web page hit counter
Sabtu, 7 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Guru, Gembala, dan Jejak Hati Kudus

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK. COM – Refleksi atas Ulang Tahun ke-69 Pastor Prof. Dr. Johanis Ohoitimur MSC

Ulang tahun bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan momen kontemplatif untuk membaca kembali jejak hidup seseorang sebagai teks yang sarat makna. Pada usia ke-69 tahun, Pastor Prof. Dr. Johanis Ohoitimur MSC—yang akrab disapa Pastor Yong—menampilkan sebuah biografi hidup yang tidak hanya penting bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang yang disentuh oleh pemikiran, pelayanan, dan keteladanannya. Bagi saya pribadi, beliau bukan hanya seorang imam dan akademisi, melainkan guru kehidupan yang membentuk horizon intelektual, etis, teologis, dan spiritual saya.

Kelahirannya di Tual, 7 Februari 1957, dapat dibaca sebagai awal dari sebuah perjalanan panggilan yang perlahan-lahan menemukan bentuknya dalam dunia pendidikan, Gereja, dan masyarakat. Dalam diri beliau, saya melihat bagaimana sebuah kehidupan dapat menjadi narasi yang koheren: intelektualitas yang disinari iman, spiritualitas yang membumi dalam praksis, dan kepemimpinan yang berakar pada kemanusiaan.

Filsafat sebagai Pembinaan Kemanusiaan

Saya pertama kali mengenal Pastor Yong sebagai dosen filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP) dan pembina di Skolastikat MSC Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara. Di ruang kuliah itulah saya mengalami filsafat bukan sebagai kumpulan teori abstrak, tetapi sebagai latihan mencintai kebijaksanaan. Ia mengajar dengan ketenangan seorang pemikir dan kehangatan seorang gembala. Dalam tradisi filsafat klasik, filsafat dipahami sebagai seni merawat jiwa (Hadot, 1995). Cara Pastor Yong mengajar membuat saya merasakan bahwa filsafat sungguh merupakan praktik pembentukan diri—sebuah askese intelektual yang menuntun pada kebebasan batin. Beliau tidak hanya menjelaskan konsep-konsep, tetapi mengajak kami berdialog dengan realitas. Filsafat, dalam pendekatannya, adalah sarana untuk mempertajam nurani dan memperluas empati. Dari beliau saya belajar bahwa berpikir kritis tidak bertentangan dengan iman, melainkan justru memperdalamnya. Di ruang kelas, kami dilatih untuk bertanya, meragukan, dan sekaligus mencari kebenaran dengan kerendahan hati intelektual.

Pendidikan sebagai Misi Humanisasi

Sebagai akademisi dan mantan Rektor Universitas Katolik De La Salle Manado selama dua periode, Pastor Yong menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh terjebak dalam teknokrasi semata. Pendidikan, dalam pengertian humanistik, adalah proses memanusiakan manusia (Freire, 1970). Melalui kepemimpinannya, ia menegaskan bahwa sekolah tinggi dan universitas Katolik harus menjadi ruang dialog antara iman dan rasio, antara ilmu dan nilai, antara kompetensi profesional dan tanggung jawab sosial.

Kepeduliannya dalam membantu mengorkestrasi yayasan persekolahan Lokon Santo Nikolaus di Tomohon dan Timika memperlihatkan komitmennya bahwa pendidikan adalah misi pastoral yang konkret. Ia memandang sekolah bukan sekadar institusi administratif, tetapi komunitas pembelajaran yang membentuk karakter. Dalam visi pendidikannya, mutu akademik harus berjalan seiring dengan pembinaan etika dan spiritualitas.

Baca Juga:  Paus Leo XIV Menyerukan Doa untuk Ukraina dan Komitmen Baru terhadap Perlucutan Senjata Nuklir

Kisah personal keluarga saya mempertegas hal itu. Tahun lalu, ketika anak sulung saya, Francis Mety, berencana masuk SMP Lokon, saya menghubungi Pastor Yong. Dengan kerendahan hati yang sama seperti yang saya kenal sejak dulu, beliau merespons dengan cepat dan menyatakan kesiapan untuk membantu proses tersebut. Walaupun pada akhirnya, karena pertimbangan keluarga, Francis tidak jadi masuk SMP Lokon dan memilih bersekolah di SMP Pax Christi Manado, perhatian beliau meninggalkan kesan mendalam. Saya merasakan bahwa kepeduliannya pada pendidikan bukan sekadar wacana institusional, melainkan perhatian personal yang menyentuh kehidupan konkret keluarga.

Kebijaksanaan Praktis dan Tanggung Jawab Publik

Secara filosofis, saya melihat dalam diri Pastor Yong sebuah sintesis antara rasionalitas kritis dan kebijaksanaan praktis. Aristoteles menyebut kebijaksanaan praktis sebagai phronesis—kemampuan menimbang secara bijak dalam situasi konkret (Aristotle, 2009). Dalam berbagai percakapan dan pengajarannya, beliau selalu mendorong kami untuk berpikir jernih sekaligus bertindak bertanggung jawab.

Dimensi etis dari hidupnya tampak dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Etika kebajikan menekankan bahwa karakter moral dibentuk melalui kebiasaan hidup yang konsisten (MacIntyre, 2007). Dalam keseharian, beliau menunjukkan integritas, perhatian pada sesama, dan kesiapsediaan untuk menolong. Ia adalah pribadi yang berwibawa tanpa kehilangan kehangatan.

Komitmen etis itu juga tampak dalam kiprahnya di ruang publik. Pastor Yong kerap memberikan pembekalan tentang etika kepada kalangan legislatif dan eksekutif di Provinsi Sulawesi Utara serta berbagai institusi lain. Kehadirannya di forum-forum tersebut menegaskan bahwa etika bukan sekadar wacana akademik, melainkan fondasi bagi tata kelola publik yang bermartabat. Ia membantu para pengambil kebijakan merefleksikan keputusan mereka dalam terang nilai-nilai keadilan, tanggung jawab, dan martabat manusia.

Spiritualitas Hati Kudus dan Teologi Kasih

Sebagai imam biarawan MSC, spiritualitas Hati Kudus Yesus menjadi pusat orientasi hidup Pastor Yong. Spiritualitas ini menekankan cinta kasih yang berbelas kasih, solidaritas dengan yang lemah, dan komitmen misioner. Dalam perspektif teologi spiritual, pengalaman iman sejati selalu berbuah dalam praksis kasih (Rahner, 1978).

Thomas Aquinas menegaskan bahwa kasih (caritas) adalah kebajikan teologis tertinggi yang mengarahkan manusia kepada Allah dan sesama (Aquinas, 1981). Dalam terang pemikiran ini, kehidupan Pastor Yong dapat dibaca sebagai praktik caritas yang inkarnatif: kasih yang tidak berhenti pada devosi personal, tetapi menjelma dalam pendidikan, pelayanan sosial, dan pendampingan manusia.

Pater Jules Chevalier, pendiri MSC, menekankan bahwa Hati Kudus Yesus adalah simbol cinta Allah yang aktif dan misioner (Chevalier, 1995). Spiritualitas ini tampak nyata dalam cara Pastor Yong menjadi gembala yang baik, bijak, dan rendah hati. Ia sadar akan kelemahan manusiawinya, namun justru kesadaran itu memperdalam ketergantungannya pada rahmat. Dalam dirinya, spiritualitas Hati Kudus bukan retorika, melainkan gaya hidup.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi No.6 Terbit Minggu 8 Februari 2026

Pelajaran Personal tentang Kemurahan Hati

Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan saya terjadi pada tahun 2008, ketika saya memutuskan mundur dari MSC dan bergabung dengan Institut DIAN/Interfidei di Yogyakarta. Dalam sebuah seminar nasional yang digelar oleh Institu DIAN/Interfidei, Pastor Yong hadir sebagai narasumber. Ia tampak terkejut melihat saya. Di sela rehat, kami berbincang singkat namun bermakna. Dengan perhatian seorang ayah, ia menawarkan kesempatan bagi saya untuk bergabung di Persekolahan Lokon.

Saya memilih tetap di pekerjaan yang sedang saya tekuni saat itu. Ada rasa malu dan perasaan tidak layak dalam diri saya—seolah-olah saya telah menerima begitu banyak dari MSC sehingga tidak pantas meminta lebih. Namun dari peristiwa itu saya belajar tentang kemurahan hati yang tidak bersyarat. Pastor Yong menunjukkan bahwa relasi manusiawi yang sejati melampaui kalkulasi untung-rugi.

Menulis sebagai Tanggung Jawab Intelektual

Dari Pastor Yong saya juga belajar menulis. Terinspirasi oleh kuliah-kuliahnya di STFSP, saya mulai memberanikan diri menulis opini di Harian Manado Post dan tampil di Radio Montini serta media lain. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah tanggung jawab intelektual: sebuah cara berpartisipasi dalam ruang publik dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam perspektif pendidikan kritis, literasi adalah praksis pembebasan (Giroux, 1988). Dorongan beliau membantu saya menemukan suara dan keberanian untuk terlibat dalam diskursus publik. Menulis menjadi sarana refleksi diri sekaligus pelayanan sosial.

Pengalaman lain yang sangat menentukan terjadi pada awal tahun 2005 ketika saya berkonsultasi dengan beliau mengenai rencana menulis skripsi tentang Trafficking in Women di Manado sebagai Model Baru Perbudakan di Zaman Modern. Setelah mendengarkan penjelasan saya, Pastor Yong berkata dengan jujur bahwa topik itu berat. Namun ia segera menambahkan: “Coba saja.” Kalimat sederhana itu saya terima sebagai tantangan intelektual sekaligus kepercayaan personal. Bagi seorang mahasiswa calon imam-biarawan, tema tersebut tergolong langka dan berada di luar arus utama studi filsafat dan teologi. Justru di situlah saya belajar mengintegrasikan refleksi filosofis, etis, dan sosial ke dalam penelitian yang konkret. Dengan bimbingan moral dari sikap terbukanya, saya akhirnya mampu menyelesaikan skripsi tersebut dengan baik. Pengalaman itu menegaskan peran Pastor Yong sebagai pendidik yang tidak membatasi horizon muridnya, melainkan mendorong keberanian untuk menyeberangi batas-batas disiplin ilmu demi memahami realitas manusia secara lebih utuh.

Jika saya refleksikan sekarang, pilihan tema tentang perdagangan perempuan itu juga membuka cakrawala teologis yang lebih luas. Dalam terang etika sosial Katolik dan arus teologi pembebasan, perhatian pada korban trafficking merupakan partisipasi dalam keberpihakan iman kepada martabat manusia yang terluka. Teologi pembebasan menegaskan bahwa iman Kristen dipanggil untuk membaca “tanda-tanda zaman” dan berpihak pada mereka yang tertindas (Gutiérrez, 1973). Dengan cara yang sederhana namun nyata, skripsi tersebut menjadi latihan awal bagi saya untuk menghubungkan refleksi iman dengan perjuangan keadilan sosial—sebuah arah yang sejak dini sudah didorong oleh keterbukaan intelektual Pastor Yong.

Baca Juga:  Diperlukan Kesadaran Akan Pentingnya Paradigma Ekologi yang Holistik

Humanisme Relasional

Secara humanis, figur Pastor Yong memperlihatkan bahwa keagungan seseorang terletak pada kemampuannya memanusiakan orang lain. Ia memperlakukan mahasiswa dan rekan kerja dengan hormat, mendengarkan dengan sabar, dan memberi ruang bagi pertumbuhan orang lain. Dalam dunia yang sering dikuasai oleh kompetisi dan ambisi, kehadirannya menjadi pengingat bahwa relasi antarmanusia harus berakar pada empati dan solidaritas.

Humanisme yang ia hidupi bukan humanisme abstrak, melainkan humanisme relasional: pengakuan bahwa martabat manusia tumbuh dalam perjumpaan. Ia hadir sebagai guru sekaligus sahabat dialog, sebagai pemimpin sekaligus pelayan.

Warisan dan Harapan

Pada usia ke-69 tahun, kehidupan Pastor Yong dapat dibaca sebagai narasi panggilan yang terus diperbarui. Ia memberi contoh bahwa intelektualitas, spiritualitas, dan pelayanan sosial tidak harus dipisahkan. Dalam integrasi ketiganya, seorang manusia menemukan kepenuhan makna hidup.

Refleksi atas ulang tahunnya mengundang saya bertanya tentang warisan apa yang ingin saya tinggalkan. Jika hidup adalah sebuah teks, maka Pastor Yong telah menulisnya dengan tinta kebijaksanaan, kasih, dan pengabdian. Jejak Hati Kudus yang ia hidupi menginspirasi generasi berikutnya untuk mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan melayani dengan rendah hati.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Di tengah segala kelemahan dan keterbatasan manusiawinya, keteladanan Pastor Yong menunjukkan bahwa kesucian bukanlah kesempurnaan tanpa cela, melainkan kesetiaan dalam perjalanan. Pada momen ulang tahunnya yang ke-69 ini, saya memanjatkan doa terbaik: semoga beliau senantiasa dianugerahi kesehatan, kekuatan, dan sukacita dalam pelayanannya, serta terus siap sedia untuk semua karya baik (ad omne opus bonum paratus semper) yang dipercayakan kepadanya dan menjadi teladan hidup yang menginspirasi banyak orang. Semoga.

Oleh: Herkulaus Mety, S. Fils, M. Pd (Alumnus STF-Seminari Pineleng dan IAIN Manado) 

Daftar Pustaka

  1. Aristotle. (2009). Nicomachean Ethics (W. D. Ross, Trans.). Oxford University Press.
  2. Aquinas, T. (1981). Summa Theologica (Fathers of the English Dominican Province, Trans.). Christian Classics.
  3. Chevalier, J. (1995). The Sacred Heart of Jesus. MSC Publications.
  4. Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. Continuum.
  5. Giroux, H. A. (1988). Teachers as Intellectuals: Toward a Critical Pedagogy of Learning. Bergin & Garvey.
  6. Hadot, P. (1995). Philosophy as A Way of Life. Blackwell.
  7. MacIntyre, A. (2007). After Virtue (3rd ed.). University of Notre Dame Press.
  8. Rahner, K. (1978). Foundations of Christian Faith. Crossroad.
  9. Gutiérrez, G. (1973). A Theology of Liberation. Orbis Books.
  10. Rahner, K. (1978). Foundations of Christian Faith. Crossroad.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles