spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pesan Uskup Agung Merauke, Mgr. P.C. Mandagi, MSC pada Tahbiskan Tiga Imam di Merauke: Agar Para Imam Tidak Bersikap “Kepala Batu”

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Katedral Keuskupan Agung Merauke sore hari Sabtu, 31/1/2026. Ribuan umat menjadi saksi saat Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC meletakkan tangan dan menahbiskan tiga diakon menjadi imam baru bagi Gereja Katolik. Upacara ini bukan sekadar seremoni gerejawi, melainkan penegasan kembali tentang ketaatan, pengudusan, dan misi lintas benua. Di hadapan ribuan umat yang memadati kursi-kursi gereja, suasana khidmat berubah menjadi penuh haru sekaligus teguran yang membangun ketika para tokoh kunci memberikan pesan-pesan bernas mereka.

Suasana tahbisan di Gereja Katedral Merauke. (Foto: Komsos KAME)

Mgr. Mandagi, dalam sapaan liturgisnya yang tajam namun kebapaan, langsung menghujam ke jantung esensi imamat. Ia mengingatkan bahwa para imam baru ini bukan sekadar teman, anak, atau saudara bagi umat, melainkan sosok yang telah dipilih Kristus untuk menjalankan tugas pengudusan. Ia menekankan bahwa tugas imam adalah mematikan segala jenis kejahatan dalam diri demi menghidupkan kurban rohani di atas altar. Pesan ini diperkuat dengan pengingat keras bagi para imam agar tidak pernah mencari kesenangan diri sendiri, melainkan harus selalu gembira dalam cinta kasih yang sejati saat menggembalakan umat Allah.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi Nomor 20

Garis bawah yang paling tebal dalam perayaan ini adalah mengenai ketaatan. Uskup Mandagi dengan lugas menyatakan bahwa ketaatan adalah fondasi tunggal yang membuat Gereja Katolik tetap tegak berdiri hingga hari ini.

Ia berpesan agar para imam MSC tidak bersikap “kepala batu” kepada pimpinan, baik itu Uskup maupun Provinsial.

Ketiga diakon mengikuti proses tahbisan imama di Katedral Merauke. (Foto: Komsos KAME)

Lebih jauh lagi, Uskup menyetujui peringatan Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo agar Gereja tidak dijadikan medan demonstrasi atau tempat provokasi. Umat diminta untuk melihat imam bukan dari kelemahan manusianya yang penuh dosa, melainkan dari martabat imamat yang telah dikuduskan Allah. Kedewasaan iman umat bahkan diuji dengan pesan visioner Uskup: siapa pun yang nanti dipilih menjadi penerusnya, bahkan jika bukan orang asli Papua, harus diterima sebagai karya Roh Kudus yang berdaulat.

Baca Juga:  Uskup Palangka Raya Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF: Saya Belajar Mendengar sebelum Memutuskan

Nada tegas juga datang dari Provinsial MSC Pastor Samual Maransey, MSC yang menitipkan pesan singkat namun sarat makna: “Jangan buat malu.” Ia mengingatkan bahwa identitas seorang imam adalah identitas kolektif yang membawa nama besar keluarga, tarekat, dan keuskupan. Setiap gerak-gerik imam baru ini akan menjadi cermin bagi institusi yang mereka bawa. Hal ini selaras dengan harapan Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze dan Gubernur Papua Selatan yang melihat kehadiran imam sebagai pilar pendidikan iman dan pemersatu bangsa. Pemerintah berharap agar hidup menggereja menjadi lambang persaudaraan sejati di tanah Papua, di mana ketaatan imam kepada Uskup menjadi teladan bagi ketaatan warga kepada tatanan sosial yang harmonis.

Baca Juga:  Caritas Indonesia Perkuat Kolaborasi Respons Kebencanaan dengan Lembaga, Organisasi, Rumah Sakit, dan Kongregasi/Tarekat

Puncak dari seluruh rangkaian pesan ini terwujud dalam pengumuman perutusan yang mengejutkan sekaligus membanggakan. Gereja Merauke membuktikan diri tidak hanya “menerima”, tetapi mampu “memberi” bagi Gereja Universal.

Pastor Agustinus Nicolaus Yokit, MSC diutus mengarungi samudera menuju Keuskupan Guantanamo di Kuba, sementara Pastor Yohanis Ngaga Mbira Lando, MSC akan menjalankan misi di Ekuador. Sedangkan Pastor Gregorius Helyanan tetap tinggal untuk memperkuat akar pelayanan di Paroki Mur, wilayah pedalaman Keppi.

Perutusan ini menjadi simbol nyata bahwa ketaatan yang ditekankan sepanjang perayaan adalah kesiapan untuk pergi ke mana saja demi mencari yang hilang, sebagaimana teladan Yesus Sang Gembala Baik. Perayaan diakhiri dengan sorak proficiat, membawa pulang harapan agar para imam baru tetap kudus, tetap taat, dan tidak pernah memalukan umat Allah yang mereka layani.

Pastor Yohanis Elia Sugianto (Merauke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles