spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ditandu Menuju Bunda Maria: Keteladanan Hidup Romo Lambertus Somar di Usia 94 Tahun

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – SUASANA Gua Maria Kaliori, Banyumas, terasa lebih hening dari biasanya. Di tengah rombongan peziarah yang datang membawa doa dan harapan, sosok sepuh berusia 94 tahun tampak hadir dengan wajah teduh. Ia adalah Romo Lambertus Somar, MSC.

Tubuhnya memang tak lagi sekuat masa muda. Namun, usia tidak menghapus semangatnya untuk datang, berdoa, dan merayakan iman bersama umat. Dari tatapan matanya dan senyum yang sesekali mengembang, tampak sebuah keyakinan sederhana: selama masih diberi kesempatan, perjalanan menuju Tuhan tidak boleh berhenti.

Malam itu, Rabu, 16 September 2026, rangkaian ziarah dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Patris Jeujanan, MSC. Suasana doa di Gua Maria Kaliori menjadi awal dari sebuah perjalanan yang kemudian menghadirkan pengalaman iman yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjalanan fisik.

Keesokan harinya, rombongan melanjutkan peziarahan menuju Gua Maria Melung, meniti kawasan lereng Gunung Slamet dengan medan yang cukup terjal. Bagi sebagian peziarah, perjalanan itu membutuhkan tenaga ekstra. Namun bagi Romo Somar, tantangannya jauh lebih besar.

Ia tidak berjalan dengan kedua kakinya, tetapi ditandu. Beberapa umat bergantian mengangkat dan membawa tandu Romo Somar melewati jalan menuju tempat doa. Tidak ada keluhan. Tidak ada keberatan. Yang ada justru semangat untuk memastikan imam mereka tetap dapat ikut mengalami perjalanan iman bersama umat.

Di atas tandu sederhana itu, Romo Somar justru menghadirkan pemandangan yang menyentuh. Ia tersenyum kepada orang-orang yang menandunya. Senyum itu seolah mengatakan bahwa mereka tidak sedang membawa beban, tetapi sedang membawa seorang saudara dalam satu perjalanan menuju Tuhan.

Di antara para peziarah bersama Romo Somar, hadir Agnes, Maria, Triana, Diana, Marcelina, Budi, Mady, Wiwiek, Murti, Glen, Lita, dan Velisia. Mereka menjadi bagian dari perjalanan yang perlahan berubah menjadi pengalaman persaudaraan.

“Awalnya kami melihat Romo Somar yang harus ditandu. Tetapi lama-kelamaan justru kami merasa bahwa Romo Somar yang menguatkan kami. Melihat beliau tetap mau datang dan berziarah di usia 94 tahun membuat kami merasa malu kalau mudah mengeluh,” ujar Agnes Sri Wirjanto, salah satu rombongan yang ikut dalam peziarahan itu.

Bagi Agnes, tandu tersebut akhirnya bukan sekadar alat untuk membawa tubuh yang sudah lanjut usia. “Tandu itu seperti simbol bahwa dalam perjalanan iman, kita memang tidak selalu bisa berjalan sendiri. Ada saatnya kita ditopang, dan ada saatnya kita harus menopang orang lain,” katanya.

Perayaan Ekaristi di Kapel Melung kemudian dipersembahkan oleh Romo Hans Ngala, MSC bersama Romo Patris Jeujanan, MSC. Di tempat itu, perjalanan fisik yang melelahkan menemukan maknanya dalam doa.

Sebelum rombongan kembali ke Jakarta pada Jumat, 18 September 2026, rangkaian peziarahan ditutup dengan Perayaan Ekaristi di Katedral Purwokerto bersama Romo Wahyudi, MSC dan Romo Patris Jeujanan, MSC.

Ada sesuatu yang istimewa dalam rangkaian perjalanan tersebut. Peziarahan ini mempertemukan pengalaman iman lintas generasi dalam keluarga besar Missionarii Sacratissimi Cordis Jesu (MSC).

Romo Lambertus Somar, MSC menjadi sosok sepuh yang membawa jejak panjang perjalanan iman. Di sisinya hadir para imam MSC yang melanjutkan pelayanan dan spiritualitas Hati Kudus Yesus. Karena itu, perjalanan ini terasa seperti perjumpaan tiga generasi – sebuah gambaran tentang bagaimana iman dan karisma terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Namun, kisah paling kuat justru bukan tentang siapa yang berjalan paling jauh. Melainkan tentang siapa yang bersedia menopang ketika yang lain tidak lagi mampu berjalan. Romo Somar berada di atas tandu, tetapi sesungguhnya ia sedang mengajarkan sesuatu kepada seluruh peziarah: bahwa kelemahan bukan akhir dari sebuah panggilan.

Usia boleh membatasi langkah. Tubuh boleh kehilangan kekuatan. Tetapi kerinduan untuk datang kepada Tuhan tetap dapat menyala. Di Gua Maria Melung, tandu itu seakan berubah menjadi takhta kasih. Bukan takhta yang menunjukkan kuasa, melainkan tempat di mana kelemahan seorang manusia justru memperlihatkan kekuatan kasih yang hadir melalui orang-orang di sekitarnya. Perjalanan itu mengingatkan pada sabda Rasul Paulus: Sebab dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna.” (2Kor 12:9).

Dan mungkin, itulah makna terdalam peziarahan tersebut. Tidak semua orang harus selalu kuat. Ada saatnya kita ditandu. Ada saatnya kita menjadi penandu. Tetapi selama perjalanan itu dilakukan dalam kasih, setiap langkah – bahkan langkah yang dilakukan oleh orang lain untuk kita – tetap menjadi bagian dari perjalanan menuju Tuhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles