HIDUPKATOLIK.COM – DALAM sejarah Gereja Katolik Indonesia, sedikit sekali figur yang memantik rasa hormat sekaligus rasa gentar yang setara seperti Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Namanya tidak hanya tercatat dalam buku pembaptisan, tetapi terukir dalam tinta emas sejarah perdamaian Maluku dan kini, dalam perjuangan martabat manusia di tanah lumpur Papua Selatan.
Namun, di tengah gelombang perubahan zaman, kritik sosial, dan dinamika internal gereja yang kompleks, muncul sebuah pertanyaan mendasar, pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang rekan imam; pertanyaan yang muncul dalam benaknya di malam sebelum tidur setelah memikirkan begitu banyak ungkapan kebencian yang seolah tak pernah habisnya dialamatkan kepada Bapa Uskup: “Mengapa harus Mgr. Mandagi?” Mengapa sosok dengan gaya kepemimpinan yang keras, lugas, dan tanpa kompromi ini yang justru dihadirkan Tuhan di titik-titik paling kritis, dari konflik sektarian di Ambon hingga transisi besar pembangunan di Merauke?

Tulisan ini bukan sebuah panegyrik (pujian kosong) yang menutup mata pada realitas manusiawi beliau. Sebaliknya, ini adalah sebuah upaya objektif untuk membedah “fenomena Mandagi” melalui lensa Hukum Kanonik, Ajaran Sosial Gereja, dan realitas pastoral.
Tangan Besi untuk Memulihkan Bait Allah
Salah satu kritik yang sering dialamatkan kepada Mgr. Mandagi adalah gaya kepemimpinannya yang “tangan besi”. Namun, jika kita menengok Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 381 §1, Uskup diosesan digambarkan sebagai seseorang yang memikul kuasa legislatif, eksekutif, dan yudikatif untuk menggembalakan umatnya.
Di Keuskupan Amboina dan kini di Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Mandagi mewarisi tantangan institusional yang tidak ringan: manajemen aset yang perlu ditertibkan, disiplin klerus yang perlu ditegakkan, dan yayasan pendidikan yang hidup segan mati tak mau.
Bagi Mgr. Mandagi, Gereja yang miskin bukanlah aib, tetapi gereja yang salah urus adalah dosa. Ia menerapkan prinsip manajemen modern yang jarang disentuh oleh klerus tradisional: akuntabilitas. Ketika ia menemukan ketidakberesan dalam pengelolaan keuangan paroki atau sekolah, ia tidak segan melakukan perombakan total.
Tindakan ini seringkali tidak populer. Ia dituduh otoriter. Namun, dalam perspektif manajemen krisis, apa yang dilakukannya adalah sebuah triage, tindakan penyelamatan darurat. Ia menyadari bahwa “Bonum commune” umat tidak akan tercapai jika aset Gereja dikuasai oleh kepentingan segelintir orang. Ketegasannya dalam menindak imam yang bermasalah secara moral atau finansial adalah implementasi nyata dari kesetiaannya pada kemurnian imamat, memastikan bahwa “garam tidak menjadi tawar.”

Visi manajerialnya yang paling brilian adalah keyakinannya bahwa “Mata rantai kemiskinan hanya bisa diputus di ruang kelas.” Baik di Maluku maupun Papua, obsesinya adalah sekolah Katolik. Ia tidak hanya merenovasi gedung, tetapi merenovasi mentalitas guru dan yayasan. Baginya, sekolah Katolik harus menjadi primus inter pares (yang utama di antara yang sederajat). Ini adalah warisan (legacy) jangka panjang yang mungkin baru akan dirasakan buahnya 10 atau 20 tahun mendatang, ketika anak-anak Papua yang dididiknya hari ini tampil sebagai pemimpin yang berintegritas.
Suara Kenabian di Padang Gurun
Tugas utama Uskup adalah mengajar (KHK Kan. 386). Namun, pengajaran Mgr. Mandagi tidak terbatas pada mimbar gereja yang wangi dupa. Mimbarnya adalah jalanan berdarah di Ambon dan tanah rawa di Merauke.
Sejarah mencatat dengan tinta merah bagaimana Mgr. Mandagi berdiri di tengah badai konflik Maluku (1999-2004). Saat itu, ia bisa saja memilih opsi aman: berdiam di wisma uskup dan mengeluarkan surat pastoral yang normatif. Namun, ia memilih via dolorosa. Ia menembus barikade, menemui pemimpin Muslim, dan berteriak kepada dunia internasional.
Dalam Ensiklik Fratelli Tutti, Paus Fransiskus berbicara tentang persaudaraan insani yang melampaui sekat agama. Mgr. Mandagi telah mempraktikkan Ensiklik itu jauh sebelum ditulis. Ia mengajarkan kita bahwa “Kemanusiaan tidak memiliki agama.” Ketika ia menyelamatkan nyawa, ia tidak bertanya apa agamanya.
Sikap ini membuatnya dibenci oleh kaum radikal dari kedua belah pihak. Ia difitnah sebagai pengkhianat oleh sebagian dombanya sendiri yang menginginkan perang, dan dicurigai oleh pihak lawan. Namun, inilah esensi dari martyria (kesaksian). Ia menunjukkan bahwa seorang gembala tidak boleh ikut melolong bersama serigala; ia harus tetap waras untuk menuntun domba kembali ke kandang perdamaian.

HIDUP/Karina Chrisyantia
Pindah ke Merauke, suara kenabiannya menemukan konteks baru: Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Food Estate. Banyak aktivis mengharapkan Mgr. Mandagi menolak total segala bentuk investasi. Namun, Mgr. Mandagi menawarkan perspektif Ajaran Sosial Gereja yang lebih nuansif: Solidaritas dan Subsidiaritas.
Ia mendukung pembangunan, jika dan hanya jika itu mengangkat harkat martabat Orang Asli Papua (OAP). Mengapa? Karena ia melihat realitas kemiskinan yang mencekik. Ia adalah seorang realis. Menolak pembangunan mentah-mentah tanpa solusi alternatif adalah naif. Sikapnya adalah “Kolaborasi Kritis”. Ia merangkul pemerintah (memberkati kantor, berdialog dengan pejabat) bukan untuk menjilat, tetapi untuk mendapatkan “kursi di meja perundingan” agar bisa memperjuangkan hak adat dan lingkungan dari dalam sistem.
Ini adalah strategi tingkat tinggi yang sering disalahpahami sebagai kompromi. Padahal, ini adalah taktik pastoral cerdik: “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16).
Spiritualitas “Nil Nisi Christum”
Di balik sosoknya yang garang, terdapat fondasi spiritualitas yang kokoh yang menjadi jawaban utama: “Mengapa harus Mgr. Mandagi?”. Jawabannya terletak pada motonya: Nil Nisi Christum (Tidak ada apa pun selain Kristus, lih. Galatia 2:20).
Mengapa Mgr. Mandagi tidak takut pada siapa pun? Mengapa ia berani menegur jenderal, gubernur, bahkan imamnya sendiri di depan umum? Jawabannya adalah karena ia tidak memiliki kepentingan duniawi yang disandera. Ia tidak mencari kekayaan, ia tidak mencari jabatan politik, dan ia tidak mencari popularitas.
Ketika seorang pemimpin tidak lagi terikat pada keinginan untuk “disukai”, ia menjadi sangat berbahaya bagi kejahatan dan sangat membebaskan bagi kebenaran. Kemerdekaan batin inilah mutiara terbesar yang bisa kita teladani. Ia mengajarkan bahwa ketakutan kita untuk bersuara seringkali bersumber dari ketakutan kita kehilangan kenyamanan. Mgr. Mandagi telah “selesai” dengan dirinya sendiri; hidupnya sepenuhnya untuk Kristus dan Gereja.

Penolakan, fitnah, dan ancaman pembunuhan adalah makanan hariannya. Namun, ia tidak menjadi pahit. Ia tetap jenaka, tetap tertawa lantang, dan tetap mencintai umatnya. Ini menunjukkan kualitas resiliensi (daya lenting) rohani yang luar biasa.
Dalam teologi Salib, kita belajar bahwa tidak ada kebangkitan tanpa penderitaan. Mgr. Mandagi menghayati panggilannya sebagai Alter Christus bukan hanya saat memecah roti di altar, tetapi saat “dipecah-pecah” oleh opini publik demi mempertahankan prinsip kebenaran. Ia mengajarkan kepada kita bahwa menjadi Katolik yang militan berarti siap menjadi Signum Cui Contradicetur (Tanda Perbantahan). Jika semua orang memuji kita, mungkin ada yang salah dengan cara kita mewartakan Injil.
Relevansi bagi Umat dan Generasi Muda
Lantas, apa yang bisa kita sebagai umat awam, kaum muda, para imam, dan biarawan/ti pelajari dari sosok Mgr. Mandagi?
- Integritas di Atas Citra: Di era media sosial di mana “pencitraan” adalah segalanya, Mgr. Mandagi mengajarkan bahwa keaslian (otentisitas) jauh lebih bernilai. Jangan takut menjadi tidak populer demi mempertahankan nilai-nilai moral.
- Berpikir Besar dan Bertindak Strategis: Jangan hanya menjadi umat yang pasif dan emosional. Mgr. Mandagi mengajarkan kita untuk membaca “tanda-tanda zaman” dengan nalar yang kritis. Iman harus dibarengi dengan akal budi yang sehat dan strategi yang matang.
- Cinta pada Gereja Lokal: Kepeduliannya pada indigenisasi (pribumisasi) imam di Papua mengajarkan kita untuk mencintai akar budaya kita. Gereja Katolik adalah gereja yang universal, namun ia harus mengakar kuat di tanah tempat ia berpijak.
Menjaga Sang Penjaga
Jadi, Mengapa harus Mgr. Mandagi? Bukan hal naif berkata: karena Tuhan tahu, Gereja di Indonesia Timur dengan segala kompleksitas konflik, sumber daya alam, dan ketertinggalan, tidak bisa dipimpin oleh seorang gembala yang ragu-ragu. Tuhan mengirimkan “Singa dari Minahasa” ini bukan untuk menakut-nakuti domba, tetapi untuk mengaum mengusir serigala.

Kehadirannya adalah anugerah yang seringkali terasa “pahit” seperti obat, namun menyembuhkan. Perpanjangan masa jabatannya oleh Paus Fransiskus hingga usia senja adalah bukti validasi tertinggi dari Takhta Suci bahwa misi beliau belum selesai.
Tugas kita sekarang bukanlah sekadar memujinya, apalagi mengkultuskannya. Mgr. Mandagi pasti akan menolak dikultuskan. Tugas kita adalah mendoakannya dan meneladani keberaniannya. Kita perlu menjaganya dengan loyalitas kritis guna mendukung visi besarnya, namun tetap menjadi mitra dialog yang jujur.
Semoga kelak, ketika tongkat kegembalaan itu beralih tangan, kita bisa berkata dengan bangga: “Kita pernah berjalan bersama seorang raksasa iman, yang mengajarkan kita bahwa tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini, Nil Nisi Christum.”

Pastor Yohanis Elia Sugianto, imam diosesan Keuskupan Amboina/misionaris di Keuskupan Agung Merauke/staf pembina para frater Keuskupan Agung Merauke di Rumah Studi Duta Damai St. Nicholaus, Jayapura






