spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pesta Pelindung St. Maria Mamuju: Berjalan Bersama, Bertumbuh dalam Kasih

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Sukacita dan semangat persaudaraan mewarnai puncak Pesta Pelindung Paroki St. Maria Mamuju, Minggu, 25 Oktober 2026. Sejak pagi, umat dari berbagai stasi dan rukun berkumpul untuk merayakan kebersamaan sekaligus memperteguh iman kepada Yesus Kristus. Berbagai kegiatan yang digelar tidak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga kesempatan untuk memperbarui komitmen sebagai Gereja yang hidup dalam kasih.

Rangkaian kegiatan diawali dengan jalan bersama sejauh kurang lebih tiga kilometer, menyusuri jalan arteri di sekitar Hotel Maleo. Kegiatan yang dimulai pukul 06.15 WITA ini diikuti sekitar 300 umat. Suasana akrab dan penuh sukacita tampak sepanjang perjalanan. Langkah-langkah yang berpadu menjadi simbol perjalanan iman umat yang senantiasa dipanggil untuk berjalan bersama dalam semangat persaudaraan, harapan, dan kasih.

Setibanya di kompleks gereja, umat melanjutkan kegiatan dengan senam bersama yang dipandu oleh Hj. Etty dan Sdr. Lim, instruktur senam dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat. Dengan penuh antusias, umat mengikuti setiap gerakan. Kegiatan sederhana ini menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat, sekaligus menegaskan bahwa kehidupan menggereja dapat bertumbuh melalui berbagai aktivitas yang menyatukan umat.

Ekaristi: Kasih yang Menjadi Dasar Kehidupan

Puncak perayaan Pesta Pelindung dimahkotai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Episkopal (Vikep) Sulawesi Barat, P. Oc. Sam Bureny, Pr., didampingi Pastor Paroki St. Maria Mamuju, P. Wilhelmus Tulak, Pr., dan P. Albert, CICM.

Kehadiran P. Albert menjadi salah satu momen istimewa. Imam yang saat ini bertugas di Kongo tersebut tengah menjalani masa liburan dan berkesempatan kembali ke tanah air untuk merayakan pesta pelindung bersama umat paroki asalnya.

Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat, diiringi koor Paroki St. Maria Mamuju dan koor Stasi Salutiwo. Sekitar 600 umat memadati gereja hingga bagian balkon. Kerinduan untuk berkumpul, berdoa, dan merayakan iman bersama tampak nyata dalam antusiasme umat yang hadir.

Baca Juga:  PESPARANI II Sumsel 2026 Sukses Besar: Kota Palembang Sabet Juara Umum, Gaungkan Terobosan Strategis Menuju Nasional 2027

Sukacita perayaan semakin lengkap ketika tujuh umat menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya. Komuni Pertama menjadi pengalaman iman yang membahagiakan bagi para penerima, keluarga, dan seluruh umat. Momen ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan iman senantiasa membutuhkan pendampingan, penghayatan, dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dalam renungannya, P. Sam Bureny mengungkapkan rasa syukur atas kebersamaan dan antusiasme umat. Ia berharap agar suasana perayaan yang penuh sukacita ini menjadi dorongan bagi umat untuk semakin bertumbuh dalam iman serta meningkatkan keterlibatan dalam kehidupan menggereja.

Mengangkat Injil Matius 22:34–40, P. Sam mengajak umat mendalami pertanyaan ahli Taurat kepada Yesus mengenai hukum yang terutama. Di tengah begitu banyak ketentuan dan peraturan keagamaan dalam tradisi Yahudi, Yesus menegaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bertumpu pada dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Menurutnya, iman kepada Yesus Kristus tidak boleh berhenti pada pemenuhan kewajiban keagamaan semata. Iman harus menjadi kekuatan yang menggerakkan seseorang untuk menghadirkan kasih secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kasih kepada sesama, lanjutnya, harus berakar pada kasih kepada Allah. Hubungan yang mendalam dengan Allah menjadi sumber kekuatan rohani yang memampukan seseorang untuk bersabar, mengampuni, dan menerima sesama. Sebaliknya, ketika kehidupan rohani menjadi kering, persoalan kecil sekalipun dapat dengan mudah memicu ketersinggungan, kemarahan, dan konflik.

“Kasih kepada sesama yang tidak bersumber dari kasih kepada Allah akan membuat sumur rohani kita menjadi kering. Sedikit saja ada persoalan, kita mudah tersinggung. Karena itu, janganlah kita hidup dalam semangat seperti ini,” pesannya.

  1. Sam juga mengajak umat untuk mengasihi Allah secara total, dengan seluruh hati, jiwa, dan akal budi. Kasih tersebut hendaknya diwujudkan melalui kepedulian, pengampunan, kesediaan melayani, serta sikap saling menghargai.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa kehidupan menggereja tidak hanya dibangun melalui banyaknya kegiatan atau meriahnya perayaan, tetapi terutama melalui iman yang hidup dan kasih yang nyata.

Baca Juga:  Dari Benang yang Menyimpan Doa, NTT Merajut Harapan: Ketika Tenun Menjadi Jalan Pulang bagi Perempuan

Jamuan Kasih dan Semangat Berbagi

Usai Perayaan Ekaristi, umat melanjutkan kebersamaan melalui makan siang bersama dalam suasana penuh sukacita dan kekeluargaan. Sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dan keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan, dilakukan pemotongan tumpeng yang menjadi simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Suasana semakin meriah dengan pencabutan undian yang telah disiapkan panitia. Kegembiraan umat juga bertambah melalui penampilan anak-anak Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) serta tarian dari Stasi Salutiwo.

Di balik penampilan tersebut, tersimpan semangat pelayanan dan solidaritas. Penampilan anak-anak SEKAMI dan tarian umat Stasi Salutiwo menjadi bagian dari aksi penggalangan dana untuk mendukung pembangunan stasi mereka. Melalui talenta yang dimiliki, umat menunjukkan bahwa setiap kemampuan, sekecil apa pun, dapat menjadi persembahan yang berharga bagi Gereja.

Semangat berbagi ini menjadi gambaran nyata bahwa kasih tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan sederhana yang membawa manfaat bagi sesama. Dukungan terhadap pembangunan stasi menjadi wujud kepedulian terhadap pertumbuhan iman dan kehidupan komunitas.

Pada kesempatan tersebut, Salvinus Salamba, yang mewakili panitia, menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat yang telah hadir dan mengambil bagian dalam rangkaian Pesta Pelindung Paroki St. Maria Mamuju.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur serta seluruh umat yang telah memberikan dukungan dengan tulus, baik melalui tenaga, waktu, maupun sumbangan. Berkat keterlibatan dan kerja sama berbagai pihak, seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

Salvinus berharap agar perayaan pada tahun-tahun mendatang dapat berlangsung semakin semarak, melibatkan lebih banyak umat, serta mempererat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan menggereja.

Merayakan Iman, Menghidupi Kasih

Puncak Pesta Pelindung Paroki St. Maria Mamuju tahun 2026 menjadi momentum bermakna bagi seluruh umat. Jalan bersama, senam, Perayaan Ekaristi, makan bersama, hingga berbagai penampilan seni menjadi rangkaian kegiatan yang menyatukan umat dalam sukacita.

Baca Juga:  Ketua Presidium Pusat ISKA Luky A. Yusgiantoro Lantik DPD dan DPC ISKA DIY 2026 - 2030, Serukan Komitmen Bersama untuk Gereja, Bangsa, dan Kelestarian Lingkungan

Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan pesan iman yang lebih mendalam. Pesta pelindung bukan sekadar perayaan tahunan, bukan pula hanya tentang banyaknya umat yang hadir atau meriahnya kegiatan yang dilaksanakan. Lebih dari itu, pesta pelindung merupakan kesempatan untuk memperbarui komitmen iman dan semakin menghidupi kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam terang Injil Matius 22:34–40, Yesus mengingatkan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Iman yang sejati harus tampak dalam sikap saling menghargai, kesediaan membantu, semangat berbagi, dan kemampuan untuk hidup dalam persaudaraan.

Semangat tersebut telah tampak dalam berbagai bentuk pelayanan umat. Mereka yang berjalan bersama, bernyanyi dalam koor, melayani sebagai panitia, mendukung pembangunan stasi, hingga berbagi sukacita dalam jamuan kasih, semuanya mengambil bagian dalam membangun Gereja sebagai persekutuan yang hidup.

Kehadiran anak-anak SEKAMI juga menjadi pengingat bahwa Gereja adalah rumah bagi semua generasi. Anak-anak adalah bagian penting dari masa depan Gereja, sementara semangat pelayanan umat di stasi-stasi menjadi tanda bahwa iman terus bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan bersama.

Sebagaimana Bunda Maria yang senantiasa mengarahkan umat kepada Yesus, seluruh umat Paroki St. Maria Mamuju dipanggil untuk semakin mengenal Kristus, mengasihi-Nya, dan menghadirkan kasih-Nya di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Pesta pelindung boleh berakhir, tetapi semangat kasih dan persaudaraan hendaknya terus hidup. Sukacita yang dirasakan dalam perayaan ini diharapkan menjadi kekuatan bagi umat untuk terus berjalan bersama, saling menopang, dan menjadi saksi kasih Kristus di mana pun berada.

Selamat Pesta Pelindung Paroki St. Maria Mamuju. Semoga Bunda Maria senantiasa menyertai perjalanan iman dan pelayanan seluruh umat, agar semakin bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan sesama.

Anton Ranteallo (Mamuju, Sulbar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles