HIDUPKATOLIK.COM – Kardinal Francis Arinze, Prefek Kongregasi Liturgi, mengingatkan agar tidak melakukan perubahan liturgi secara sembarangan. Dalam sebuah wawancara dengan media konservatif “Per Mariam”, ia mengatakan bahwa jika liturgi dirayakan dengan baik, maka perayaan tersebut menunjukkan apa yang dipercayai oleh Gereja. Jika seorang imam menambahkan bagian misa yang tidak disetujui atau menghilangkan unsur yang telah ditetapkan, maka ia merugikan Gereja.
“Sekalipun maksudnya mungkin baik – mungkin ia berpikir: `Saya ingin membuat misa lebih menarik. Saya ingin membuatnya, seperti yang dikatakan sebagian orang, lebih personal`- itu adalah kesalahan. Ia keliru.” kata Arinze.
Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan bagaimana sebuah ibadat dipandang oleh orang yang bukan Kristen: “Seorang imam yang merayakan misa dengan kurang serius akan memberikan kesan yang sangat buruk tentang kekristenen kepada seorang non-Kristen yang kebetulan hadir karena ia tidak merayakan misa sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan iman kita.” Setiap orang yang menyaksikan seharusnya melihat bahwa sesuatu yang sangat agung sedang dirayakan dalam liturgi.
Kardinal asal Nigeria itu membandingkan liturgi dengan lagu kebangsaan. “Bagaimana mungkin seseorang mempersonalisasi lagu kebangsaan?” tanyanya. “Teksnya sudah tetap. Kita tidak bisa begitu saja menambahkan kata-kata baru, sekalipun kita ahli bahasa. Apalagi dalam misteri-misteri suci?” Karena itu, siapa pun yang terlibat dalam liturgi hendaknya selalu menyadari maknanya dan merayakannya dengan semangat kedewasaan, kesungguhan dan rasa hormat.
Francis Arinze lahir pada tahun 1932 di Nigeria. Pada tahun 1965, ia diangkat oleh Paus Paulus VI sebagai uskup koajutor Onitsha, sehingga ia dapat mengikuti sesi terakhir Konsili Vatikan II pada tahun yang sama. Arinze merupakan salah satu dari empat Bapa Konsili yang masih hidup. Pada tahun 1967 ia menjadi Uskup Agung Onitsha. Tahun 1984 ia pindah ke Kuria Roma sebagai Presiden Sekretariat untuk Non-Kristen, dan pada tahun 1985 ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II.
Sejak 2002 hingga 2008, ia menjabat sebagai Prefek Kongregasi Liturgi. Dalam peran ini, ia mendorong agar lebih banyak misa dirayakan dalam Bahasa Latin. Menurutnya, bahasa memang bukan pusat misa kudus, tetapi tetap “sangat penting untuk perayaan yang indah.”

Dari Vienna Austria, Bene Xavier (Kontributor)








