HIDUPKTOLIK.COM – Indonesia yang mempunyai aneka ragam latar belakang agama, etnis, bahasa, budaya, dan sebagainya telah menghadirkan diri sebagai negara unik dan istimewa di dunia ini. Keragama itu memberi warna demokratis pada banyak sisi, tetapi juga menjadi unsur yang riskan jika tidak dirawat dan dijaga dengan baik. Pancasila yang hadir sebagai pemersatu bangsa sungguh perlu senantiasa diingat dan melekat dalam seluruh aspek hidup masyarakat bangsa ini.
Dalam hidup sehari-hari ada beberapa peristiwa yang karena kehadiran atau perjumpaan dengan orang-orang baru dapat mengancam harmoni hidup bersama yang telah terbangun indah warnanya. Pengetahuan dan pemahaman baru menghadirkan paradgma yang bisa mengguncang tatanan lama yang mengikat kebersamaan dengan rasa dan makna cinta antarwarga.
Di berbagai daerah situasi seperti ini dapat dijumpai dan tidak mudah diselesaikan, apalagi jika berkaitan dengan ranah perbedaan agama. Namun, selalu ada lembaga atau orang-orang baik yang ingin memecahkan persoalan masyarakat itu dan meluruskannya agar hidup masyarakat kembali tertata rukun, damai, dan sejahtera.
Institut DIAN/Interfidei Yogyakarta 35 Tahun Berkarya
Salah satu lembaga yang cukup lama bergumul dengan aneka persoalan dialog lintas iman dan persoalan kemanusiaan adalah Institut DIAN/Interfidei Yogyakarta. Selama 35 tahun berdiri lembaga ini menorehkan dua catatan penting yang disampaikan saat peringatan ulang tahunnya beberapa waktu lalu di kantor lembaga ini. Pendeta A.Elga J. Sarapung selaku Direktur Institut DIAN/Interfidei menjelaskan dinamika pergumulan karya lembaga ini.

Pertama, kegiatan-kegiatan Institut DIAN/Interfidei dilakukan dalam rangka menjembatani perbedaan melalui perjumpaan-perjumpaan, dialog-dialog antar-iman dan kerja sama. Ada berbagai kegiatan yang dilakukan yaitu: pelatihan, workshop tentang bagaimana “mengelola, memaknai dan merawat perbedaan” (disampaikan kepada guru-guru agama-agama dan semua mata ajar di Tingkat SLTA, swasta dan negeri, pemuda (mahasiswa dan aktivis gerakan demokrasi dan HAM) serta para pemimpin agama-agama dan kepercayaan berbasis komunitas.
Selain itu, ada diskusi-diskusi, penerbitan, Sekolah Lintas Iman (SLI sejak 2009), lobi dan advokasi, seminar, konferensi serta membangun jaringan, baik lokal (DIY), maupun nasional dengan Jaringan Antar-iman Indonesia (JAII) sampai Regional Asia-Pasifik dengan Religions for Peace Asia, dandi tingkat internasional dengan Religions for Peace Global, dll.
Hal kedua adalah, kegiatan-kegiatan yang terkait dengan, bagaimana perbedaan bisa menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi persoalan-persoalan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian. Dalam konteks ini, ada 4 isu yang digeluti: dialog antar-iman dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), lingkungan (perubahan iklim) dan perdagangan orang atau human trafficking, serta pendidikan.
Keempat topik tersebut merupakan topik penting untuk diketahui makin banyak kalangan, tidak saja di kelompok elit, tetapi juga secara publik, sejak di kampung-kampung, dusun, desa sampai ke ruang hidup bermasyarakat yang lebih luas. Apalagi sekarang dengan era perkembangan IT luar biasa. Hal ini menjadi materi kegiatan bagi guru-guru SLTA di sejumlah daerah.
Menghargai Etika, Moral dan Martabat Hidup, dan Kehidupan Manusia
Dalam perjuangan membela martabat manusia, pemeluk agama-agama dan keyakinan/kepercayaan juga harus peduli kepada persoalan-persoalan dengan cara: kritis, berani bersuara (tidak hanya mengkritik tetapi penting juga memberi solusi). Mengapa harus dilakukan? Karena dalam persoalan-persoalan ini, ada ketidakadilan, ketidakjujuran, ketidakbenaran. Yang menjadi korban adalah masyarakat miskin, masyarakat yang tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali menjadi objek dari para oligarki, termasuk sasaran empuk dari ketidakkonsistenan pada penguasa dalam wajah apa pun.

Dalam rangka mewujudkan hal itu semua, masyarakat perlu menghargai satu sama lain. Karena itu, sangat penting melihat aspek kepemimpinannya. Bagaimana tokoh dan pimpinan agama-agama bisa memiliki komitmen dan integritas untuk berani membela yang benar dan menjadi teladan bagi umatnya. Hal ini telah ditunjukkan dalam berbagai kegiatan untuk mendukung upaya pencapaian situasi damai selain resolusi konflik di banyak daerah. Misalnya kegiatan Papua Damai, Poso, Ambon, Palangkaraya, dll.). Dalam rangka itu semua, ditemukan bahwa pendidikan menjadi sangat penting dan mendasar, yakni pendidikan agama dan budaya, serta pendidikan karakter.
Ada pembicaraan menarik yang menghadirkan beberapa narasumber untuk menyatukan dan menyegarkan kembali upaya menciptakan masyarakat damai yang ditinjau dari banyak aspek kehidupan. Mereka adalah: Hanindha Kristy (Direktur BERANDA MIGRAN), Listia Suprobo (PAPPIRUS), Cyprianus Lilik Krismantoro Putra, (Ketua LAUDATO SI INDONESIA), Samsul Maarif (Dosen ICRS & CRCS UGM), Machasin (Ketua Dewan Pembina Institut DIAN/Interfidei, Guru Besar di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), dan Pdt. A.Elga J. Sarapung (DIREKTUR Institut DIAN/Interfidei). Pertemuan itu membagikan banyak wacana dan pengalaman yang telah digeluti setiap lembaga selama ini dan didukung dengan sharing pengalaman lapangan dari pejabat pemerintahan setempat terkait keberadaan Interfidei dan persoalan antaragama yang sempat terjadi di wilayah ini.
Pentingnya Jaringan Kerja Sama dan Kolaborasi
Dari semua pengalaman Interfidei, dibuktikan bahwa keberadaan jaringan sangat perlu dan pekerjaan yang berkolaborasi menjadi penting. Kita tidak bisa bekerja sendiri, harus bersama-sama: pemerintah, agama-agama, masyarakat sipil, pusat-pusat pendidikan, dan lain-lain. Bahkan untuk menghadapi persoalan human trafficking, juga sempat dipikirkan untuk melibatkan para pengusaha yang bisa dipercaya karena berkaitan dengan lapangan kerja. Semua itu tidak mudah dan perlu strategi yang baik.
Listia Suprobo menegaskan secara khusus tentang kurikulum dalam pendidikan khususnya pendidikan agama, yang dalam jangka panjang akan menentukan dinamika harmoni hidup masyarakat. Kualitas pendidikan dan tata laksananya di lapangan sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang diberlakukan. Karena itu, kehadiran dan peran serta para tokoh pendidikan yang peduli pada aspek-aspek harmoni hidup bersama sangat diperlukan saat menyusun kurikulum yang diberlakukan.
Penyelesaian masalah migran, lingkungan hidup, dan persoalan-persoalan kemanusian yang lain sejauh dialami selalu berhasil jika diperkuat dengan sinergi dan kerja sama antarlembaga atau banyak pihak. Ke depan hal-hal ini masih membutuhkan penguatan untuk menjaga dan memperkuat kesadaran serta melakukan aksi nyatanya.
Kehadiran tokoh-tokoh penting yang menggemakan harmoni hidup bersama makin mengokohkan kegiatan yang diusung dan karya Lembaga ini ke depan. Mereka antara lain: Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera, Mohtar Mas’oed, P.M. Laksono, Pastor C.B. Mulyatno, K.H. Abdul Muhaimin, Ismadi (Kepala Dukuh Banteng), dan undangan lain perwakilan dari pemerintah daerah provinsi DIY dan kabupaten Sleman, Polda DIY, sekolah-sekolah, pemuka agama, dan kampus.
Veronika Murwaningsih (Yogyakarta)





