spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Di Mana Ada Petrus, Di Situ Ada Gereja: Pesan Hangat Nunsius Apostolik, Mgr. Piero Pioppo untuk Indonesia di Pesta Santo Leo Agung

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM— GEREJA Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Jakarta terasa lebih berdenyut dari biasanya pada Senin malam, 10 November 2025. Terlihat umat,  korps diplomatik dari negara-negara sahabat, serta panitia kunjungan Paus Leo XIV memadati bangku-bangku kayu, yang dibalut cahaya lembut. Para uskup se-Indonesia juga memeriahkan Perayaan Ekaristi itu.

Di momen ini, semua menanti homili Nunsius Apostolik, Mgr. Piero Pioppo dalam Misa Kudus khusus untuk karya pelayanan Bapa Suci Paus Leo XIV yang bertepatan dengan Pesta Santo Leo Agung.

Di tengah atmosfer sakral itu, Mgr. Pioppo membuka homilinya dengan sapaan hangat dan penuh hormat kepada para uskup, imam, biarawan/ti, pejabat sipil, para diplomat, dan saudara/i terkasih dalam Kristus. Ia menekankan betapa istimewanya momen ini sebab perayaan Pesta Santo Leo Agung menjadi jembatan untuk mendoakan Paus Leo XIV, penerus ke-267 Rasul Petrus serta seluruh Gereja universal.

Ubi Petrus, ibi Ecclesia,” ujarnya, mengutip ungkapan klasik dalam bahasa Latin: “Di mana ada Petrus, di situ ada Gereja.” Sebuah ungkapan sederhana yang mengandung kedalaman spiritual dua milenium yang berasal dari Santo Ambrosius dari Milan di mana ia hidup tidak lama setelah Santo Leo Agung. Bagi Mgr. Pioppo, berdoa untuk Paus berarti juga berdoa bersama Paus untuk seluruh Gereja dan umat manusia.

Baca Juga:  Legioner Diajak Merawat Bumi, Sesama dan Iman

Dalam bagian homili yang sarat refleksi sejarah, ia menyinggung perjalanan panjang lembaga kepausan. Selama 2.000 tahun, 266 Paus telah memikul tanggung jawab sebagai Vicar of Christ ‘Wakil Kristus’ dan “pelayan dari para hamba Allah”. Mereka datang dari berbagai latar belakang, bangsa, budaya, dan zaman, tetapi semuanya dibentuk oleh misi yang sama untuk menghadirkan kehadiran Yesus yang tak pernah meninggalkan umat-Nya.

“Banyak bendera telah dikibarkan dan kemudian diturunkan. Banyak kekuasaan bangkit dan runtuh. Banyak ideologi yang tampak abadi pun akhirnya lenyap,” tuturnya. “Hanya iman akan Kristus, yang diwartakan Petrus, yang tetap bertahan.” Iman itu, lanjutnya, kadang menyala terang, kadang redup, namun tak pernah padam sebagai sumber keselamatan.

Baca Juga:  Seandainya Pater Vertenten Hidup Kembali

Dengan nada penuh syukur, ia mengajak umat mendoakan Paus Leo XIV agar Roh Hikmat senantiasa menuntunnya. Ia berharap suara Sang Guru Ilahi terus bergema melalui ajaran Paus, yang membimbing dengan kelembutan namun tetap tegas, memanggil domba yang tersesat, menyembuhkan yang terluka, dan mengingatkan mereka yang jauh dari suara Tuhan.

Mgr. Pioppo mengutip Kitab Sirakh sebagai seruan harapan: “Pengertiannya dipuji banyak orang dan tidak pernah akan lenyap; kenang-kenangan akan dia tidak akan terhapus.” Ia menegaskan bahwa doa-doa itu menjadi bekal rohani tak hanya bagi Paus, tetapi juga bagi umat yang dituntun olehnya.

Sebelum mengakhiri homili, ia mengalihkan sorotan pada sosok Paus Leo XIV figur lembut dengan ajaran yang rendah hati. “Semoga harapan dan sukacita yang ditinggalkannya dalam hati kita menguatkan kita,” sebutnya. “Agar dunia kembali menjadi tempat di mana kehidupan dicintai, damai dibangun, dan kita berani menatap masa depan dengan keyakinan akan Tuhan.”

Baca Juga:  "Gerakan Rumah Bela Rasa Caritas": Pulihkan Martabat Penyintas Banjir Sumatra

Pesan itu terasa semakin relevan ketika Mgr. Pioppo mengajak umat Indonesia menatap ke dalam dirinya sendiri. Ia berdoa agar Paus Leo XIV membantu bangsa ini membangun keberanian moral berupa keberanian untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik bagi generasi mendatang, masyarakat yang mampu memahami makna terdalam dari iman, persaudaraan, belas kasih, dan perdamaian.

Di ujung homili, terdengar dua kali “Amin” nan tegas, penuh keyakinan, dan menggema di seluruh katedral. Sebuah penegasan bahwa di tengah dunia yang berubah cepat, Gereja mengajak semua orang untuk kembali pada hal-hal yang tak goyah, yakni iman, harapan, dan kasih.

Malam itu di Katedral Jakarta, Paus Leo XIV mungkin berada jauh di Roma. Namun seperti yang dikatakan Mgr. Pioppo bahwa di mana Petrus hadir dalam doa, di situ Gereja berkumpul dan di situlah iman kepada Kristus menjadi batu karang kebaikan kepada sesama dan seluruh ciptaan.

Felicia Permata Hanggu

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles