web page hit counter
Senin, 9 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Refleksi Teologis: Ketika Seorang Anak Kehilangan Harapan — Di Mana Gereja Berdiri

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Tragedi seorang anak kecil yang mengakhiri hidupnya karena kemiskinan bukan hanya peristiwa sosial; ia adalah locus theologicus artinya sebuah “tempat teologis” di mana Allah berbicara melalui jeritan sejarah. Dalam tradisi Kitab Suci, Allah sering kali terdengar bukan dalam kemenangan, tetapi dalam tangisan orang kecil:
“Aku telah memperhatikan dengan sungguh penderitaan umat-Ku… Aku telah mendengar teriak mereka.” (Kel 3:7).

Jika Allah mendengar, pertanyaan yang mengguncang kita adalah: apakah Gereja juga cukup mendengar?
Pertama, Misteri Kejahatan dan “Skandal Kepolosan” . Kematian seorang anak menyentuh wilayah paling sulit dalam teologi: mysterium iniquitatis yakni misteri kejahatan.

Kita tidak boleh tergesa-gesa memberi jawaban rohani yang murah. Tidak ada penjelasan yang mampu “membenarkan” kematian seperti ini. Dalam arti tertentu, tragedi anak selalu menjadi protes diam terhadap dunia yang belum ditebus sepenuhnya.

Hans Urs von Balthasar pernah menulis bahwa penderitaan orang tak bersalah membuka jurang dalam hati teologi. Sebab, di sana kita berdiri tanpa kata, seperti Maria di kaki salib.

Barangkali sikap pertama Gereja bukan berbicara, tetapi berjaga dalam keheningan yang berbelarasa.

Sebab iman Kristiani tidak dimulai dari penjelasan, melainkan dari Allah yang ikut menderita.

Kedua, Kristologi: Wajah Kristus dalam Anak yang Terluka
Yesus tidak hanya menjadi manusia; Ia memilih keberpihakan pada yang kecil.
“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku.” (Mrk 10:14)

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi No.6 Terbit Minggu 8 Februari 2026

Kalimat ini bukan sentimental, ini revolusioner. Dalam dunia kuno, anak tidak memiliki status sosial. Namun Yesus menjadikan mereka ikon Kerajaan Allah.Maka secara kristologis kita dapat mengatakan: Anak yang putus asa itu adalah ikon Kristus yang tersalib dalam sejarah. Bukan metafora puitis, akan tetapi realitas sakramental dalam arti luas:
Kristus terus menderita dalam tubuh manusia yang rapuh.

Henri de Lubac mengingatkan bahwa kita tidak bisa mencintai Kristus tanpa mencintai mereka yang menjadi tubuh-Nya dalam sejarah.
Pertanyaan kerasnya: Apakah kita cukup cepat mengenali Kristus sebelum Ia “disalibkan” oleh kemiskinan?

Ketiga, Eklesiologi Communio: Luka Satu Anggota adalah Luka Seluruh Tubuh. Dalam visi Communio, Gereja bukan organisasi religius, tetapi organisme hidup.
“Jika satu anggota menderita, semua turut menderita.” (1Kor 12:26). Namun tragedi seperti ini menguji apakah communio itu nyata atau hanya konsep teologis.

Gereja menjadi tidak autentik bila: liturginya indah tetapi jauh dari tangisan manusia, teologinya tinggi tetapi lambat menyentuh realitas, karitasnya ada tetapi tidak antisipatif.
Ratzinger pernah menulis bahwa Gereja paling menjadi dirinya ketika ia menjadi “ruang bagi mereka yang tidak memiliki ruang.” Artinya, ukuran keberhasilan Gereja bukan pertama-tama jumlah umat, melainkan apakah yang paling rentan merasa tidak sendirian.

Baca Juga:  Upaya Konkret Membangun Kesadaran dan Pemahaman Dasar Pesan Ensiklik Laudato Si’

Keempat, Dosa Struktural dan Pertobatan Komunal. Kita harus berani melangkah lebih jauh dari belas kasihan pribadi menuju pemeriksaan batin eklesial. Tradisi sosial Gereja berbicara tentang dosa struktural yakni situasi yang tanpa disadari kita biarkan sehingga orang kecil terhimpit. Ini bukan soal menyalahkan, tetapi soal kesadaran: Kadang tragedi terjadi bukan karena kita jahat,
tetapi karena kita tidak cukup tergerak. Di sini Gereja dipanggil pada pertobatan pastoral.

Paus Fransiskus menyebutnya sebagai perubahan dari Gereja yang nyaman menjadi Gereja yang “terluka karena keluar”. Lebih baik Gereja terluka karena mendekat,
daripada steril tetapi jauh.

Kelima, Teologi Harapan: Apakah Allah Absen? Pertanyaan paling sunyi biasanya ini: Di mana Allah ketika seorang anak kehilangan harapan?
Salib memberi jawaban yang tidak simplistis: Allah tidak selalu menyelamatkan kita dari penderitaan, tetapi Ia memilih hadir di dalamnya.
Jürgen Moltmann menulis: “Allah menangis bersama kita agar suatu hari kita dapat tertawa bersama-Nya.”

Harapan Kristiani bukan optimisme dangkal. Ia lahir justru di tempat paling gelap, makam yang kemudian kosong. Karena itu Gereja tidak boleh hanya menjadi komunitas moral, tetapi penjaga harapan, bahkan ketika harapan tampak mustahil.

Baca Juga:  Guru, Gembala, dan Jejak Hati Kudus

Keenam, Anak-anak sebagai “sakramen eskatologis”. Ada gagasan indah dalam teologi spiritual: anak-anak mencerminkan masa depan Allah. Ketika seorang anak tidak melihat masa depan, itu adalah retakan eskatologis, seakan janji Allah tentang hidup yang berlimpah tertutup oleh realitas. Maka membela anak bukan sekadar aksi sosial;
itu adalah partisipasi dalam karya penyelamatan Allah atas masa depan dunia.

Ketujuh, Apa yang Roh Kudus mungkin katakan kepada Gereja?
Setiap tragedi juga bisa menjadi kairos — saat rahmat yang mengguncang.

Mungkin Roh berbisik: Jadilah Gereja yang lebih dekat daripada prosedur. Lebih peka daripada administratif. Lebih relasional daripada institusional
Sebab sering kali yang menyelamatkan hidup bukan program besar akan tetapi seseorang yang hadir dan berkata: “Engkau berharga.”

Penutup Kontemplatif: Bayangkan anak itu sejenak berdiri di hadapan Allah. Kita percaya Allah tidak menyambutnya dengan pertanyaan,
melainkan dengan pelukan.Namun pertanyaan bagi kita tetap tinggal:
Berapa banyak pelukan yang terlambat kita berikan?
Semoga Gereja semakin menjadi apa yang oleh para Bapa disebut: mater et magistra — ibu yang memeluk, bukan hanya guru yang mengajar.
Karena pada akhirnya, dunia tidak terutama membutuhkan Gereja yang kuat, melainkan Gereja yang berhati.

Pastor Jacobus Tarigan, Dosen STF Driyarkara Jakarta, Alumnus Universitas Gregorina Roma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles