spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Palangka Raya Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF: Saya Belajar Mendengar sebelum Memutuskan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Ia ditempatkan oleh Paus Yohanes Paulus II untuk menjadi gembala di provinsi yang pernah ditetapkan langsung oleh Presiden Soekarno sebagai bagian dari arah besar pembangunan bangsa. Di tanah inilah kemudian Gereja bertumbuh, perlahan namun pasti, menapaki sejarahnya sendiri.

Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF bertemu dengan Paus Benediktus XVI di Vatikan.

Di tengah perjalanan panjang itu, sosok Uskup Palangka Raya, Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF, hadir sebagai gembala yang menyaksikan sekaligus merawat pertumbuhan tersebut dari dekat. Dalam refleksi 25 tahun kegembalaannya, ia membuka kisah tentang bagaimana doa, kebersamaan, dan keberanian mendengarkan menjadi fondasi setiap langkah pelayanan. Berikut petikan wawancaranya:

 Monsinyur, setelah 25 tahun menggembalakan umat di Palangka Raya, prinsip apa yang paling Monsinyur pegang dalam setiap keputusan?

Tentu saya selalu kembali pada doa. Bagi saya, keputusan tidak boleh lahir dari ketergesa-gesaan. Harus ada ruang hening, ruang untuk mendengarkan kehendak Tuhan. Dari sana saya belajar, bahwa seorang gembala tidak boleh berjalan sendirian. Karena itu, saya mengajak Kuria Keuskupan, para imam, bahkan umat untuk ikut berbicara. Saya percaya, Roh Kudus bekerja dalam kebersamaan itu.

Jadi, keputusan-keputusan besar tidak pernah diambil secara pribadi?

Saya berusaha menghindari itu. Setiap usulan dari umat, entah soal sekolah, rumah sakit, atau fasilitas pastoral, tidak langsung saya jawab “ya” atau “tidak”. Saya bertanya dulu: apakah ini sungguh kebutuhan umat? Apakah memungkinkan? Siapa yang akan mengerjakan? Bagaimana pembiayaannya? Semua itu harus melalui proses. Kalau sudah didoakan, direnungkan, dan dibicarakan bersama, barulah kami melangkah. Di situ saya merasa lebih mantap, karena ini bukan lagi keputusan pribadi, tetapi keputusan bersama.

Ada contoh sederhana menggambarkan cara kerja itu?

Ada. Baru-baru ini umat lansia menyampaikan kepada saya, “Bapa Uskup, kami kesulitan naik ke lantai atas kapel, bagaimana kalau ada lift?” Itu tidak langsung saya putuskan. Saya bawa ke rapat, saya tanyakan kepada para pastor. Kami mempertimbangkan bersama. Dan akhirnya kami sepakat: ya, ini perlu. Karena semua orang pada akhirnya akan menjadi lansia. Hal-hal kecil seperti ini menunjukkan bahwa Gereja itu mendengarkan.

Baca Juga:  “Akar Kuat, Tunas Baru”

Banyak yang melihat gaya kepemimpinan Monsinyur sangat partisipatif. Apa yang membedakannya dengan demokrasi biasa?

Demokrasi sering berhenti pada voting semata di mana suara terbanyak yang menang. Tetapi kepemimpinan partisipatif tidak demikian. Semua pendapat didengar, ditimbang, dirangkum. Lalu dicari mana yang paling baik dari semuanya. Jadi bukan soal menang atau kalah, tetapi soal menemukan kebaikan bersama. Dengan cara ini, tidak ada yang merasa ditinggalkan. Semua merasa ikut memiliki.

Dalam praktiknya, apa yang membuat model kepemimpinan ini bisa berjalan selama 25 tahun?

Pertemuan. Saya belajar bahwa pertemuan itu bukan sekadar formalitas, tetapi ruang hidup Gereja. Karena itu saya membuat ritme dan program terukur di mana ada rapat Dewan Keuskupan setiap bulan, pertemuan komunitas, pertemuan para pastor, dan Rapat Kerja Keuskupan setiap tahun. Dari situlah semua hal dibicarakan, diputuskan, dan ditindaklanjuti. Tanpa pertemuan, kebersamaan itu mudah retak. Saya belajar ini sewaktu saya berkarya di Komisi Liturgi KWI dan Caritas Internasional ketika ada pertemuan di Bangladesh.

Mgr Piero Pioppo dan Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF bersama umat setelah Misa 25 tahun Keuskupan Palangka Raya. [Dok.Pribadi]
Kalau melihat ke belakang, apa yang paling Monsinyur syukuri dari perkembangan keuskupan ini?

Saya bersyukur melihat pertumbuhan yang nyata. Dulu jumlah imam sangat sedikit, sekarang sudah jauh bertambah. Paroki juga berkembang dari belasan menjadi puluhan. Tetapi yang paling saya syukuri bukan itu. Yang paling penting adalah iman umat yang mulai bertumbuh. Karena kalau hanya membangun gedung, itu tidak cukup. Gereja harus membangun manusia.

Baca Juga:  25 Tahun Episkopal Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF: Tanggung Jawab Seorang Uskup

Monsinyur dikenal sangat detail, bahkan dalam desain bangunan. Apa maknanya?

Saya percaya, iman bisa diwartakan melalui banyak hal, termasuk simbol. Misalnya kubah yang ada di gedung keuskupan ini. Kubah ini bukan sekadar ornamen saja. Ada makna teologis di sana yang berbicara Trinitas, Inkarnasi, dan Ekaristi. Bahkan meja, taman, atau ornamen kecil di area keuskupan ini bisa menjadi sarana edukasi iman dan pengetahuan umum. Saya ingin orang yang datang tidak hanya melihat, tetapi juga bertanya dan merenung.

Lalu bagaimana pengalaman Monsinyur membangun relasi dengan masyarakat Dayak?

Saya datang sebagai orang luar. Karena itu saya harus belajar. Saya banyak berdialog dengan imam-imam Dayak, mendengarkan mereka, belajar dari mereka. Saya tidak merasa harus tahu semuanya. Justru dengan bertanya, saya menemukan jalan. Prinsip saya sederhana di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dari situ saya melihat bahwa budaya Dayak memiliki kekayaan yang luar biasa untuk memperkaya iman.

Apakah inkulturasi iman ke dalam budaya lokal itu sulit?

Tidak sulit, kalau kita mau masuk dengan hati. Yang membuat sulit adalah kalau kita menutup diri. Kalau kita mau mendengarkan, berdialog, dan menghargai, kita akan menemukan banyak titik temu. Iman tidak harus mematikan budaya, justru bisa menghidupkannya.

Lalu apa tantangan terbesar dalam mengakarkan iman Katolik?

Tantangan terbesar adalah ketika iman hanya dilihat dari luar. Misalnya kualitas sekolah atau fasilitas. Itu penting, tetapi bukan inti. Iman harus menyentuh hati. Orang perlu diajak melihat sesuatu yang lebih dalam—relasi dengan Tuhan, makna hidup, dan harapan yang melampaui hal-hal sementara. Kalau itu mulai disadari, iman akan bertumbuh.

Baca Juga:  Uskup Tri Harsono Lantik Kuria Keuskupan Bogor yang Baru

Dalam kepemimpinan, apa prinsip yang paling Monsinyur pegang sampai sekarang?

Saya selalu percaya bahwa perkembangan pribadi lebih penting daripada pekerjaan. Kalau orang merasa dihargai, disapa, dan diperhatikan, maka pekerjaan akan berjalan dengan sendirinya secara maksimal. Karena itu saya lebih suka pendekatan personal. Saya ingin setiap orang merasa menjadi bagian dari Gereja ini, bukan sekadar pelaksana tugas.

Sebagai contoh kecil, setiap ulang tahun karyawan di keuskupan ini dirayakan dan mereka boleh mengundang keluarga untuk datang ikut serta. Kami ada tiup lilin, dan makan bersama. Semua dirayakan tanpa terkecuali.

Apa harapan Monsinyur ke depan?

Saya berharap Keuskupan Palangka Raya terus bertumbuh dalam iman, bukan hanya dalam jumlah. Saya juga berharap semangat kebersamaan tetap dijaga. Apa yang sudah dibangun bersama ini harus terus dilanjutkan. Karena Gereja bukan milik satu orang, tetapi milik kita semua.

Terakhir, bagaimana Monsinyur memaknai perjalanan kegembalaan selama 25 tahun ini?

Semua ini adalah buah dari kasih karunia Allah. Permanere in Gratia Dei ‘Tetap Tinggal dalam kasih karunia Allah’ itu hidup di Keuskupan ini dalam semua karya pembangunan. Saya tidak pernah merasa berjalan sendiri. Tuhan selalu hadir melalui umat, para imam, dan semua yang terlibat. Kalau hari ini kita melihat hasilnya, itu bukan karya saya pribadi. Ini adalah karya bersama dan terutama karya Allah yang bekerja dalam kebersamaan kita.

Felicia Permata Hanggu dari Palangka Raya

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.17, 26 April 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles