol sukacita, tetapi simbol ironi sosial.

Dalam filsafat ekologis, hubungan manusia dengan alam seharusnya bersifat dialogis, bukan dominatif. Martin Heidegger dalam The Question Concerning Technology (1977) mengingatkan bahwa modernitas telah mengubah alam menjadi “standing reserve” — sekadar cadangan material untuk dieksploitasi. Alam tidak lagi dipandang sebagai misteri ciptaan, tetapi sebagai objek produksi.

Pandangan inilah yang dikritik keras dalam Laudato Si’. Bumi disebut sebagai “rumah bersama”, bukan gudang sumber daya tak terbatas. Karena itu, merusak alam bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan dosa dan krisis spiritual.

Fraternitas yang Hilang dalam Masyarakat Modern

Jika Laudato Si’ berbicara tentang relasi manusia dengan alam, maka Fratelli Tutti berbicara tentang relasi manusia dengan sesamanya. Dalam ensiklik itu, Paus Fransiskus menegaskan pentingnya persaudaraan universal dan solidaritas sosial (Francis, Fratelli Tutti, 2020).

Baca Juga:  Enam Biarawati Institut Palazzolo yang Berjuang Melawan Ebola Menuju Kanonisasi

Namun, film Pesta Babi justru memperlihatkan keretakan fraternitas itu. Masyarakat tercerai-berai oleh konflik kepentingan, kekuasaan, dan perebutan sumber daya. Orang kecil sering dicurigai dan diintimidasi. Elite memanfaatkan ketakutan rakyat demi mempertahankan dominasi. Situasi ini mencerminkan masyarakat modern yang kehilangan empati sosial.

Secara sosiologis, ketimpangan sosial lahir ketika pembangunan hanya dinikmati kelompok tertentu. Johan Galtung dalam teorinya tentang structural violence menjelaskan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Sistem ekonomi dan politik yang membuat masyarakat miskin tetap tertindas juga merupakan bentuk kekerasan.

Film Pesta Babi memperlihatkan kekerasan struktural itu secara nyata. Tanah dirampas secara legal, tetapi tidak adil. Hukum dipakai untuk melindungi kekuasaan, bukan keadilan. Rakyat kecil kehilangan hak hidupnya atas nama prosedur dan investasi.

Dalam perspektif yuridis, persoalan lingkungan dan tanah adat bukan sekadar isu administratif. Ia menyangkut hak asasi manusia. Konstitusi Indonesia sendiri menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD 1945). Namun realitas sering menunjukkan bahwa sumber daya justru dikuasai segelintir elite ekonomi-politik atau oligarki.

United Nations melalui United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (2007) juga menegaskan hak masyarakat adat atas tanah dan identitas budayanya. Ketika tanah adat dirampas, yang dihancurkan bukan hanya ekonomi masyarakat, tetapi memori kolektif dan spiritualitas budaya mereka. Dalam konteks itu, film Pesta Babi menjadi semacam “kitab ratapan sosial” tentang bangsa yang perlahan kehilangan nurani solidaritasnya.

Krisis Psikologis dan Kehampaan Spiritual

Kerakusan tidak hanya merusak alam dan masyarakat, tetapi juga jiwa manusia sendiri. Modernitas menciptakan manusia yang kaya secara material tetapi miskin secara spiritual. Banyak orang hidup dalam kelimpahan, tetapi mengalami kekosongan batin.

Erich Fromm dalam To Have or To Be? (1976) menjelaskan bahwa masyarakat modern terjebak dalam orientasi “memiliki”, bukan “menjadi”. Manusia mengejar kepemilikan tanpa batas, tetapi kehilangan makna hidup. Akibatnya lahirlah kecemasan, alienasi, dan krisis identitas.

Film Pesta Babi mencerminkan krisis psikologis itu. Pesta yang tampak meriah sebenarnya menyembunyikan kehampaan eksistensial. Orang-orang yang rakus tidak pernah benar-benar bahagia karena kerakusan tidak mengenal titik puas.

Dalam perspektif psikologi moral, kerakusan juga melahirkan mati rasa empatik. Manusia menjadi terbiasa melihat penderitaan tanpa merasa bersalah. Ini yang disebut Hannah Arendt sebagai “banalitas kejahatan” dalam Eichmann in Jerusalem (1963): kejahatan menjadi biasa karena dilakukan secara sistematis dan dianggap normal.

Baca Juga:  Menjelang Pengumunan Ensiklik Perdananya, Paus Leo XIV Mengunjungi Observatorium Vatikan

Ketika rakyat kecil digusur demi proyek ekonomi dan masyarakat hanya diam, sesungguhnya kita sedang hidup dalam banalitas kejahatan sosial. Diam terhadap ketidakadilan adalah bagian dari reproduksi ketidakadilan itu sendiri.

Karena itu, baik Laudato Si’ maupun Fratelli Tutti sesungguhnya mengajak manusia kembali menemukan spiritualitas relasional: relasi dengan Tuhan, dengan alam, dan dengan sesama manusia. Spiritualitas Kristen bukan sekadar ritual liturgis, tetapi praksis kasih dan keadilan sosial.

Pastoral Pertobatan dan Harapan Baru

Di tengah situasi dunia yang penuh kerakusan, Gereja dipanggil menjadi suara kenabian. Gereja tidak boleh hanya berbicara tentang surga, tetapi juga tentang tanah yang dirampas, hutan yang dibakar, dan rakyat kecil yang ditindas. Teologi yang tidak menyentuh penderitaan konkret manusia akan kehilangan relevansinya.

Dalam perspektif pastoral, film Pesta Babi dapat menjadi bahan refleksi iman yang sangat kuat. Ia mengingatkan bahwa dosa sosial selalu memiliki dimensi ekologis. Kerusakan lingkungan bukan hanya kesalahan teknis, tetapi krisis moral manusia yang kehilangan rasa hormat terhadap ciptaan Tuhan.

Praksis pastoral Gereja perlu bergerak menuju spiritualitas ekologi integral sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus. Pendidikan iman tidak cukup hanya berbicara tentang keselamatan pribadi, tetapi juga tanggung jawab ekologis dan solidaritas sosial. Paroki, sekolah, komunitas basis, dan keluarga perlu menjadi ruang pembentukan kesadaran ekologis baru.

Lebih dari itu, Gereja dipanggil membangun fraternitas sosial lintas agama dan budaya. Dalam Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa dunia tidak dapat diselamatkan oleh individualisme. Harapan hanya lahir ketika manusia belajar melihat sesamanya sebagai saudara.

Karena itu, melawan kerakusan bukan sekadar agenda politik, tetapi juga panggilan spiritual. Kesederhanaan hidup, penghormatan terhadap alam, keberpihakan pada kaum kecil, dan solidaritas sosial merupakan bentuk nyata pertobatan ekologis.

Film Pesta Babi akhirnya menjadi semacam nubuat zaman ini. Ia memperlihatkan bahwa ketika pesta kekuasaan dibangun di atas penderitaan rakyat dan kehancuran alam, maka peradaban sedang bergerak menuju krisis kemanusiaan yang dalam.

Namun harapan belum hilang. Selama manusia masih mau mendengar ratapan bumi dan jeritan kaum kecil, selalu ada kemungkinan untuk berubah. Seperti ditegaskan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, manusia masih memiliki kapasitas untuk bekerja sama membangun rumah bersama yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.

Maka, pertanyaan terbesar yang diajukan Pesta Babi kepada kita bukanlah tentang siapa yang bersalah, melainkan: apakah kita masih memiliki nurani untuk berhenti berpesta di atas penderitaan bumi dan sesama?

Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd (Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles