spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Vatikan Tidak Izinkan Awam untuk Berkhotbah dalam Perayaan Ekaristi

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Para uskup Jerman ingin membuka kemungkinan bagi kaum awam untuk berkhotbah dalam perayaan Ekaristi. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Dikasteri untuk Liturgi menolak permohonan itu dan sekaligus memperjelas posisi kaum awam dalam liturgi.

Pada Februari 2026, Uskup Heiner Wilmer selaku Ketua Deutsche Bischofskonferenz (DBK)/Konferensi Waligereja Jerman menyampaikan bahwa ia ingin memperjuangkn izin dari Vatikan agar kaum awam dapat menyampaikan homili dalam Perayaan Ekaristi. Hal itu disampaikannya sebagai poin utama dalam konferensi pers kedua yang dilakukannya.

Heiner Wilmer menegaskan, “Kami telah sepakat bahwa saya akan membawa hal ini dalam kunjungan saya berikutnya ke Roma, menjelaskannya kembali secara langsung dalam pembicaraan di sana, serta memperjuangkannya.”

Untuk tujuan tersebut, sidang pleno Konferensi Waligereja Jerman secara khusus telah menyusun sebuah tata aturan mengenai pelayanan pewartaan, yang kemudian dimintakan persetujuan dari Vatikan. Jawaban atas permohonan tersebut disampaikan oleh Prefek Dikasteri Liturgi, Kardinal Arthur Roche, kepada Uskup Heiner Wilmer melalui surat tertanggal 17 Juni 2026 yang kini telah dipublikasikan:

“Kaum beriman awam tidak diperkenankan menyampaikan homili dalam perayaan Ekaristi pada tempat yang memang diperuntukkan bagi homili.”

Jawaban Vatikan tersebut sebenarnya tidak mengejutkan. Pada Maret 2023, Kardinal Arthur Roche sudah menegaskan dalam surat kepada ketua DBK saat itu, Uskup Georg Bätzing, bahwa tidak ada ruang untuk memberikan homili dalam perayaan Ekaristi kepada kaum awam. Sejak saat itu pun tidak ada tanda-tanda bahwa aturan tersebut akan dilonggarkan.

Pemicu surat tersebut pada waktu itu adalah keputusan dari Jalan Sinode Gereja di Jerman. Dalam Sidang Sinode kelima pada Maret 2023, para anggota sinode menyetujui dokumen berjudul “Pewartaan Injil oleh kaum awam melalui Sabda dan Sakramen.”

Isi utamanya adalah sebagai berikut, “Untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pelayanan pewartaan serta meningkatkan penghargaan dan kualitas pewartaan, para uskup diminta menyusun sebuah aturan khusus (partikularnorm) dan meminta izin kepada Takhta Suci.”

Dalam keputusan Dikasteri Liturgi tersebut dikatakan bahwa homili merupakan bagian integral dari Perayaan Ekaristi dan memiliki dimensi sakramental. Dalam keputusan itu juga ditambahkan, “Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa selain imam dan diakon, orang-orang lain yang bekerja secara penuh waktu dan telah mendapatkan pelatihan yang sesuai dapat mengambil bagian dalam pelayanan pewartaan dalam perayaan Misa.”

Baca Juga:  Lafadz Nusantara Center Ingatkan Pemerintah Soal Stabilitas Nasional

Dalam suratnya kepada Prefek Dikasteri Liturgi, Kardinal Arthur Roche pada Maret 2026, Uskup Heiner Wilmer mengingatkan bahwa tuntutan agar kaum awam dapat berkhotbah dalam perayaan Ekaristi bukanlah sesuatu yang baru. Hal tersebut bahkan sudah pernah menjadi bagian dari aturan mengenai pelayanan pewartaan yang dikeluarkan para uskup Jerman pada tahun 1974.

Dengan aturan tersebut, para uskup Jerman melaksanakan tuntutan dari Sinode Würzburg (1971–1974). Heiner Wilmer berpendapat, bahwa untuk aturan pewartaan tersebut, sejak tahun 1974 hingga diterbitkannya Kitab Hukum Kanonik (CIC) tahun 1983, telah ada persetujuan dari Takhta Suci.

Namun, hukum Gereja yang baru kemudian membatasi aturan tersebut. Karena itu, Konferensi Waligereja Jerman mengeluarkan aturan baru pada tahun 1988 yang masih berlaku hingga sekarang. Aturan tersebut menyatakan bahwa kaum awam dengan kualifikasi tertentu dapat, dalam kasus khusus dan dengan izin uskup, menyampaikan pewartaan dalam konteks perayaan Ekaristi — tetapi bukan setelah pembacaan Injil sebagai homili, melainkan sebagai sebuah refleksi atau penyampaian pada awal ibadat.

Dalam suratnya kepada Arthur Roche, Heiner Wilmer menulis bahwa aturan tahun 1988 tersebut tidak terbukti efektif dalam praktik pastoral-liturgis. Menurutnya, penyampaian pewartaan oleh kaum awam pada bagian tersebut mengganggu tata urutan liturgi, berkaitan dengan bacaan Kitab Suci yang baru akan dibacakan setelahnya dan pada posisi tersebut justru tampak sebagai sesuatu yang asing.

Para uskup Jerman ingin agar kaum awam dapat menyampaikan khotbah sebagai pengganti homili setelah Injil dibacakan. Permohonan izin khusus (indult) tersebut didukung dengan dokumen penjelasan sepanjang empat halaman. Namun, argumen tersebut tetaplah tidak berhasil meyakinkan Vatikan.

Kardinal Arthur Roche kembali menegaskan ketentuan dalam Kitab Hukum Kanonik, yaitu bahwa homili sebagai bagian integral dari liturgi hanya diperuntukkan bagi imam atau diakon. (Kan. 767 §1 Di antara bentuk-bentuk khotbah, homililah yang paling unggul, yang adalah bagian dari liturgi itu sendiri dan direservasi bagi imam atau diakon; dalam homili itu hendaknya dijelaskan misteri-misteri iman dan norma-norma hidup Kristiani, dari teks suci sepanjang tahun liturgi.)

Menurut Arthur Roche, aturan hukum Gereja tersebut bukan hanya bersifat disipliner. Sabda dan sakramen dalam perayaan Ekaristi memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Ia menulis, “Karena penetapan bahwa homili diperuntukkan bagi pelayan tertahbis merupakan bagian dari struktur sakramental dan liturgis Ekaristi itu sendiri, maka norma dalam kan. 767 §1 tidak dapat diberikan pengecualian melalui izin khusus, bahkan dengan alasan pastoral yang serius sekalipun.”

Baca Juga:  Momen Berjumpa dan Berbagi Pengalaman Kerasulan Kitab Suci

Menurut Prefek Dikasteri Liturgi tersebut, persiapan dan penyampaian homili merupakan bagian integral dari pelayanan imamat dan spiritualitas seorang imam. Dengan demikian, kemampuan teologis yang lebih baik atau kemampuan komunikasi yang dimiliki kaum awam, meskipun sangat berharga, tidak dapat menjadi alasan untuk menyerahkan pelayanan homili kepada mereka.

Dengan kata lain, dalam persoalan ini, tahbisan imamat memiliki prioritas dibandingkan kompetensi teologis semata.

Kardinal Arthur Roche juga tidak melihat adanya “keadaan pastoral yang benar-benar mendesak” yang dapat membenarkan penyimpangan dari aturan yang berlaku. Ia menjelaskan, “Jika seorang imam hadir untuk merayakan Ekaristi, maka ia juga hadir untuk melaksanakan pelayanan homili yang menjadi hak dan tugasnya berdasarkan tahbisan yang diterimanya.”

Kemungkinan keterbatasan fisik seorang imam yang membuatnya sulit menyampaikan homili dianggap hanya sebagai keadaan sementara dan sesekali, sehingga tidak dapat dijadikan alasan untuk menyatakan adanya keadaan darurat pastoral. Ia juga menegaskan, “Jika tidak tersedia seorang imam, maka tidak ada perayaan Ekaristi.”

Jika awam tidak diperbolehkan berkhotbah saat Perayaan Ekaristi, apakah ada kemungkinan lain bagi kaum awam untuk melakukan pewartaan? Dalam jawaban Kardinal Arthur Roche terlihat jelas bagaimana Vatikan memandang tempat pewartaan kaum awam, yaitu di luar perayaan Ekaristi.

Pada akhir suratnya, Prefek Dikasteri Liturgi menyebutkan berbagai kemungkinan bagi kaum awam untuk berpartisipasi, antara lain, katekese, pengajaran agama, ceramah rohani atau konferensi teologi, retret dan latihan rohani, kesaksian iman serta berbagai pertemuan pastoral. Kaum awam juga dapat diberikan tugas pewartaan dalam ibadat Sabda.

Baca Juga:  Yang Terbaru dar Majalah HIDUP Edisi Nomor 26

Sementara Dikasteri Liturgi tetap berpegang pada bentuk pewartaan yang telah ditetapkan dalam hukum Gereja, sebuah kelompok studi dalam kerangka Sinode Dunia sedang membahas tema, “Liturgi dalam perspektif sinodal.”

Kelompok studi ini dibentuk oleh Paus Leo XIV dan berakar dari dokumen akhir Sinode Dunia. Dalam dokumen tersebut, para penulis menghubungkan kehidupan sinodal dengan perayaan Ekaristi dan meminta pembentukan kelompok studi tersebut.

Dokumen akhir itu menyatakan bahwa kelompok ini dapat membahas tema pewartaan dalam perayaan liturgi serta pengembangan katekese tentang sinodalitas dari perspektif mistagogis.

Dalam laporan sementara pada November, kelompok studi tersebut baru menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang sedang mereka kaji, antara lain; bagaimana bentuk-bentuk pewartaan liturgis dapat dipahami kembali dari perspektif sinodal; bagaimana kualitas pewartaan dapat ditingkatkan; bagaimana pengembangan katekese mistagogis mengenai sinodalitas dapat didorong.

Laporan akhir dari kelompok studi yang dikoordinasikan oleh Dikasteri Liturgi tersebut masih belum diterbitkan.

Argumentasi Dogmatis Paus Leo XIV

Dalam audiensi umum Rabu, 24 Juni 2026 Paus Leo XIV kembali menegaskan dasar argumentasi dogmatis yang menjadi alasan mengapa kaum awam tidak dapat menyampaikan homili dalam Perayaan  Ekaristi.

Merujuk pada Konsili Vatikan II (1962-1965) Paus Leo XIV mengatakan bahwa ketika kita mengambil bagian dalam dalam Perayaan Ekaristi, kita diundang untuk mendengarkan Sabda Allah dan mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan, tempat Ia sendiri mempersembahkan diriNya kepada Bapa. Kedua bagian dalam Misa ini, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, memiliki hubungan yang begitu erat, sehingga keduanya membentuk satu tindakan ibadat yang tunggal.

Paus menyampaikan penjelasan tersebut dalam sebuah uraian mengenai dokumen Sacrosanctum Concilium. Melalui dokumen tersebut, Konsili Vatikan II telah menetapkan dasar-dasar Perayaan Ekaristi yang masih terus berlaku hingga saat ini. ***

Ditulis dari Vienna Austria, Bene Xavier (Kontributor)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles