spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Raga Berpantang, Hati Bertobat: Memahami Makan di Balik Aturan Puasa Gereja

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Saat ini, Gereja Katolik di seluruh dunia tengah menjalani Masa Prapaskah sebuah perjalanan rohani selama empat puluh hari yang mengantar kita menuju perayaan kebangkitan Kristus di Hari Raya Paskah. Selama masa yang penuh rahmat ini, kita diajak untuk menghidupi kewajiban rohani, di antaranya puasa dan pantang. Namun, pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan adalah apakah kita sudah memahami dengan benar makna pantang dan puasa yang kita jalani? Ataukah kita hanya menjalankannya sebagai rutinitas tahunan tanpa penghayatan yang mendalam?

Masa Prapaskah yang berlangsung selama empat puluh hari bukanlah angka yang dipilih secara kebetulan. Angka ini memiliki makna teologis yang kaya, mengingatkan kita pada dua peristiwa agung dalam sejarah keselamatan. Pertama, kita diajak merenungkan Yesus yang berpuasa selama 40 hari di padang gurun (Mat 4:1-11), di mana Ia dicobai namun tetap teguh dalam ketaatan kepada Bapa. Kedua, kita dikenangkan pada perjalanan panjang umat Israel selama 40 tahun di padang gurun menuju tanah terjanji, sebuah masa pemurnian dan pembentukan identitas sebagai umat pilihan Allah.

Angka empat puluh dalam tradisi Kitab Suci selalu melambangkan masa persiapan, pemurnian, dan transformasi. Maka, Masa Prapaskah menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah dengan hati yang diperbarui.

Gereja tidak pernah memisahkan pantang dan puasa dari dua pilar utama lainnya, yakni doa dan amal kasih. Ketiganya merupakan satu kesatuan utuh dalam perjalanan pertobatan kita. Doa mengantar kita untuk semakin dekat dengan Allah, membangun relasi pribadi yang intim dengan Sang Pencipta. Sedangkan amal kasih mengajak kita untuk keluar dari diri sendiri, semakin mengasihi dan peduli pada sesama, terutama mereka yang berkekurangan.

Baca Juga:  Saat Tangan Medis Terhenti, Tangan Tuhan Bekerja

Dalam konteks keindonesiaan, amal kasih selama masa Prapaskah terungkap secara nyata melalui kegiatan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Melalui APP, kita diajak untuk berbagi tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga kepedulian sosial yang nyata. Umat diajak untuk menghayati solidaritas dengan menyisihkan sebagian rezeki bagi pembangunan dan pemberdayaan sesama yang membutuhkan.

Paus Fransiskus melambaikan tangan saat meninggalkan altar di Gelora Bung Karno seusai memimpin Perayaan Ekaristi, Kamis, 5/9/2024. (Foto: Dokpri)

Paus Fransiskus dengan tegas mengingatkan bahwa puasa sejati harus berbuah dalam tindakan nyata. “Puasa yang benar,” demikian sabda beliau, “adalah puasa yang melembutkan hati, membuka tangan untuk berbagi, dan menguatkan langkah untuk melayani.”

Dalam anjuran pastoralnya, Bapa Suci mengajak kita untuk mewujudkan puasa dalam solidaritas terhadap sesama dan alam ciptaan. Puasa dan pantang yang tidak diiringi doa dan amal kasih, pada akhirnya hanyalah diet biasa yang tak bermakna rohani.

Secara sederhana, puasa dapat dipahami sebagai pembatasan porsi makanan dalam tradisi Gereja, kita hanya diperkenankan makan kenyang satu kali sehari. Sedangkan pantang berarti tidak mengonsumsi jenis makanan tertentu, khususnya tidak makan daging pada hari-hari yang ditetapkan. Namun, sungguh disayangkan jika pemahaman kita berhenti hanya pada persoalan makanan.

Paus Paulus VI melalui Konstitusi Apostolik Paenitemini (1966) memberikan pencerahan mendalam bahwa tobat pertama-tama adalah sikap batin, yang kemudian terungkap dalam bentuk pantang dan puasa. Rasa lapar yang kita alami selama menjalankan pantang dan puasa bukanlah tujuan akhir, melainkan menjadi simbol kerinduan kita akan Allah. Dalam pengalaman keterbatasan dan kelemahan itulah, kita diajak untuk menata kembali hidup kita agar semakin sesuai dengan kehendak Allah.

Baca Juga:  Dua Sisi Koin: Sebuah Jalan Tengah antara Menyelaraskan Laba Pasar Modal dengan Sabda Kelestarian Alam

Pantang dan puasa yang kita jalani dapat disesuaikan bentuknya dengan kondisi dan tantangan zaman kita masing-masing. Di era digital seperti sekarang, di mana kita hampir tak terpisahkan dari gawai, bentuk pantang yang relevan bisa berupa pantang scroll media sosial secara berlebihan, atau membatasi diri menggunakan gadget yang justru menjauhkan kita dari Allah dan sesama.

 

Seorang remaja mungkin berpantang dari game online untuk memberikan waktu lebih bagi keluarga. Seorang pekerja mungkin berpantang dari gosip atau kata-kata kasar yang melukai sesama. Seorang ibu rumah tangga mungkin berpantang dari keluhan dan mengubahnya menjadi doa. Intinya, pantang bukan sekadar meninggalkan sesuatu yang baik, tetapi menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik demi kedekatan dengan Allah dan sesama.

Mari kita renungkan kisah nyata seorang karyawan muda di Jakarta bernama Andreas. Setiap hari Jumat selama masa Prapaskah, ia memilih untuk tidak makan siang di restoran cepat saji favoritnya. Uang yang biasanya ia belanjakan sebesar Rp50.000,00 ia sisihkan ke dalam “celengan Prapaskah” yang khusus disiapkan. Pada akhir Masa Prapaskah, ia membuka celengan tersebut dan menemukan uang terkumpul sebesar Rp600.000,00. Uang itu ia gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah bagi anak-anak di panti asuhan dekat rumahnya. Namun yang lebih mengesankan, Andreas mengaku bahwa pengalaman ini mengubah hatinya. “Saya jadi lebih peka bahwa di luar sana banyak yang kesulitan. Rasa lapar di siang hari justru mengingatkan saya untuk berdoa bagi mereka yang setiap hari bergumul dengan kelaparan.” Inilah puasa yang sejati, yang mengubah raga dan membaharui hati.

Baca Juga:  Paus Leo XIV Bertemu dengan Uskup Argentina yang Ditekan untuk Mengundurkan diri Dibawah Paus Fransiskus setelah Menolak Interpretasi Heterodoks dari “Amoris Laetitia”

Gereja Katolik menetapkan bahwa hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai hari wajib puasa dan pantang (bdk. KHK Kan.1251-1252). Sedangkan hari Jumat sepanjang tahun pada dasarnya adalah hari tobat, dan secara khusus selama Masa Prapaskah diwajibkan pantang.

Namun, ketentuan ini harus dipahami sebagai jalan untuk menempuh pertobatan bersama sebagai satu keluarga besar Gereja, bukan sebagai beban atau aturan yang kaku dan mengekang. Pada akhirnya, puasa dan pantang yang diwajibkan Gereja mengajak kita pada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar membatasi makanan.

Semua ini adalah sarana rahmat untuk membarui hati. Raga kita yang berpuasa dan berpantang harus senantiasa diiringi hati yang bertobat, serta berbuah nyata dalam solidaritas terhadap sesama. Ketiga hal ini pantang-puasa, doa, dan amal kasih harus berjalan seiring seirama. Jika tidak, pantang dan puasa kita tidak lebih dari diet makanan jasmani biasa yang kehilangan dimensi rohaninya.

Prapaskah bukanlah ajang kompetisi untuk membuktikan seberapa kuat kita menahan rasa lapar, melainkan sebuah kesempatan istimewa untuk melihat sejauh mana kita membiarkan Allah mengubah dan membaharui hati kita.

Marilah kita menjalani Masa Prapaskah ini dengan kesadaran penuh bahwa melalui raga yang berpantang, kita sedang mempersiapkan hati yang bertobat untuk menyambut sukacita Paskah yang sejati.

Maria Pengan, Guru SD dan SMP Pendididkan Agama Katolik Sekolah Santo Leo 1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles