spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Menguak Makna Moral Ensiklik “Magnifica Humanitas” Paus Leo XIV

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – PADA Senin 25 Mei 2026 Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertamanya berjudul Magnifica Humanitas dalam rangka menyelamatkan pribadi manusia di jaman dominasi artificial intelligence (AI) ini. Ensiklik itu merupakan buah permenungan spiritual dan sosial pimpinan tertinggi Gereja Katolik terhadap perkembangan teknologi yang begitu pesat dan  menyentuh sisi kemanusiaan yang fundamental.

Kehadiran AI membawa sejumlah perubahan mendasar tentang konsep dan peranan manusia, antara lain: bergesernya otoritas manusia sebagai subjek pengambil keputusan, dinamisnya, bahkan berubahnya  cara pandang tentang prinsip dan nilai, baik nilai moral maupun nilai spiritual, serta  beralihnya bentuk relasi sosial dari hal yang instrinsik ke pemujaan media instrumentalistik. Jika tidak diwanti-wanti, maka AI lama kelamaan akan mendegradasi manusia sebagai subjek bernilai, bahkan dapat menggantikan peran dan kedudukan manusia  (Bdk. Kasdin Sihotang, “Mengendus Peran Etis Media Sosial” , www.hidupkatolik.com ,    22/02/2026).

Ekses negatif AI sudah lama menjadi kekhawatiran sejumlah pemikir, antara lain Angel Marquez dan Nigel Shadbolot & Roger Hampson. Dalam bukunya  Autonomy Lost: AI Ethics, Surveillance and the Control of the Digital Age  (2024), Marquez menuliskan bahwa AI dapat menghilangkan otonomi manusia, padahal AI bukanlah manusia sesungguhnya, AI  hanyalah buatan manusia, dan dapat bertindak ala manusia seperti dinyatakan oleh Nigel Shadbolt & Roger Hampaon dalam bukunya  As If Human: Ethics and Artificial Intelligence (2024).

Sebagai pimpinan tertinggi Gereja Universal, Paus Leo XIV menyadari  betul ancaman dan bahaya humanisme dominasi AI tersebut dan mengingatkan umat manusia umumnya, dan Gereja universal  khususnya  untuk berbuat sesuatu agar bahaya itu tidak semakin melebar dan berkelanjutan.

Makna moral ensiklik

Apa makna moral ensiklik Magnifica Humanitas itu? Penulis mencoba menggali jawaban pertanyaan ini pada isi bab demi bab ensiklik ini. Pertama-tama harus dikatakan bahwa dari isi  esensialnya, ensiklik ini tidak sertamerta membahas apa itu teknologi, dan persoalan teknisnya, tetapi mengangkat tantangan antropologis dan moral serta spiritual yang mendasar, tepatnya harkat dan martabat manusia dengan multidimensinya di tengah kehadiran teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan.

Kehadiran AI, tidak bisa disangkal, membawa tantangan yang begitu besar  tentang pandangan dan upaya manusia mempertahankan martabat, kebebasan, relasi, dan orientasinya kepada Allah di tengah dunia yang semakin dikendalikan logika efisiensi, data, dan kekuasaan teknologi serta kerusakan mendasar pada generasi muda.

Yang paling rentan terkena pengaruh negatif adalah anak-anak di mana hakikat kemanusiaan mereka sejak awal sudah tergerogoti oleh teknologi digital (Bdk. Kasdin Sihotang, “Peduli Anak Akan Bahaya Gadget”, www.hidupkatolik.com, 24 Juli 2023). Ini juga menjadi keprihatinan mendalam bagi Gereja dalam ensiklik ini. Jadi, yang diangkat ensiklik ini adalah tantangan dan persoalan humanisme yang muncul sebagai ekses dari kehadiran AI. Dua hal ini termuat secara eksplisit dalam struktur ensiklik yang dibangun secara sistematis dan progresif dari satu bab ke bab berikutnya.

Baca Juga:  Wajah Humanis Terapi Sel Punca

Alur paparan ensiklik Magnifica Humanitas bergerak dari pembacaan situasi kekinian, dan menempatkan situasi kekininan dalam bingkai dasar teologis dan ajaran sosial Gereja, lalu masuk pada analisis konkret atas ekses  kehadiran AI, dan  transformasi digital terhadap humanitas, sebelum akhirnya sampai pada seruan moral dan spiritual untuk membangun peradaban manusia yang berbasis pada kasih dan keadilan.

Ensiklik Magnifica Humanitas, sejak awal sudah mengingatkan adanya ragam ekses di atas sebagaimana tergambar dalam  “Pendahuluan”, kemudian diberi tawaran solutif fundamental mengatasinya di bab-bab yang ada.   Mengawali ensikliknya Paus Leo XIV menggambarkan situasi yang sedang berkembang dewasa, yakni terjadinya revolusi digital yang disebutnya dengan istilah res novae, hal baru di jaman sekarang. Dalam hal baru ini, Paus Leo XIV mengingatkan manusia modern agar tidak mengulangi apa yang terjadi pada masa pembuangan di Babilonia dengan pendirian Menara Babel.

Menara Babel adalah simbol peradaban yang dibangun berdasarkan kesombongan, dominasi dan homogenisasi, kontradiktif dengan model pembangunan Yerusalem, yang melambangkan aksi bersama yang berakar pada solidaritas, dialog, dan keterbukaan kepada Allah sebagaimana digambarkan dalam Kitab Nehemia. Bagi Paus pertanyaan utama bukanlah “apakah teknologi baik atau buruk”, melainkan “manusia macam apa yang sedang dibentuk oleh teknologi.”

Pandangan Gereja

Paus Leo XIV selanjutnya memotret bagaimana  gambaran  Gereja terhadap sejarah dan perubahan dunia yang menjadi pokok perhatian dalam Bab 1 berjudul A Dynamic Approach Faitful to the Gospel. Dalam bab ini diurai  bagaimana Ajaran Sosial Gereja (ASG)  berkembang secara dinamis sejak Rerum Novarum hingga masa kini. Di sini muncul penegasan peran Gereja yang berbeda dengan penguasa dunia politik atau ekonomi. Gereja hadir  sebagai sahabat kemanusiaan yang membaca sejarah dalam terang Injil. Dalam bingkai peran itu pula, kehadiran AI harus ditempatkan, yakni  sebagai pengembangan lebih lanjut dari ASG.

Peran Gereja tentu memiliki dasar dan fondasi yang kuat sebagaimana dirangkai jelas dalam Bab 2 dengan judul Foundations and Principles of the Social Doctrine of the Church. Di sini Sri Paus mengangkat kembali fondasi antropologis dan prinsip-prinsip  ASG. Fondasi itu ialah bahwa manusia memiliki martabat yang tidak dapat dikurangi karena ia diciptakan menurut gambar Allah. Nilai manusia tidak ditentukan oleh produktivitas, efisiensi, kecerdasan, kemampuan ekonomi, ataupun performa digitalnya, tetapi oleh kesejahteraan bersama, solidaritas, subsidiaritas, dan keadilan sosial serta penghormatan pada hak asasi manusia.

Baca Juga:  Prof. dr. Deby Vinski: Inovator Terapi Stem Cell di Indonesia

Setelah menyuguhkan kerangka normatif, dalam Bab 3 berpayungkan Technology and Dominance, The Grandeur of Humanity in the Light of the Promises of AI, Paus Leo XIV memperlihatkan kecemasannya terhadap ekses penggunaan kecerdasan buatan, yakni munculnya dominasi paradigma teknokratis. Dari sisi esensi, bab ketiga ini bisa dikatakan sebagai pusat analisa kritis terhadap hasil teknologi bernama kecerdasan buatan, kekuasaan digital, dan paradigma teknokratis.

Paus Leo XIV mengakui bahwa teknologi dapat menjadi alat yang memuat prinsip utilitarianisme, yakni the greatest happiness for the greatest numbers, artinya manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, sebagaimana digulirkan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Jadi, kehadiran AI membawa manfaat yang besar.

Namun demikian seiring dengan itu AI juga memiliki sisi negatif, yakni dapat menciptakan bentuk dominasi baru ketika dikendalikan oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan global yang membawa ekses terjadinya reduksi manusia pada data dan perfoma, tekanan pada budaya efisiensi dengan mengabaikan etika, transhumanisme dan posthumanisme, serta ilusi peningkatan manusia tanpa batas, yang semua ini dapat mengubur belas kasih dan relasi humanistik. Bisa jadi tanpa mengingatkan semua ini, mesin supercerdas akan melebihi manusia (more than human) dan mengabaikan nilai manusia yang berbasis rahmat Allah dan humanisme Kristiani.

Menjaga Kemanusiaan

Paus Leo XIV tidak berhenti pada catatan kritis atas perkembangan teknologi, melainkan juga memberikan gagasan tentang upaya menjaga kemanusiaan dalam masa transformasi seperti diperlihatkan dalam Bab 4 dengan judul Safeguarding Humanity at A Time of Tranformation, Truth, Work, Freedom. Di sini Paus membicarakan  secara mendalam wilayah sosial dan pastoral yang lebih konkret dengan mengangkat topik-topik mendasar seperti kebenaran, demokrasi, komunikasi, pendidikan, pekerjaan, kebebasan, dan ketergantungan digital.

Artinya, kehadiran AI bukan sekadar persoalan teknologis, tetapi bersentuhan dengan persoalan fundamental  kemanusiaan seperti manipulasi informasi dan kebangkitan kebohongan, demarkasi dan polarisasi sosial  sebagai implikasi konkret media digital, eksploitasi ekonomi, pengangguran akibat otomatisasi, dependensi absolut pada teknologi digital, hilangnya kebebasan dan otonomi, serta tergerusnya autentisitas manusia.

Baca Juga:  Magnifica Humanitas dan Pertobatan Peradaban

Mengantisipasi semua ini pendidikan dipandang sebagai medan yang paling strategis pembentukan manusia yang mampu berpikir kritis, cerdas, cermat, bijaksana, dan memiliki tanggung jawab moral. Paus Leo XIV lebih lanjut mengingatkan pentingnya menghidupkan budaya kasih sebagai dasar peradaban manusia di tengah kehadiran kecerdasan buatan dewasa ini sebagaimana menjadi perhatian di Bab 5.  Melalui bab dengan judul The Culture of Power and The Civilization of Love ini, Paus Leo XIV mengajak umat  masuk dalam refleksi menuju horizon moral dan spiritual, setelah mengkritik budaya kekuasaan global, normalisasi perang, penggunaan AI dalam persenjataan, dan melemahnya multilateralisme internasional.

Menurut Paus Leo XIV, Gereja dipanggil membangun “peradaban kasih” yang berakar pada solidaritas, perdamaian, dialog, dan perhatian terhadap korban. Paus mengingatkan bahwa manusia perlu bergerak dan memiliki visi positif  tentang masa depan umat manusia: dunia yang tetap manusiawi karena dibangun atas dalam tiga dasar yang kokoh, yakni kasih, keadilan, dan persaudaraan.

Panggilan Gereja universal

Dari pencermatan terhadap isi bab ke bab seperti diurai di atas, pesan etis yang disampaikan Ensiklik Magnifica Humanitas, cukup mendasar dan jelas, yakni kehadiran artificial intelligence bukan persoalan teknis mekanistik semata, tetapi lebih dari itu, yakni menyentuh persoalan moral dan antropologis, tepatnya  mengusik nilai manusia sebagai pribadi dengan segala dimensinya dan  kedudukannya sebagai pusat seluruh perkembangan. Terhadap semua ini, Gereja dipanggil untuk aktif menghidupkan kasih sebagai dasar pembangunan peradaban di tengah  transformasi digital dunia.

Secara lain dapat dikatakan, ensiklik perdana Paus Leo XIV ini merupakan seruan moral pimpinan Gereja Universal untuk mempertahankan jiwa dan nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat.  Karena itu humanitas dalam pemanfaatan teknologi haruslah menjadi perhatian utama. Jadi, teknologi digital, lebih-lebih kecerdasan buatan, harus ditempatkan sebagai instrumen untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, bukan merendahkannya.

Kemajuan sejati terletak pada hidupnya nilai intrinsik manusia, yakni kemampuan untuk semakin mencintai, membangun solidaritas, dan hidup sebagai saudara, bukan  pada kecanggihan mesin, sebab mesin tidak memiliki dan tidak pula mampu menghidupkan nilai intrinsik ini. Teknologi digital dengan ragam bentuknya haruslah mengagungkan martabat manusia. Inilah makna moral penting ensiklik Magnifica Humanitas ini. Perguruan Tinggi Katolik, termasuk di Indonesia, haruslah menjadi motor penggerak pesan moral Paus Leo XIV ini.

 Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta/Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (HIDESI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles