Sekitar lima belas tahun yang lalu, persoalan remaja masih terlihat seperti gelombang yang datang dengan pola yang sama. Narkoba, seks bebas, dan tawuran menjadi bayang-bayang yang menghantui masa muda, tetapi semuanya masih terasa memiliki batas dan lebih mudah dikendalikan. Namun, ketika dunia memasuki era media sosial, batas-batas itu perlahan menghilang. Dunia yang dahulu luas dan jauh kini hadir dalam genggaman tangan melalui layar kecil bernama gawai.
Media sosial membawa banyak cahaya: ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kesempatan untuk terhubung dengan siapa saja. Namun, di balik cahaya itu, terdapat sisi gelap yang diam-diam menyusup ke kehidupan remaja. Generasi Milenial dan Gen Z yang tumbuh bersama teknologi menjadi kelompok yang paling dekat dengan dunia digital. Media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga menjadi ruang pergaulan, pencarian identitas, dan tempat mencari pengakuan.
Sayangnya, tidak semua yang hadir di ruang digital membawa kebaikan. Setiap hari, remaja disuguhi berbagai konten yang dapat merusak cara berpikir dan membentuk perilaku: pornografi, kekerasan, pelecehan seksual, ujaran kebencian, berita bohong, perjudian, penipuan, hingga budaya pamer diri demi mendapatkan validasi. Ada pula tren FOMO (Fear of Missing Out.), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) yang membuat banyak anak muda hidup dalam tekanan untuk selalu mengikuti standar dunia maya. Mereka takut tertinggal, takut tidak diterima, dan takut tidak dianggap.
Media sosial akhirnya menjadi seperti lautan tanpa pagar. Semua orang dapat berenang di dalamnya, tetapi tidak semua memiliki kemampuan untuk membedakan air yang jernih dan air yang beracun. Konten positif dan negatif bercampur tanpa batas. Ketika informasi buruk datang terus-menerus, kesehatan mental remaja ikut terguncang. Muncullah berbagai label seperti “kaum rebahan” dan “generasi stroberi”: generasi yang kreatif, tetapi dianggap mudah rapuh menghadapi taekanan kehidupan.
Kemudahan teknologi juga membawa perubahan dalam cara manusia berhubungan. Banyak remaja lebih akrab dengan layar daripada dengan orang-orang di sekitarnya. Interaksi langsung semakin berkurang, sementara literasi moral dan sosial tidak selalu berkembang seiring kemajuan teknologi. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi komentar kasar, perundungan, dan perilaku tanpa empati. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan justru dapat berubah menjadi ruang yang toxic.
Namun, persoalan generasi muda tidak berhenti di dunia maya. Ketika memasuki usia dewasa, muncul tantangan lain: fenomena Generasi Roti Lapis atau Sandwich Generation. Banyak anak muda harus menjadi penopang bagi banyak pihak sekaligus: dirinya sendiri, keluarga inti, orang tua, bahkan keluarga pasangan. Dengan penghasilan yang terbatas, impian memiliki rumah dan kehidupan yang stabil terasa semakin sulit. Situasi ini semakin berat akibat pandemi, krisis ekonomi global, inflasi, dan terbatasnya lapangan pekerjaan.
Di tengah tekanan tersebut, muncul pula fenomena “Marriage is Scary” di media sosial. Pernikahan mulai dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan karena membawa banyak tanggung jawab dan risiko, seperti konflik rumah tangga, kekerasan dalam keluarga, perselingkuhan, hingga perceraian. Banyak orang akhirnya memilih untuk menunda atau menghindari pernikahan karena merasa dunia terlalu tidak pasti.
Semua kenyataan ini terkadang membuat saya merasa takut dan bertanya-tanya: apakah dunia masa depan akan semakin toxic? Media sosial yang toxic dapat melahirkan pergaulan toxic. Pergaulan toxic dapat melahirkan hubungan toxic. Hubungan toxic dapat membentuk keluarga toxic, lalu menghasilkan masyarakat yang semakin kehilangan nilai dan kasih.
Karena itu, perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Remaja, termasuk Orang Muda Katolik (OMK), tidak boleh hanya menjadi penonton dari keadaan ini. Mereka adalah generasi penerus yang akan menentukan wajah dunia berikutnya. Melawan arus zaman bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memiliki keberanian untuk memilih jalan yang benar di tengah banyaknya godaan.
Dalam audiensi OMK dan misdinar bersama Uskup Sufragan Bogor pada waktu itu, Mgr. Paskalis Bruno Syukur,OFM pada rangkaian Kirab Misi Paroki Santa Maria Fatima Sentul City, saya menyampaikan kegelisahan tentang persoalan generasi muda. Beliau mengajak para remaja untuk tetap optimis, melihat dunia secara positif, serta tidak membiarkan hal-hal negatif di media sosial menguasai kehidupan. Keuskupan Bogor juga memberikan pendampingan terhadap berbagai persoalan, termasuk pornografi, perundungan, keluarga, dan kehidupan pernikahan.
Walaupun saya memiliki beberapa pandangan yang berbeda dan merasa persoalan ini membutuhkan pembahasan yang lebih mendalam, saya memahami satu hal penting: kehidupan tidak hanya ditentukan oleh keadaan dunia, tetapi juga oleh iman, kesehatan, dan kemampuan mengelola kehidupan. Sebagaimana nasihat ibu saya, manusia harus memiliki dasar yang kuat untuk bertahan.
OMK perlu dibekali bukan hanya dengan iman, tetapi juga dengan literasi digital, pendidikan karakter, pemahaman hubungan yang sehat, serta persiapan pernikahan sejak dini. Gereja, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk mendampingi mereka.
Sebab masa depan tidak dibangun setelah masalah datang. Masa depan dipersiapkan sebelum semuanya terlambat. Dan sekali lagi, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.





