HIDUPKATOLIK.COM – Komisi Kerawam dan HAK Keuskupan Tanjungkarang menggelar selebrasi kemerdekaan HUT RI ke 81 bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung bertema, ‘Melalui pentas seni budaya kita isi kemerdekaan dengan merawat toleransi, kerukunan, dan perdamaian di bumi Lampung di Asilo Hermelink, Bandar Lampung, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Media efektif

Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo menyapa hangat para tokoh dan semua yang hadir sebagai sehabat. Uskup menegaskan seni budaya merupakan media efektif pemersatu keberagaman. Kebudayaan mempertemukan seluruh masyarakat dalam semangat kebersamaan universal. Kemerdekaan harus membawa bangsa kembali pada cita-cita kemakmuran bersama.

Menurut Uskup, kemakmuran sejati melampaui sekadar kecukupan materi. Keadilan bangsa diuji dari keberpihakan pada masyarakat paling rentan “Kesejahteraan dan nilai kebaikan tertinggi terwujud saat yang paling miskin dinomorsatukan!”
Paus Fransiskus turut menginspirasi ajakan membangun persaudaraan sejati antarumat. Seluruh manusia diciptakan bermartabat, tanpa ada perlakuan diskriminatif.
Edukasi hukum
Ketua FKUB Lampung, Moh. Bahruddin menyambut baik pendekatan kebudayaan. Ia bersyukur indeks kerukunan Lampung mencapai angka 80,36. Riset Universitas Indonesia membuktikan kerukunan Lampung melampaui rata-rata nasional. Capaian tinggi ini adalah kerja keras bersama seluruh tokoh keagamaan.

Bahruddin mengingatkan kerukunan tetap rentan akibat persoalan pendirian rumah ibadah. Kebebasan beribadah merupakan hak asasi paling mendasar. Masyarakat diimbau tidak menghalangi atau merusak tempat ibadah.”Orang beribadah itu hak paling asasi! Jangan pernah persekusi orang sedang beribadah,!” tandasnya.
Bahruddin menjelaskan kapel dan rumah doa tidak memerlukan izin berbelit. Tokoh agama bertugas memberikan edukasi hukum yang tepat kepada umat. Acara budaya ini menguatkan komitmen perdamaian masyarakat Lampung.
Tetap dirayakan
Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, Pastor Philipus Suroyo mengatakan, seni dan budaya sifatnya mempersatukan. Lalu ia memberi contoh, saat gending-gending berbeda dimainkan akan terjadi harmoni yang indah. Semua memainkan perannya masing-masing. Di sana ada sikap saling menghormati, terbuka, dan memberi ruang bagi siapa pun yang akan mengeskpresikan jati dirinya.
“Dengan adanya pentas seni dan budaya ini akan lebih mengentalkan jati diri kita karena seni dan budaya sifatnya mengikat dan mempersatukan,” ujarnya.

Maka ia meminta agar ke depan, selebrasi tetap dirayakan, bisa juga dalam bentuk lain. Misalnya, tindakan-tindakan kemanusiaan, karitatif: menolong orang yang tidak mampu. Bisa juga selebrasi cinta lingkungan dengan penanaman pohon. Yang semua itu didukung oleh seluruh elemen lintas agama termasuk penghayat kepercayaan sehingga tercipta suasana kondusif, nyaman, dan damai
Pastor Philipus juga menegaskan, Gereja harus keluar. Gereja harus mampu memaknai perjalanan peziarahannya dari altar ke pasar, agar semakin lebih manusiawi, berbagi dan menjadi bagian dari yang lain.
Acara ini dihadiri Rektor UIN, Pembimas Katolik, Ketua MUI, Ketua FKUB Lampung, Perwakilan Walubi, PW Muhammadiyah, serta jajaran organisasi masyarakat keagamaan, tokoh adat, tokoh masyarakat. Pentas seni dan budaya ini menampilkan tari-tarian dan lagu rohani. Ada tari Cendrawasih, Tari Gambyong, Musik Gondang, Musik Gambus dan Puisi Lampung, Kerawitan 45, Lagu Nyanyian Perdamaian, dan penampilan gending-gending Jawa.

Asilo Hermelink adalah tanah milik Keuskupan Tanjungkarang. Oleh Uskup Vinsensius, lahan seluas 2,5 hektar ini dipersembahkan sebagai ruang perjumpaan bagi berbagai kelompok untuk merajut keberagaman demi mempertahankan keutuhan Republik Indonesia. Selain itu, sebagai pusat pembinaan pendidikan dan karakter, Caritative Center atau rumah bersama bagi kegiatan kemanusiaan lintas suku dan agama.***
Sr. M. Fransiska FSGM (Lampung)






